Mar
27
Filed Under (Uncategorized) by bajubiru on 27-03-2006

Imag0193 All for love a Father gave

For only love could make a way

All for love the heavens cried

For love was crucified

Oh how many times have i broken Your heart

But still You forgive, if only i ask

And how many times have You heard me pray

Draw near to me…

Everything i need is You

My beginning, my forever

Everything i need is You

Let me sing all for love, i will join the angel song

Ever holy is the Lord, King of Glory King of all

All for love a savior prayed, Abba Father have Your way

Though they know not what they do

Let the cross draw man to You

(Mia Fields/Hilllsong Publishing)

Mar
24
Filed Under (Uncategorized) by bajubiru on 24-03-2006

Ben1_3Indonesia Raya, merdeka, merdeka

Tanahku, negeriku yang kucinta

Indonesia Raya, merdeka, merdeka

Hiduplah Indonesia Raya…

Tadi malam, sewaktu Benny Hinn minta jemaat yang hadir di Pantai Carnaval Ancol untuk nyanyiin lagu Indonesia Raya, aku sempat ketawa. "Hare gene nyanyi lagu Indonesia Raya? Waduh, jadul banget gitu loh," gumamku. Rasanya, gimana ya? Aneh aja.

Bahkan ketika menyanyikan lagu Indonesia Raya, aku sempat ber-flash back-ria, kapan ya terakhir kali aku nyanyi lagu ini? Kalo nggak salah mungkin ketika ospek hari pertama di kampus. Itu juga karena wajib hukumnya. Kata lainnya, terpaksa. Maklum, mahasiswa baru, sih.

Tapi, tertawaku terhenti ketika Benny Hinn bilang (ini terjemahan bebasnya loh), "Setiap kali saya mengunjungi suatu negara, saya selalu meminta jemaat yang hadir pada kebaktian yang saya pimpin, untuk selalu menyanyikan lagu kebangsaannya." Saat itu juga, Pak Timotius Arifin, yang jadi interpreternya Benny Hinn, langsung mengambil nada dasar C=Do dan mulailah lagu Indonesia Raya dikumandangkan.

Belakangan, aku berpikir (lagi-lagi berpikir, soalnya aku keseringan pake pikiran ketimbang pake hati belakangan ini), kalo nggak tadi malam, mungkin lagu Indonesia Raya termasuk dalam bilangan lagu-lagu yang terlupakan. Dan nggak menutup kemungkinan akan masuk ke tangga lagu Tembang Kenangan yang Terlupakan. He he he

Me_at_benBuktinya, tadi malam, banyak orang yang lupa dengan lirik-liriknya. Berbeda dengan diriku. Wuih… Biar aku udah hampir tujuh tahun nggak nyanyi lagu Indonesia Raya, tapi ingatanku akan lirik-lirik lagu ini masih cemerlang (bangga!). Parahnya, orang yang di sisi kanan, depan, dan belakangku mulai nyanyi lagu Indonesia Raya dengan lirik-lirik lagu yang digubahnya sendiri. Malah lagu yang dinyanyikannya bukan lagi gubahan WR Supratman. Wah, bisa dituntut tuh orang-orang ama anak cucunya WR Supratman.

Whatever-lah. Yang jelas, tadi malam, ratusan ribu orang tumpah ruah di Pantai Carnaval Ancol. Yang lebih membuatku terharu, ini merupakan salah satu bukti bahwa ternyata masih banyak orang di Indonesia yang mau berdoa buat Indonesia. Makanya, acara yang berlangsung selama empat hari ini diberi tajuk "Doa Bagi Pemulihan Bangsa".

For God so Loves Indonesia…

Mar
21
Filed Under (Uncategorized) by bajubiru on 21-03-2006

Besok seminarnya Benny Hinn. Seharian. Tapi, aku ga bisa ikutan, nih. Abis, sapa suruh acaranya dibuat hari Kamis? Coba kalau dibuat hari Sabtu apa Minggu. Tapi, ya udahlah. Toh, ntar Sabtu aku ke KKR nya, di Ancol. Lumayan juga, jauhnya.

K’Lita baru aja nelpon, ngajakin pergi ke Ancol bareng. Mudah-mudahan aku ga ada kerjaan hari Sabtu ini. And I hope, ga ada panggilan mendadak dari orang rese’ yang suka membuatku bekerja di hari libur. Siapa? Ga usah disebutin deh namanya siapa.

Waduh. Ada yag lebih kacau lagi nih. Hari Sabtu ntar ada acara keluarga di Utan Kayu. Keponakan ku bertambah satu lagi. Cowo’. Namanya belum tau. Katanya sih, mau dibahas bersama sepupu-sepupu. Asik. Ketemu ama keponakan-keponakanku yang lucu-lucu itu.

Balik lagi ke k’Lita. Bagi teman ku yang satu ini, (tanya aja sendiri, kalo ga percaya), aku adalah orang yang suka membatalkan janji. Abis, resiko kerjaan! Redaktur-redakturku suka mengirimkan panggilan dadakan. Buktinya, hari Minggu kemarin, gara-gara aku matiin Hp, pemred ku ngomel-ngomel. Aku balik aja marah-marah. Boleh dong sekali-sekali. Emang pemred aja yang bisa?

Masak hari Minggu, aku lagi enak-enak ibadah, trus jalan, makan-makan di EX Plaza Indonesia, ama k’Lita and k’Novita, ehh tiba-tiba org kantor nelpon. Belakangan, aku baru tau, ternyata hari Minggu itu aku disuruh meluncur ke rumahnya Menteri ESDM, Purnomo Yusgiantoro di Widya Chandra (di daerah belakang kantor ku yang dulu). Anehnya, bukan untuk wawancara tapi untuk motret! Gila ga? Emang gua apaan? Cinta kali tuh pemred ama gua ya? Udah jelas ada fotografer, kenapa ga ditelpon aja tuh fotografer?

Hampir aja aku membatalkan janji (lagi!). Kalo nggak, mungkin abis itu k’Lita mungkin bilang, “Hubungan persahabatan putus!” Wah, bisa kacau. Ini namanya nambahin musuh. Lagian, hari Minggu gitu loh, masak gua mesti kerja lagi? Trus, ada untungnya juga ga punya cowo’. Kan ga lucu setiap mau jalan pas weekend, nge-date, dibatalin mulu. Bisa “kuciwa” berat dan terjadi peperangan.

Ya sudahlah. Semuanya ada hikmahnya. Tapi, kalau ditanya hal apa yang sangat-sangat ingin aku lakukan saat ini adalah berada di rumah seharian, tidur, nonton DVD, sambil makan cokelat dan ice cream. Oh… What a life!

Mar
05
Filed Under (Uncategorized) by bajubiru on 05-03-2006

Imag0133Kalau menunggu aja udah membuatku bosan, apalagi menunggu hal-hal yang besar yang akan terjadi selanjutnya. Heran, sepertinya episode kehidupan kali ini berbeda dengan filmnya George Clooney yang ku tonton beberapa tahun yang lalu, "Playing God". Kalau judulnya boleh diganti mungkin akan menjadi "Playing Me". Nah lo… 

Kalau di film itu George Clooney mempermainkan Tuhan dengan profesinya yang seorang dokter,  aku ga tau, apa Tuhan juga sedang mempermainkan ku dengan pekerjaanku sekarang. Entahlah… Aku hanya sedang belajar untuk mencari tahu, belajar untuk mengerti, dan belajar untuk bereaksi dengan cara "becanda" nya Tuhan. Aku sendiri nggak yakin apa aku bisa atau nggak. No one knows. Just wait and see.

Btw, aku dah janji sejak beberapa hari lalu ama Julfini untuk nyeritain perjalanan panjangku menjelajah tiga provinsi di Sulawesi: Sulawesi Selatan, Tengah dan Barat. Meski cuma delapan hari, tapi sangat berkesan. Jul, baca yang baik ya, setelah itu kasi komentar. Awas kalo nggak! (ngancam)

Meninggalkan Jakarta, Senin (13/2) sore dan kembali ke Jakarta, Senin (20/2) malam. Dan aku menghabiskan hampir seluruh waktu ku di tengah belantara Sulawesi dengan melintasi jalur Trans Sulawesi yang rusak parah. Kalau ada yang bertanya-tanya untuk apa aku ke sana, mungkin untuk saat ini aku hanya bisa bilang, "Atas permintaan Gubernur Sulawesi Barat." Selebihnya, aku belum bisa sebut sekarang, berbahaya, apalagi kalau ketahuan sama orang kantor dan juga berbahaya untuk etika profesi. Cuih!

Tiba di Makassar sekitar pukul 18.30 WITA, aku dan rombongan langsung disambut sama beberapa orang dan langsung menuju ke ruang VIP. Gile, baru kali ini dalam seumur hidupku. Trus, langsung dijamu makan, karena dalam waktu satu jam ke depan, kami harus melanjutkan perjalanan lagi ke Palu (Sulawesi Tengah). Ugh…

Setelah menghabiskan perjalanan dengan pesawat (lagi!) selama 45 menit ke Palu, aku berharap bisa istirahat panjang malam itu. Apalagi, it’s my first time trip to Sulawesi.  Kenyataannya, "Oh no!" Aku mesti mendampingi sang gubernur bertemu beberapa orang tokoh penting sampai jam 3 pagi. Ya, resiko. Kenapa aku mengiyakan dan menyatakan bersedia untuk "jalan" ke pulau anoa itu.

Meski cuma bisa istirahat beberapa jam, aku mesti terlihat fresh, karena kami harus melanjutkan perjalanan darat lagi pada pukul 07.00 WITA ke provinsi sang gubernur. Di saat nyawa masih belum ngumpul dan bersiap-siap jalan ke Kabupaten Mamuju Utara, Prov. Sulawesi Barat, tanpa sengaja aku ngeliat ada tentara yang sedang memegang senjata laras panjang. "Ya Tuhan, ada apa lagi di Palu hari ini?" pikirku.

Tak seperti yang kubayangkan dalam benak ku, ternyata itu hanya pasukan pengamanan buat pak gubernur dari sang Komandan Kodim. "Untunglah," pikirku lagi.  Akhirnya,  kami mulai melanjutkan perjalanan meninggalkan Palu  menuju ibukota  Kabupaten Mamuju Utara, Pasangkayu. Kecamatan pertama yang kami lewati: Donggala.

Sama seperti namanya, di sana banyak berkeliaran sapi-sapi Donggala. Dasar sapi! Coba bayangin gimana kalau di sepanjang jalan antarprovinsi, "bergelimpangan" sapi-sapi yang sedang tidur. Bikin repot aja! Si sopir yang nyetir mobil pak gub terpaksa berkali-kali mencet klakson supaya sapi-sapi bertumbuh gembul, yang lebih mirip banteng menurutku, itu minggir dari jalan.

Sepanjang perjalanan, view-nya cukup asik. Pemandangan pantai yang indah dan belum tercemar. Airnya masih biru dan banyak hutan bakau yang kami temui. Tapi, view yang asik itu nggak bertahan lama.

Beberapa jam kemudian, pemandangan yang terlihat hanyalah jalan rusak parah dan hutan belantara Sulawesi. Keadaan bertambah parah ketika… Aduh, susah ngomongnya. Aku sedang datang bulan! Mana di dalam rombongan itu hanya aku satu-satunya perempuan. Aku mesti nahan seluruh penderitaan di perjalanan itu seorang diri. Gile, mau ngomong ama siapa? Yang lebih parah lagi, ketika ingin pipis. Ini yang paling kacau. Kalau cowok sih gampang, tinggal nyari semak belukar atau pohon gede, pipis deh. Sementara aku? Terpaksa menahan sampai ketemu pemukiman warga. Huh…

Tapi, sudahlah. Cukup mengesankan kok. Setelah beberapa jam berjalan, kami tiba di sebuah perkampungan suku terasing di Sulawesi dan beristirahat sebentar di Gereja Toraja Mamasa (GTM), karena pak gub yang seorang Katolik, ingin bertemu dengan pendeta setempat. Beberapa jam ngobrol dengan masyarakat setempat, kami melanjutkan perjalanan lagi. Seperti tadi, view di kanan dan kiri jalan hanya hutan belantara, semak belukar, kadang-kadang pantai, tebing yang curam dan jurang yang tak berujung. Seremmmm…

Praktis, selama enam hari perjalanan, pemandangan itu terus yang ku lihat. Kecuali, kalau kami sudah sampai di ibukota kabupaten untuk menginap. Jangan berharap di sana ada hotel bintang tiga yang menyediakan fasilitas air panas. Bisa tidur nyenyak setelah perjalanan panjang yang melelahkan saja sudah cukup menyegarkan dan menenangkan jiwaku. Untuk diketahui, selama di sana, HP ku praktis  tidak dapat dipakai kecuali ketika aku berada di Makassar, Palu, Mamuju (ibukota Prov. Sulawesi Barat), dan Pare-pare. Rasanya kepengen dibuang aja. Tapi, ga jadi kok…

Secara umum, Sulawesi Barat cukup indah dan asik buat jalan-jalan. Tapi, kalau untuk tinggal, NGGAK! Aku nggak bisa tinggal di tempat seperti itu, tanpa sinyal HP, saluran TV, apalagi sambungan internet. Nggak banget gitu loh! Sampai-sampai ketika pak gub menawarkan aku untuk tinggal di sana dan menjadi stafnya, aku langsung bilang dengan manis dan sopan tentunya, "Saya masih kepengen jadi wartawan, pak."

Ya begitulah, bertemu dengan banyak tokoh-tokoh penting di sana, para stakeholders, mulai dari kepala suku, kepala desa, kepala kabupaten–alias bupati, ampe kepala provinsi–alias gubernur. Tapi, lagi-lagi aku ga bisa menyebutkan secara detil hal-hal apa dan apa saja yang kami bicarakan disana. Mungkin ini  aja dah cukup kali ya, Jul.

Hampir lupa, aku sempat menginap semalam di Pare-pare, kampung  halamannya BJ  Habibie. Kami menginap di hotel yang letaknya di atas bukit dan dengan view yang langsung menghadap ke laut. Indah banget! Sampai -sampai pantai Palu aja masih kalah. He he he. Setelah menginap semalam di sana, kami melanjutkan perjalanan lagi ke Makassar, kalau tidak salah sekitar 2,5 jam perjalanan darat.

Seperti biasa, kebiasaan seorang perempuan. Mumpung masih pagi nyampe makassar dan baru akan balik ke Jakarta naik pesawat Jam 19.00 WITA, aku langsung belanja-belanja dan jalan-jalan. Asyik! Menyusuri pantai, makan Coto Makassar dan Sop Konro, meskipun rasanya sama aja kayak Coto dan Cop yang dijual di sini.

Kayaknya segitu aja deh ya. C u all..