Aku tak selalu mendapatkan apa yang aku sukai. Karenanya, aku selalu belajar untuk menyukai apa yang telah aku dapatkan…
My name is UuL. Nick name sih. Beberapa orang bilang, "Sounds wierd…". But, it’s ok lah. UuL diambil dari pengulangan suku kata nama awalku, Ulisari. Nama tengah ku, Eslita, singkatan nama papa dan mama. Jadi, kita bertiga, k’Sisil, aku, dan Titin, sama-sama punya nama tengah Eslita. Nice name, isn’t it?
Trus, nama belakang ku, atau lebih tepatnya marga, Simatupang. Nggak jelas dari mana asalnya. Soalnya, papa juga bukan orang Batak. Padahal, menurut adat dan kebiasaan orang Batak, untuk mengenakan marga, harus ada upacara adat dulu. Setahu aku sih, papa nggak pernah pake acara adat-adatan segala untuk dapetin marga Simatupang itu. Apapun itu, aku bangga kok pakai marga Batak. Apalagi mama berasal dari suku Karo (Batak juga).
Balik lagi ke nama ku, UuL. Keluarga ku punya kebiasaan untuk mengulang-ulang suku kata dalam nama yang kemudian dijadikan nama panggilan. Misalnya, kakak ku, k’sisil. Nama aslinya Silvana. Trus, suku kata awal namanya diulang, sehingga menjadi Sisil. Nah, kalau adik ku agak beda dikit. Namanya Christine, trus suku kata akhir namanya diulang. Sehingga, dia dipanggil Titin.
Emang sih, nama ku yang paling ga keren dan kata orang terlalu Batak bila dibanding dengan nama kakak dan adik ku. "Batak kali pun!" Tapi, it doesn’t matter lah. Soalnya, nama ku itu yang bikin Ompung (baca:Opung) Simatupang itu. Sebagai penghormatan, kata papa. untuk diketahui, nama kakak ku, yang bikin mama. Sementara, nama adik ku, yang bikin papa. Jadi, jatah mereka udah abis, trus diserahin ke ompung deh. Nah lo…
Berhubung karena Ompung yang bikin, nama ku jauh lebih diinget sama mereka ketimbang nama kakak dan adik ku. "Ompung, ini Sari," kata ku kalau aku nelpon ke rumah Ompung. Dia nggak pernah manggil aku Uli apalagi UuL. Dan cuma mereka berdua, Ompung Doli (opung laki-laki) dan Ompung Boru (opung perempuan) yang memanggil ku dengan sebutan Sari.
Nah, balik lagi ke UuL. Nama UuL, cuma beredar di kalangan keluarga aja. Bahkan, para sepupu-sepupu ku yang jail dan iseng, paling doyan melesetin namaku dengan sebutan, Paul. Heran…
Trus, temen-temen ku di tim tamborin (pas di Medan dulu) juga pada manggil dengan sebutan k’UuL. Belakangan, nama UuL juga mulai membooming, hi hi hi, di kantor lama ku. Bukan kenapa-kenapa, soalnya inisial nama ku di setiap berita yang kutulis berkode UuL. Ya, dipanggillah aku dengan sebutan UuL.
Pernah, waktu aku ke Sibolga, aku menelpon Om ku, adikknya papa, ke kantornya. Ternyata, Om ku nggak ada. Aku tinggalin pesen ke temennya. "Bilang aja, ponakannya, UuL nelpon," kata ku, kala itu. Trus, si orang yang menjawab telpon bilang begini, "Apa, UuL? Nama apa itu? Jelek kali pun!" Huh, sebel…
Ya sudahlah. Aku nggak pernah nyesal punya nick name UuL. Buktinya, di friendster ini, aku bikin nama ku gede-gede dengan sebutan -UuL-.
Thanks Ompung…
Ruangannya tidak terlalu besar, pengunjungnya juga tidak terlalu ramai. Namun, cukup pantas bila disebut kasino kelas eksekutif. Buktinya, pengunjung yang boleh masuk ke sana sangat terbatas. Hanya orang-orang sekelas Adiguna Sutowo, mantan Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) Abdullah Puteh, mantan Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Nazaruddin Syamsudin, dan anggota KPU Mulyana W Kusumah, yang dapat masuk kedalamnya.
Ingin rasanya masuk ke sana, tapi setelah dipikir-pikir, lebih baik tidak usahlah… Tapi, kalau ada yang hendak ke sana, harap menyediakan sejumlah uang dan langsung menuju ke blok K Rutan Salemba. Kalau aku, aku cukup mendengar ceritanya dari seorang teman baik papa yang sudah delapan bulan ini menginap di sana. Aku sebut menginap, karena memang sel tempat si Om, sebut saja demikian, lebih mirip bila disebut kos-kosan kelas elit.
Ukurannya tidak terlalu besar, namun cukup menampung perabotan seperti tempat tidur pegas, lemari pakaian, lemari es, penyejuk ruangan, dll. Aku sebut kos-kosan kelas elit, karena memang elit. Kosan ku aja nggak pake penyejuk ruangan dan lemari es.
Belum lagi tarif sewanya. Kamar kosku yang ukurannya 3×4 dengan kamar mandi di dalam, dikenai sewa Rp350.000 per bulan (sudah termasuk biaya listrik, gas dan air). Sementara, tarif "kamar" si Om, kalau dihitung-hitung bisa lebih dari satu juta sebulan. Membawa masuk lemari es, bayar Rp150.000/bulan. Bawa penyejuk ruangan, mesti bayar Rp200.000/bulan. Biaya sewa "kamar" Rp500.000/bulan. Belum lagi biaya bawa TV, tempat tidur pegas, lemari pakaian, telepon seluler,dll. Hitung-hitungan matematika ku mendadak hilang. Heran…
Tapi, kalau aku yang ngekos di sana, nggak sanggup, dan mudah-mudahan nggak. Balik lagi ke kisah si Om. Si Om masuk ke Rutan Salemba setelah salah satu rumahnya di kawasan Tangerang yang dijadikan pabrik inex digrebek oleh pihak kepolisian pada bulan Mei 2005 lalu. Kata papa, omzet si Om hasil dagang barang haram itu udah sampai milyaran. Wajar…
Wajar, karena si Om juga mengatakan bahwa penggerebekan sudah masuk dalam perkiraannya. "Coba bayangin, saya udah untung sekian em (milyar-Red.). Paling-paling kalau ketangkep, buat bayar pengacara, biaya perkara, sogok hakim dan jaksa, biaya nginep di Salemba, mungkin hanya beberapa ratus juta rupiah. Toh saya masih untung," ujar si Om menjawab pertanyaanku. "Iya juga sih," pikirku.
Kata papa, si Om akan keluar dari "kosan"nya itu sekitar lima bulan lagi. "Ya, dagang lagi abis dari sana. Tapi ntar omzetnya bakal lebih besar, karena selama di Salemba, dia mau memperbesar jaringan peredarannya," kata papa kepadaku.
Oiya, aku lupa bilang kalau selama di Salemba, si Om juga buka bisnis bersama temannya, sesama penghuni blok Q. Aku ga tau apa aja bisnisnya di sana, yang pasti di sana dia membuka cafe yang cukup berkelas, dagang pulsa telepon seluler. Hasilnya lumayan, kata si Om. Sampai-sampai, ada seorang temannya yang omzetnya sehari sampai Rp1 juta. Gila, dagang apaan ya?
Tapi, biar semuanya pada tau, voucher telepon selular cukup murah di sana. Voucher Mentari yang Rp100.000 dijual Rp75.000 dan voucher Simpati yang Rp100.000 dijual Rp80.000. Sempat terbesit di pikiranku untuk dagang pulsa, tapi supplai-nya dari Rutan Salemba. Hi hi…
Ya, begitulah. Emang zaman udah edan. Aku mesti pontang-panting kerja dari pagi ke malam, kadang ampe pagi lagi, tapi "omzet" ku nggak bisa Rp1 juta per hari. Hiks…
Siang itu, sebut saja Devi (25), bukan nama sebenarnya. Minggu (23/10) siang, Devi tampak bergegas meninggalkan kediamannya di kawasan Jati Bening, Bekasi. Sesekali matanya tertuju ke arah jam tangannya. Perempuan muda ini kuatir kalau-kalau jam besuk di Rumah Tahanan (Rutan) Salemba berakhir.
Hm… Ternyata Devi tiba tepat pada waktunya. Jam di tangannya baru menunjukkan pukul 12.45 Wib. "Para tahanan dan narapidana lagi apel. Jam 13.00 Wib baru bisa ditemui," kata salah seorang sipir kepadaku. Berarti, kami harus menunggu 15 menit lagi.
Sambil memegang sebuah bungkusan plastik berwarna hitam yang berisi mi instan, kerupuk, dan sirup, Devi bercerita kepadaku. "Suami saya divonis satu tahun tiga bulan. Padahal dia cuma bawa satu butir inex," ujar perempuan yang baru ku temui di pintu masuk Rutan Salemba itu.
Sambil menunggu, Devi mencurahkan isi hati dan kekesalannya kepadaku. Belakangan, aku baru ngeh dengan kekesalannya itu. Bayangkan, untuk dapat menemui suaminya yang sudah lima bulan ini menghabiskan hari-harinya di rutan milik negara itu, sedikitnya Devi harus merogoh koceknya sekitar Rp50.000. Pertama, untuk masuk melalui pintu depan rutan Devi harus membayar Rp10.000. Agak mahal memang, karena ini pintu khusus. Setiap pengunjung yang akan masuk ke dalamnya nggak perlu ngantri lama-lama. "Kalau dari pintu sana (sambil menunjuk pintu sebelah kanan), memang cuma bayar Rp2.000. Tapi ngantrinya lama," tutur Devi.
Untuk suami tercinta, Devi rela. Setelah masuk dari pintu utama, Devi mesti masuk ke ruangan para sipir yang oleh penghuni rutan disebut KAM 1. Di sana, seluruh barang bawaan Devi diperiksa oleh sipir dibantu oleh para Tamping Kantor yang notabene adalah para penghuni rutan yang dipekerjakan untuk memanggil penghuni rutan lainnya ketika keluarga datang membesuk. Kali, ini Devi harus membayar Rp5.000. "Ini uang administrasi. Kalau yang dipanggil dua orang, ya mesti bayar Rp10.000," kata seorang sipir perempuan kepadaku.
Dua puluh menit berlalu, akhirnya suami Devi pun keluar dan langsung memeluknya. Rasa rindu begitu besar tampak terlihat di mata keduanya. Padahal, hampir setiap minggu Devi datang mengunjungi suaminya itu.
Tak terasa, jam sudah menunjukkan pukul 15.00 Wib. Devi harus meninggalkan suaminya. Setelah berpelukan, sang suami memasuki selnya kembali dan Devi pun meninggalkan "rumah" yang harus terus dikunjunginya hingga satu tahun ke depan.
Devi kembali bercerita kepadaku. "Saya harus ngasi lagi Rp35.000 kepada suami saya," ujarnya. "Untuk beli rokok atau jajan ya?" tanyaku. "Bukan. Untuk masuk kembali ke dalam sel," ujarnya menjelaskan. Devi mengatakan, sebelum kembali ke dalam sel, suaminya akan melewati beberapa pintu lagi. Dan di setiap pintu-pintu itu, ada penjaga yang minta kutipan uang. "Gila!" pikirku. Uang hangus setiap kali besuk memakan sekitar Rp50.000. Berarti sebulan Rp200.000. Lalu, kalau setahun Rp4.800.000. Gila!
Belum lagi biaya-biaya lainnya. "Untuk biaya perkara selama persidangan saja saya udah keluar uang Rp20 juta. Lalu, saya mesti bayar Rp2 juta lagi setelah suami saya divonis. Supaya suami saya ditahan di Salemba saja," katanya. Sebab, kalau nggak bayar, kata devi, suaminya bisa dibuang ke daerah lain.
Nggak cukup itu aja, setiap bulannya, Devi harus merogoh sebesar Rp250.000 per bulan sebagai pengganti uang kos di sel rutan Salemba. Belum lagi uang "jajan" selama masa tahanan. "Suami saya kan harus beli rokok, sabun, shampo," ujarnya.
Ya, begitulah, berapa dan apapu harganya, demi orang yang paling dikasihi, siapa yang keberatan, walau mesti ngutang sana-sini. Setuju?
BOSS DAN PELAMAR
Boss : "Nama saudara siapa?"
Pelamar : "Prawojo pak …"
Boss : "Coba ceritakan tentang keluarga saudara !!…"
Pelamar : "Saya 2 bersaudara, adik saya masih kuliah di Jogya…, Orang Tua saya tinggal di Surabaya…, Kakek dan nenek dari Bapak tinggal di Solo…, Kakek dan nenek dari Ibu tinggal di Semarang…, Paman dan Pakde semua tinggal di Tegal…"
Boss : "Apakah saudara dapat berbahasa Inggris?"
Pelamar : "Yes .. sir .."
Boss : "Now tell me about your family in English !!…"
Pelamar : "Sorry sir .. I don’t have family in English…, they’re all living in Indonesia"
TEACHER AND STUDENT (1)
Teacher : "Where were u born?" Student : "Singapore, Sir."
Teacher : "Which part?" Student : "All of me, Sir."
TEACHER AND STUDENT (2)
A teacher was asking her class: "What is the difference between ‘unlawful’ and ‘illegal’ ?" Only one hand shot up. "Ok, answer, Joan," said the teacher. "’unlawful’ is when u do something the law doesn’t allow and ‘ill-egal’ is a sick eagle… sir"
TOOTH EXTRACTION
Patient : "How much to have this tooth pulled?" Dentist : "$90.00"
Patient : "$90.00 for just a few minutes work???"
Dentist : "I can extract it very slowly if you like…"
NUBRUK BULE
Seorang cewek yang bahasa Inggrisnya kacau-balau suatu hari nubruk seorang bule ketika jalan-jalan di mall.
Cewek : "I’m sorry."
Bule : "I’m sorry, too."
(Si cewek bingung. Doi ngerasa harus ngejawab tuh bule.)
Cewek : "I’m sorry, three."
Bule : "What are you sorry for?"
Cewek : "I’m sorry, five."
PEMALAK
Seorang polisi menangkap seorang pemalak yang juga peminum berat. Doi sangat meresahkan masyarakat di sekitarnya.
Polisi : "Kenapa kamu malak?"
Pemalak : "Terus terang, saya malak supaya dapat uang untuk beli minuman keras."
Polisi : "Lalu kenapa kamu minum?"
Pemalak : "Supaya dapat keberanian buat malak."
PERPUSTAKAAN
Di tengah malam, telepon di rumah seorang petugas perpustakaan bernama Bobi berdering. "Selamat malam. Maaf mau tanya, perpustakaan buka jam berapa ya?" tanya suara seorang lelaki di telepon. "Ya ampun, Anda menelepon tengah malam begini hanya ingin tahu kapan perpusatakaan buka?" tanya Bobi. "Tapi ini sangat penting", kata penelepon. "Jam sembilan pagi", kata Bobi. "Jam sembilan??? Tidak bisa lebih pagi lagi?" tanya si penelepon. "Memangnya kenapa Anda ingin datang pagi-pagi?" tanya Bobi. "Siapa bilang saya ingin datang? Saya ingin keluar dari perpustakaan ini…"
BIS
Suatu malam seorang lelaki yang sedang mabuk naik bis dan duduk di sebelah perempuan berumur. Si nenek memandangnya dari atas ke bawah, kemudian berkata, "Tahu nggak, kamu akan ke neraka!" Si lelaki melompat kaget dan berteriak, "Stop…kirriii. Salah naik bis!!!."
DARI MANA DULU ?
Penjaga kolam menghampiri seorang anak lelaki dan menegurnya, "Kamu tidak boleh kencing di kolam renang ini, mengerti?!" Dengan wajah tak mengerti si anak berkata, "Tapi semua orang kan pada kencing di kolam??" Penjaga mencoba bersabar, "Iya, memang. Tapi kencingnya tidak dari atas papan loncat."
A French teacher was explaining to her class that in French, unlike English, nouns are designated as either masculine or feminine. "House" is feminine - "la maison"
"Pencil" is masculine - "le crayon".
A student asked "What gender is ‘computer’?" Instead of giving the answer, the teacher split the class into two groups: male and female. And asked them to decide for themselves whether "computer" should be a masculine or a feminine noun. Each group was asked to give four reasons for their recommendation.
The men’s group decided that "computer" should definitely be of the feminine gender ("la computer"), because:
1. No one but their creator understands their internal logic
2. The native language they use to communicate with other computers is incomprehensible to everyone else
3. Even the smallest mistakes are stored in long-term memory for possible later review
4. As soon as you make a commitment to one, you find yourself spending half your salary on accessories for it.
The women’s group, however, concluded that computers should be masculine ("le computer"), because:
1. In order to do anything with them, you have to turn them on.
2. They have a lot of data but still can’t think for themselves.
3. They are supposed to help you solve problems, but half the time they ARE the problem, and
4. As soon as you commit to one, you realize that if you had waited a little longer, you could have got a better model.
The women won.