Jan
25
Filed Under (Uncategorized) by bajubiru on 25-01-2006

Semalam, sepulang dari kantor, tanpa ganti baju aku langsung duduk di depan televisi. Kak Sisil (my sister-Red.) nampak lagi asik nonton DVD yang baru dibelinya. Judulnya, Memoirs of a Geisha. Lumayan bagus, menurutku. Hanya saja, ada beberapa hal yang terlihat aneh. "Masa film dengan setting-an Jepang, pemerannya orang Cina semua. Tampang Cina dan Jepang kan beda!" kritikku.

Tapi, ada satu hal dari film itu yang mengingatkan aku akan diriku. Perlu diingat,Images1  bukan pekerjaannya. Namanya Sayuri. Adalah pemeran utama dalam film yang berdurasi lebih dari dua jam itu. Sayuri, sebelum menjadi seorang geisha adalah seorang gadis kecil yang jauh sekali dari karakter seorang geisha. Padahal, untuk jadi seorang geisha, dia mesti pinter dandan, bertata krama baik, pandai menari, dll.

Jadi inget akan diriku sekitar enam tahun yang lalu. Percaya nggak percaya, dulu, aku lebih mirip seorang laki-laki daripada seorang perempuan. Rambut pendek, nggak pernah pake rok, doyan main mobil-mobilan, manjat pohon, pokoke jauh dari gambaran seorang wanita sejati. Jadi, malu…

Semuanya berawal ketika aku mulai duduk di bangku kuliah (semester satu-Red.) dan mulai gabung di Youth Medan Plaza (miss u all). Entah kenapa, yang pasti bukan karena rencanaku, aku bergabung di dalam tim tamborin. Aku sempat terheran-heran. "Kok bisa?" pikirku.

Images Ya sudahlah. Yang jelas, aku berubah 180 derajat dari Uul yang dulu. Jadi lebih feminim, rambut mulai dipanjangin, bisa dandan (meski cuma bisa pakai lipstick, eye shadow, blush on dan mascara), lebih rajin pakai rok walau cuma seminggu sekali (itu juga karena nari mesti pakai rok), dan yang terpenting bisa nari. Awalnya sih sulit, but I just trying to do my best.   

Tapi ada yang paling penting nih. Aku akan kembali menari! Akhirnya, setelah hampir dua tahun nggak pernah nari lagi di gereja. Aku sih sempet nggak pede. Bukan kenapa-kenapa, masalahnya aku nggak punya banyak waktu buat latihan nari. Mana, aku udah banyak lupa dengan gerakan-gerakan yang jumlahnya lebih dari 200 jenis itu. Ya, sudahlah. "Yang penting kan niatnya," ujarku menghibur diri.

Itu juga sebabnya, pas ibadah Youth Senayan, Sabtu (21/1) lalu, pas aku disodorin formulir pelayanan, tanpa tedeng aling-aling, aku langsung mengisinya dan tanda tangan. Nggak lupa, nyantumin check list di kotak penari. Thanks God.

Jan
25
Filed Under (Uncategorized) by bajubiru on 25-01-2006

It’s late at night and I still at the office. Phew… As usual, ada orang yang baru bersedia diwawancara last minute menjelang deadline. Mau tidak mau, dijabanin. Nasib…

Jam di tangan ku menunjukkan pukul 18.00 dan aku harus segera balik ke kantor. "Beritanya ditunggu ya, Li," kata Pemred ku. Pada dasarnya, nggak masalah. Tapi jadi masalah ketika halte busway yang di Harmoni sedang direhab. Terpaksa deh jalan ke halte Sawah Besar. Lumayan juga, capeknya. Sampai di halte, beli tiket, ngantri. Lumayan lama, mungkin sekitar 40 menit-an. Lumayan…

Images3Bus pertama lewat. Kedua, lewat juga. Ketiga, lewat… "Trus aja lewat," pikir ku dalam hati. Akhirnya, yang dinanti-nanti datang juga. Si "Gendut Merah" itu akhirnya nongol juga. Kabar baiknya, si "Gendut Merah" itu datang dalam keadaan kosong. Thanks God.

Bisa ditebak. Aku nggak dapat tempat duduk. Tapi, lumayanlah dapat tempat berdiri paling depan, di samping supir. Jadi, nggak perlu desak-desakan dengan penumpang lain.

Kurang dari setengah jam, akhirnya aku nyampe di halte Gelora Bung Karno. Hatiku berteriak, "Akhirnya, nyampe juga." Keluar dari bus, aku langsung jalan menuju barrier yang ada di dalam halte. Belum jauh berjalan, tiba-tiba seorang ibu setengah baya menarik tangan ku.

Kontan aja aku kaget. Takut copet, takut dihipnotis, takut… "Kamu mau nyebrang ke kiri (ke arah Senayan-Red.)?" ujar si ibu kepada ku. Sambil terheran-heran dan bertanya-tanya, aku menjawab, "Ya ibu. Emangnya kenapa?" "Saya boleh kan nanti pas di atas jembatan penyeberangan, memegang tangan kamu. Saya mau ke Istora Senayan," katanya dengan nada takut. "Maksudnya?" ujar ku kebingungan.

Images2 "Saya phobia ketinggian. Tadi saja, waktu naik ke atas bis ini saya manjat. Nggak lewat jembatan penyeberangan. Saya bilang aja sama petugasnya kalau saya phobia ketinggian," jelasnya. Terang aja aku terpana, terheran-heran dan berdecak kagum. Masalahnya, si ibu itu seumuran mama. Mungkin sekitar 50-an tahun. "Manjat?" pikirku sambil berdecak kagum. Ya, itulah. Aneh memang. Tapi harus dimaklumi. 

Ketika kami masih di jembatan landai, dia masih belum terlihat ketakutan. Tetapi, begitu sampai tepat di atas jembatan penyeberangan, dia mulai menjerit histeris. "Ya Tuhan. Aku harus segera sampai ke kantor. Pemred menunggu tulisanku," doaku dalam hati. Si ibu terus saja berteriak sambil memegang lenganku dengan kencang. Untung saja aku pakai jaket tebal, jadi nggak begitu terasa sakit cengkraman tangan akibat ketakutannya itu.

"Ibu tutup mata aja. Pegang tangan saya yang kencang. Nggak jauh lagi kok, ntar lagi kita turun," ujarku untuk menenangkannnya. Tapi, tetap saja dia ketakutan. "Seumur hidup saya belum pernah naik tangga atau jembatan," akunya kepadaku.

"Wah, ajaib juga. Ternyata hari gini masih ada orang yang belum pernah naik tangga seumur hidupnya. Yang jelas lagi, dia pasti belum pernah naik pesawat terbang. Kalau pernah, pasti yang ada di sebelahku ini pasti bukan manusia, tetapi…," pikirku dalam hati.

Sambil berjalan, aku mencoba mengajak dia ngobrol. "Ibu mau ngapain ke Istora?" tanyaku. "Ada kebaktian," jawabnya singkat. "Kebaktian apa? Siapa yang khotbah?" tanyaku lagi. "Pak Petrus Agung," jawabnya. "Oh, Pak Petrus Agung yang dari Semarang itu kan," tanyaku lagi sambil mencoba mengakrabkan diri dan membuatnya nyaman berjalan denganku. "Iya. Kok tau?" tanyanya lagi. "Pak Petrus Agung baru-baru ini khotbah di gereja saya. Ibu gereja di mana?," kata ku menjelaskan.

"Saya di GBI Modernland (tangerang-Red.)," jawabnya. "Wah, sama dong. Tapi saya yang di JCC," jawabku lagi. Tampaknya dia lupa kalau dia baru saja melalui ketakutannya. Ya, untunglah. Aku kira, dia akan mati dalam genggamanku. Ternyata tidak. "Tapi aneh juga ya," pikirku.

Sampai di kantor, aku langsung memeriksa barang-barang bawaanku yang ada di dalam tas. Bukan apa-apa, aku masih kuatir kalau-kalau si ibu itu orang yang pura-pura phobia dan ternyata…. "Oh Lord, forgive me," I said.

Nggak kok, nggak terjadi apa-apa. Isi tasku masih lengkap. Uang yang ada dalam dompet, masih utuh begitu juga dengan dompetku. Kamera, tape dan barang-barang berharga lainnya yang ada di dalam tas ku masih utuh semua. Kesimpulannya, is ibu itu benar-benar phobia ketinggian. Bless u…

Jan
18
Filed Under (Uncategorized) by bajubiru on 18-01-2006

Tabrakan_beruntun_di_senayan_3_des_3 

Cool pic.Ck ck ck…

Jepret, jepret, jepret. Beberapa frame sempat ku abadikan begitu aku melihat bus Patas jurusan Kp.Rambutan-Grogol (langgananku) terbakar dan jadi bangkai. Refleks aja sih sebenarnya. Naluri wartawan kali ya.

Kak Lita, yang sebelumnya tepat berdiri di sampingku, lari menjauh dari TKP (tempat kejadian perkara). "Uli!" ujarnya setengah berteriak ketika melihat ku lari mendekat untuk mengabadikan peristiwa yang terjadi Desember 2005 lalu itu.

Kadang kala, aku masih bertanya-tanya sampai berapa lama lagi aku harus melakukan hal-hal seperti ini. Menerjang hujan, banjir, kebakaran. "Sama sekali nggak elit dan tak berkelas," pikirku. Tapi, apapun itu, aku enjoy kok. Cuma, nggak mungkin dilakukan untuk selama-lamanya.

Ya, sudahlah. Enjoy aja!

Jan
05
Filed Under (Uncategorized) by bajubiru on 05-01-2006

Ca8ly7cx Kalau ditanya hal gila apa yang pernah aku lakukan dalam hidup, mungkin salah satunya adalah 12 jam nongkrong di ITB. Gila! Perasaan, dulu, biar cuma 3,5 taun kuliah, nggak pernah tuh yang namanya nongkrong ampe 12 jam di kampus. Pada dasarnya, cuma kegilaan semata kok. Cuma mo ngilangin rasa penasaran aja, sehingga rela jauh-jauh datang ke bandung, pake acara bolos lagi dari kantor. Forgive me Lord…

Hasilnya, ga lulus. Senasib sama Husni. Hiks… Tapi ga papa, kita ikhlas. Soalnya, ga ada yang balik sendirian ke Jakarta, malam-malam, lewat tol Cipularang pula. Sukur deh.

Heran, akhir-akhir ini, rasanya kok semuanya berasa aneh. Ga tau kenapa. Padahal, tuntunan taun ini kan taunnya berkat 100 kali lipat. Pengen cari sesuatu yang baru, suasana baru, trus ditambah feel yang baru.

Sepertinya, ada beberapa pintu yang dihadapkan di depan ku, cuma bingung mesti ke mana, buka pintu yang mana, sambil bertanya-tanya bisa kebuka nggak pintunya. Trus, kalo dah bisa kebuka, bisa masuk ga ke dalamnya? Trus kalo dah masuk ke dalamnya, ada apa di sana? Mau ngapain? Aku sendiri ampe sekarang masih sungguh sangat amat heran.

Contoh kecil, ya petualangan 12 jam di ITB itu. Aku rela bolos dan pergi ke Bandung cuma untuk menghilagkan rasa penasaran. Nggak kepengen mengulang kesalahan yang kubuat hampir setahun yang lalu, tepatnya Februari 2005, yang juga seharusnya di Bandung. Thanks to Kak Pingkan.

Trus, tadi pagi. Ngurusin surat-surat rumah yang akan keluarga ku tempati bulan depan. Amen! Oh God… Emang sih, aku diperlakukan agak istimewa, tidak diperhadapkan dengan banyak pertanyaan dan tetek bengek, tapi tetap aja masih ada hal-hal yang harus dipenuhi. Ga mulus, sepertu yang aku bayangkan. Why Lord?

Nah, pas lagi nunggu, tiba-tiba ada telpon dari seseorang yang mengatakan, "Kami tertarik dengan tulisan Anda, dan kami ingin memuatnya di media kami. Kalau boleh kami minta nomer rekening Anda. Sekalian, kalau boleh apakah Anda punya tulisan-tulisan seperti itu lagi?" Heran, tiba-tiba ada orang yang ngomong begitu. Tapi, aku jadi teringat kembali dengan berkat 100 kali lipat itu tadi. Thanks God…

Nah, barusan Kak Kety nelpon ngajak ketemuan di Pasar Raya sekarang juga. Ya, pasti soal proyek dan pekerjaan lagi. Pada prinsipnya, aku senang. Beberapa hari ini aku banyak dapat berkat. Tapi aku ingin sesuatu yang permanen, yang kontinu dan tidak putus-putus. Ada nggak ya? Bisa nggak ya?

Ada lagi nih, barusan papa nelpon. Katanya hp ku mati. Jadi, ada orang yang nelpon ke hp mama mencari ku. Lagi-lagi, tawaran kerja. Thanks God. Tapi, ya itu tadi, aku ingin sesuatu yang tak tergoncangkan dan tak tergantikan. Emangnya, Kerajaan Allah…

Ya, aku tau kenapa. Aku mulai menyadari ini setelah aku bikin resolusi baru dengan Tuhan taun 2006 ini. Dan mungkin juga akibat pengaruh baca bukunya Choo Nam Thomas "Heaven is Soo Real" kali ya… Cara ku memandang dan menghadapi sesuatu mulai berbeda. Bagus juga.

Aku tau, Tuhan sedang ingin melihat aku terheran-heran lalu berteriak kegirangan. Aku hanya mesti menunggu waktunya kapan. Thanks God…

Jan
01
Filed Under (Uncategorized) by bajubiru on 01-01-2006

Selalu penuh kejutan demi kejutan. Begitulah keberadaan dan aktivitas Salamullah pimpinan Lia Aminuddin. Jika diibaratkan film, Lia dan jamaahnya senantiasa menyajikan sekuel-sekuel tak terduga yang menyentak. Kisahnya pun lain seperti keluar dari pakem.
   
Simak saja. Mula-mula, pada 1997, Lia mengaku mendapat wahyu dari malaikat Jibril. Kemudian, pada 18 Agustus 1998, ia memaklumatkan diri dibaiat Jibril sebagai Imam Mahdi. Diumumkannya pula bahwa anaknya, Ahmad Mukti, dibaiat sebagai Nabi Isa. Umat beragama mana yang tak terkaget-kaget dibuatnya?
   
Pengakuan Lia yang kontroversial itu dituangkannya dalam buku Perkenankan Aku Menjelaskan Sebuah Takdir (selanjutnya disingkat PAMST). Kontan saja para ulama
heboh. Hujatan pun bermunculan. Tapi, Lia dan jamaah setianya, waktu itu sekitar 100 orang, tenang-tenang saja.
   
Lia berseru bahwa ia datang bukan hanya untuk menyelamatkan bangsa Indonesia yang bergelimang dosa, melainkan juga menyelamatkan dunia. "Maka, percayalah
pada pesan-pesan yang kusampaikan," begitu Lia menyerukan.
   
Belum genap tiga tahun berselang, April 2001, Lia dan Salamullah kembali bikin heboh besar. Mereka mengadakan ritual penyucian diri melalui api. Kepada pengikut setianya, ia mengeluarkan maklumat yang terdengar aneh: "Syekh menyampaikan perintah Allah untuk menggunduli rambut dan membakar sekujur tubuh kita." Syekh adalah sebutan untuk malaikat Jibril yang diyakini Lia. Ritual penyucian api itu berlangsung 22 April 2001, di Vila Bukit Zaitun, Megamendung, Puncak, Jawa Barat, tempat aktivitas jamaah kala itu dipusatkan.
   
Kejutan berikutnya, sebagian jamaah Salamullah tak lagi menjalankan syariat Islam, meski tetap mengedepankan zikir dan kebaikan universal. Sikap itu
mereka percayai sebagai pelaksanaan petunjuk Jibril yang membawa pesan Allah. "Salah satu yang diperingatkan Allah kepada manusia saat ini adalah cara beragama. Umat beragama rajin beribadah ritual, tapi itu tak berpengaruh dalam kehidupan sehari-hari. Salat jalan, korupsi terus," begitu penjelasan Sumardiono, satu di antara jamaah setia Salamullah, kepada GATRA.
   
Seandainya argumen tadi disampaikan Lia Aminuddin, boleh jadi penjelasannya akan lebih panjang. Lia memang dikenal hangat dan amat bersemangat menerangkan seputar petunjuk-petunjuk Syekh. Semua itu selalu
disampaikan Lia dengan rangkaian bahasa indah nan memikat.
   
Namun, kini belum waktunya bagi Lia untuk bercuap-cuap. Pasalnya, sang pemimpin belum lama usai menjalani khawlat-nya selama tiga tahun. "Sampai hari ini, Bunda belum diperbolehkan bertemu orang selain anggota jamaah," kata Abdul Rachman kepada Astari Yanuarti dari GATRA, Oktober silam. Selama Lia menyepi itu, Rachman, 33 tahun, dipercaya menjadi Imam Besar Salamullah.
   
Kata Rachman, masa pengasingan bagi Bunda –sebutan bagi Lia oleh jamaahnya– adalah hukuman Allah atas dosanya di masa lalu. "Dulu Bunda seorang muslim yang
suka menjegal kegiatan orang Kristen. Dulu Bunda sama dengan kita, menganggap jalan selamat hanya lewat Islam. Karena itulah, ia dipenjara tiga tahun oleh Allah," Rachman menjelaskan.   

Bagaimana Lia Aminuddin sampai "bertemu dengan Jibril", dan akhirnya menghimpun Salamullah? Syahdan, semua itu dimulai dari sebuah benda bercahaya kuning yang, kata Lia, muncul, berputar, lalu lenyap persis di atas kepalanya. Itu terjadi di suatu malam, tahun 1974. Di malam sepi itu, Lia sedang duduk santai bersama Dokter Rosmini, adik iparnya, di rumahnya di Jalan Mahoni 30, Jakarta Pusat. Kala itu, Lia seorang ibu rumah tangga biasa, tak begitu memedulikan selain merasa takjub.
   
Lia mulanya memang perempuan biasa. Tak ada keajaiban pada dirinya. Ibu empat anak ini lahir 21 Agustus 1947 di Makassar, Sulawesi Selatan. Ia anak kedua dari enam bersaudara pasangan Abdul Ghaffar Gustaman dan Zainab. Sang ayah berlatar belakang Muhammadiyah, dikenal sebagai pedagang sekaligus penceramah. Tapi, Lia tak pandai mengaji. Perempuan tamatan SMU ini mengaku
terus terang bahwa pengetahuan agamanya tak lengkap.

Pada usia 19 tahun, Juni 1966, Lia disunting Ir.Aminuddin Day, MSc, belakangan dosen Fakultas Teknik Universitas Indonesia. Pasangan ini dikaruniai empat anak. Sebagai ibu rumah tangga modern, Lia banyak beraktivitas di luar rumah sebagai perangkai bunga kering. Ia kerap tampil di televisi memperagakan kemahirannya itu, sehingga namanya dikenal masyarakat.
 
Perubahan luar biasa terjadi pada 27 Oktober 1995. Ketika salat tahajud, tiba-tiba sekujur tubuh Lia menggigil keras. Ia merasa ada yang menemani. Ia ketakutan, mengira makhluk yang menemaninya adalah jin atau iblis. Tapi, rasa ketakutannya segera lenyap. Soalnya, "Makhluk itu memberinya nasihat-nasihat yang baik," ujar Lia, mengenang.
   
Belakangan, menurut Lia, sang pendamping itu mengaku bernama Habib al-Huda, bermakna pemberi petunjuk yang dicintai Allah. Dan, dua tahun setelah "pertemuan" itu, 28 Juli 1997, barulah Habib mengaku bahwa dirinya
adalah malaikat Jibril. Mulanya Jibril memperkenalkan diri sebagai Habib al-Huda, tulis Lia dalam PAMST, adalah, "Demi menimbang-nimbang seandainya dia langsung menyebut dirinya sebagai Jibril Alaihissalam tentulah aku tak akan percaya."
   
Setelah pertemuan gaib dengan Habib al-Huda, Lia mendadak memperoleh banyak kemahiran menakjubkan. Mulai menulis sampai mengobati orang. Semua masalah
diuraikannya dengan apik dalam bentuk tulisan, puisi, bahkan lagu. Dalam delapan bulan saja, tercatat 30 lagu diciptakan. Dari yang syahdu sampai kocak, dari
keroncong hingga semidangdut. Adapun irama lagunya diciptakan Lia bersama dua jamaah, Yanthi S. Sulistiono dan Mira Julia.
   
Malah, percaya nggak percaya, buku PAMST setebal 232 halaman itu dituntaskannya dalam tempo cuma 29 hari! Buku itu dibagikan gratis, sepekan sebelum Lia mengumumkan dibaiat Jibril. Di situ dikisahkan tentang pengembaraan Lia bersama Jibril –plus kesaksian pengikutnya–lengkap dengan seluk-beluk radiasi nuklir, ozon, satelit, dan galaksi. Kata Lia, penulisan buku itu bisa cepat dan terarah atas tuntunan Jibril.
   
Dipaparkan pula dalam buku itu, sosok Lia punya multifungsi. Ia tak hanya sebagai Imam Mahdi, juga sebagai sosok Maryam yang melahirkan Nabi Isa. Jasad Lia dijadikan media tempat Jibril memberi ilmu dan berbagai petunjuk mengenai dunia-akhirat. Nah, menurut Lia, ketika Jibril berbicara melalui jasadnya, dia
dalam keadaan sadar. "Jadi, bukan kesurupan," tutur Lia, berusaha menepis keraguan umat.
   
Roh Jibril yang diyakini Lia merasuki tubuhnya itu, antara lain, mengabarkan bahwa bangsa Indonesia bakal mengalami penderitaan berat. Penjelasan Jibril tadi membuat Lia merinding. Apalagi, ia memang tahu, Indonesia sedang diterpa krisis ekonomi. Ia pun berdoa kepada Allah agar berkenan memberinya cara menolong umat. Lia bersyukur, karena doanya itu terkabul. Petunjuk-Nya, menurut Lia, disampaikan Jibril pada 1 Oktober 1997 pukul 15.00.
   
Obat itu tak lain adalah sumber mata air di Jalan Mahoni, tempat pertama kali Lia melihat cahaya dari langit, pada 1974 –belakangan menurut Lia, benda
bercahaya itu tak lain adalah Jibril. Sumber mata air yang menyembuhkan berbagai penyakit itu tak dalam, cuma 5-6 meter. Penggaliannya, masih kata Lia, juga atas tuntunan Jibril.
   
Tempat bertuah itu kemudian diberi nama Salamullah. Nama ini pula yang menjadi nama resmi jamaah Lia. Akhirnya, pada 18 Agustus 1998, Lia memproklamasikan diri sebagai Imam Mahdi yang dibaiat Jibril. Lia mengaku, langkah itu diambil karena sudah ditegur Jibril lantaran belum juga mengumumkan "kabar penting bagi umat" tersebut.
   
Kelebihan Lia yang nyata adalah kemampuannya mengobati penyakit. Ilmu ini sering dipraktekkannya. Lia cukup memijat pasien sembari membaca doa-doa pendek seperti Alif-lam-mim atau Al-Fatihah. Pasien yang dipijat umumnya sembuh. Dramawan dan penyair W.S. Rendra adalah seorang pasien Lia yang tersembuhkan, setelah lima kali berobat.
   
"Si burung merak" itu, menurut Lia, mengidap banyak penyakit: ginjal, lever, dan bengkak-bengkak seluruh tubuh. Rendra juga sempat kehilangan rasa keindahan,
dan bisa pulih lagi. "Semua ini adalah karunia Allah," ujar Lia. Uniknya pula, semua jamaah Salamullah punya keampuhan mengobati setara dengan keampuhan Lia.

Kehebatan Lia mengobati –termasuk menularkan ilmu pada jamaah– juga kelihaiannya berdiskusi soal Islam dan penjelasan mengenai "takdirnya sebagai Imam Mahdi", membuat banyak orang tertarik mengikuti aktivitasnya. Awalnya ada 100-an jamaah Salamullah, kini menciut menjadi 70-an orang.
   
Mereka datang dari berbagai kalangan. Ada budayawan seperti Danarto, ada pula insinyur lulusan ITB seperti Landung Wahana. Yang mahasiswa tak sedikit. Landung
bergabung dengan Salamullah pada November 1997. "Saya tertarik karena bahasa yang dipakai Ibu Lia sangat indah," begitu alasan Landung ketika itu.
   
Tutur kata "sang Imam Mahdi" memang amat memikat. Lembut namun kalimat per kalimatnya nyata berisi dan terangkai indah. Sikapnya pun hangat dan alakadarnya" layaknya manusia biasa. Jauh dari kesan sok "jawa" dan
"jaim" alias sok jaga wibawa dan jaga image.

Seorang pengikut setia Lia, Sumardiono, awalnya sempat kaget dan kecewa berat. Ia tak menyangka, Lia yang dikagumi jauh dari kesan sebagai pemimpin. Waktu itu, untuk pertama kalinya, Sumardiono bertemu Lia di pengajian. Pria kelahiran Mei 1969 ini melihat Lia usai pengajian tergopoh-gopoh ke ruang makan dan segera menyantap makanan ringan bersama jamaah lain. Lia pun tak canggung bercengkerama dan tertawa berderai bersama jamaah.

"Secara tidak sadar, aku kecewa karena figur itu sangat berbeda dengan apa yang ada dalam bayanganku sebelumnya," tutur Sumardiono, seperti dituangkannya
dalam buku Loving You karangannya sendiri, terbitan Februari 2003. Buku setebal 204 halaman itu, antara lain, berkisah mengapa ia memilih bergabung dengan
Salamullah dan meninggalkan kariernya di Badan Penyehatan Perbankan Nasional.
   
Beberapa bulan setelah pertemuan dengan Lia, Sumardiono bisa memaklumi dan balik menghormati Lia. Soalnya, lulusan Teknik Informatika ITB ini menemukan
pemahamannya tentang dekonstruksi terhadap pengultusan gambaran tentang kesalehan. "Tuhan menampilkan sosok pilihan-Nya yang berbeda dengan kriteria kesalehan yang dibuat para ulama," ujarnya.
   
Dalam pemahaman Sumardiono, di saat para ulama bersikukuh mengajarkan keutamaan laki-laki, Tuhan memilih perempuan Lia Aminuddin –dengan segala
kepolosannya– menjadi utusan. Sumardiono pun ikhlas menjadi jamaah setia Salamullah sejak 1997 sampai sekarang.
   
Berbeda dengan sikap jamaah Salamullah, reaksi masyarakat muslim –khususnya kalangan ulama– justru kontra-Lia. Sejak Lia mengaku mendapat wahyu dari
Jibril pada 1997, serangkaian reaksi keras pun menerpanya. "Tak mungkin Lia bertemu Jibril, apalagi menerima pesan-pesannya," kata Kiai Haji Ali Yafie,
salah satu Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), kala itu.
   
Pada 22 Desember 1997, MUI kemudian menerbitkan fatwa yang mengecam pengakuan Lia bahwa itu bertentangan dengan Al-Quran. Dalam Kitab Suci disebutkan, setelah Nabi Muhammad, tak akan ada nabi lain. Bahwa tugas
Jibril menyampaikan wahyu, itu hanya kepada para rasul, yang berakhir pada Nabi Muhammad. "Pengakuan (Lia) tersebut dipandang sesat dan menyesatkan,"
demikian fatwa itu.
   
Surutkah Lia dan jamaahnya? Sama sekali tidak. Malah, seperti telah disebutkan, pada 18 Agustus 1998 Lia justru memproklamasikan diri sebagai Imam Mahdi yang
dibaiat Jibril. Reaksi pun kian keras menghantam Lia. Tapi, Lia dan pengikutnya bergeming. Pada 9 Juli 1999, ia balik mengeluarkan fatwa bahwa fatwa MUI itu justru yang sesat, karena telah mengadili kebenaran. "Terkutuklah orang yang mengadili kebenaran dengan cara tidak adil dan sewenang-wenang," begitulah "fatwa Jibril".
   
Setelah itu, Lia aktif melakukan berbagai manuver. Ia mengobarkan perang terhadap Dajal di Tanah Air. Pada 22 Agustus 1999, misalnya, ia dan jamaahnya menyatakan perang terhadap ratu lelembut Nyi Roro Kidul, di Pantai Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat. Para dukun dan tukang santet juga diperangi karena dianggap musyrik.
   
Akibatnya, menurut Sumardiono, Lia kerap terkena serangan santet. Untuk mengatasinya, seluruh tubuh Lia terpaksa ditarik banyak jamaahnya secara serentak, sehingga badannya melayang di udara. Lia juga memusnahkan aneka benda sakti yang dianggap syirik. Yaitu tongkat –termasuk "tongkat Bung
Karno"– keris, jimat, batu cincin, sesajen, serta buku dan majalah "sesat". Buntutnya, Lia sempat berurusan dengan pengadilan lantaran pemilik "tongkat
Soekarno" tak bisa menerima perbuatannya. Lia tak gentar. "Jibril yang minta tongkat itu dimusnahkan," kata Lia kepada GATRA, kala itu.
   
Pada 24 Juni 2000, Lia menyatakan Salamullah sebagai agama baru. Ajaran pokoknya tetap meyakini Nabi Muhammad sebagai nabi terakhir. Tak ada nabi baru setelah Muhammad. Menurut ajaran itu, yang ada adalah kebangkitan kembali Nabi Isa, Imam Mahdi, dan roh orang-orang suci. Adapun kitab sucinya, yang masih
terus disempurnakan, adalah Al-Hira. Tapi, sejauh itu, para jamaah Salamullah masih menjalankan salat sebagaimana diajarkan Nabi Muhammad.
   
Tentu agama baru tadi sempat membuat masyarakat, utamanya muslim, terkejut. Tapi, kejutan lebih besar menggema manakala Lia menggelar ritual penyucian api,
22 April 2001, di Vila Bukit Zaitun, Puncak. Lia dan jamaahnya bertelanjang bulat menembus kobaran api, setelah seluruh bulu dan rambut di tubuh mereka digunduli. Mereka yakin, ritual itu merupakan "hisab" (perhitungan Allah) untuk membersihkan diri dari segala dosa.
   
Lia meyakinkan pada jamaahnya bahwa setelah itu mereka seakan terlahir kembali bak bayi tanpa dosa. Toh, ada dua jamaah yang tak diikutsertakan dalam ritual, sesuai dengan petunjuk Jibril. Soalnya, demikian menurut Jibril seperti disampaikan Lia, kedua orang itu masih berlumur dosa sehingga dikhawatirkan api
akan menggosongkan tubuhnya.
   
Kali itu, Salamullah bukan cuma menuai hujatan, juga tindakan anarkis. Vila Bukit Zaitun, tempat ritual bakar-bakaran itu berlangsung, dirusak warga sekitar.
Warga tak terima kehadiran Salamullah yang dinilai sesat oleh warga –meski Salamullah menegaskan sama sekali tak menyebarkan ajarannya pada penduduk selain jamaahnya. Beruntung, sebelum perusakan itu, sebagian besar jamaah Salamullah "turun ke kota", kembali ke Jakarta. Tak ada korban jiwa dalam anarki tersebut.
   
Lagi-lagi Salamullah melaju terus, juga dengan kejutan-kejutannya. Apalagi, pihak MUI sepertinya "tak terlalu bereaksi lagi". Soalnya, MUI memegang pakem:
takkan pernah mengeluarkan fatwa dua kali untuk hal yang sama. Setelah menganut spiritual perenial, Salamullah melakukan Lawatan Tauhid selama 34 hari, 27 Juli-awal September lalu, ke tempat-tempat kemusyrikan di Jawa dan Bali. Perjalanan ini terkait dengan inti ajaran Salamullah, yaitu ketauhidan. Tidak musyrik dan menyekutukan-Nya.
   
Sebanyak 34 jamaah berkonvoi dengan mobil, mendatangi makam Wali Songo dan tempat pertapaan Parangkusumo di Yogya, Kesultanan Yogya dan Solo, makam Bung Karno, serta pertapaan Gunung Kawi, Jawa Timur. Pesantren pun tak luput dikunjungi. Mereka punya alasan khusus mendatangi tempat-tempat tersebut. Semua itu, kata Rachman, atas petunjuk Syekh.
   
Untuk makam Wali Songo, misalnya, Allah memerintahkan mereka mengingatkan manusia betapa menderitanya para wali atas pengultusan diri mereka. Alasan senada berlaku untuk makam keramat lain. Keraton juga dinilai sebagai tempat yang telah terkontaminasi kemusyrikan. Begitu pun pesantren tertentu yang dinilai suka bermain dengan jin.
   
Rombongan Salamullah ini tak sepenuhnya bisa menyampaikan pesan secara langsung. Tidak setiap sumber mau menemui mereka. Kalaupun mau, ujar Rachman, para sumber pasti punya alasan yang menyatakan mereka tidak musyrik. "Mereka bilang, kami tetap percaya satu Tuhan, dan kami tidak minta pada kuburan. Itu hanya salah satu cara untuk makin dekat dengan Tuhan," Rachman menuturkan.
   
Sebelum Lawatan Tauhid ini, jamaah Salamullah mengunjungi 100 kedutaan besar dan 130 gereja di Jakarta. Itu dilakukan sejak empat bulan menjelang invasi Amerika dan sekutunya ke Irak, Maret silam. Pesan yang disampaikan:  Perdamaian! Ke depan, menurut Rachman, agenda Salamullah yang sudah diberitahu Syekh adalah mengajak para dukun kembali ke jalan lurus. Kapan "safari" semacam ini berakhir? Rachman belum bisa memastikan. Sebab, katanya, semua tergantung petunjuk Syekh.
   
Tentang tudingan bahwa Salamullah sesat, Rachman bilang, "Bila ini kebenaran dari Allah, niscaya akan abadi. Bila sebaliknya, niscaya akan hilang ditelan zaman." Artinya, kata Rachman pula, waktulah yang akan membuktikan.

Taufik Alwie
Laporan Khusus, GATRA, Edisi 2 Senin 17 November 2003