Aku tak selalu mendapatkan apa yang aku sukai. Karenanya, aku selalu belajar untuk menyukai apa yang telah aku dapatkan…
Baru selesai rapat redaksi. Hujan, ga reda-reda, padahal ntar lagi aku mau ke lapangan tennis indoor senayan. Mau nonton konser Giving My Best (GMB). Jadi, isi blogs dulu.
Nah, tadi di rapat, aku ngusulin buat wawancara Taufik Savalas, si Presiden Republik BBM (Benar-Benar Mabok), untuk rubrik IF. Soalnya, rubrik ini emang buat berandai-andai. Ternyata, apresiasi dari redaktur cukup bagus. Uli gitu loh. He he..
Tapi lucu juga. Aku sendiri sebagai salah satu penggemar tayangan Republik BBM (di Indosiar, tiap Senin pukul 22.00-24.00 Wib) jadi bernandai-andai juga, "Gimana rasanya ya jadi warga negara Republik BBM?" Pasti seru, apalagi dengan wakil presidennya yang sepolos dan sekonyol Ucup Kelik. Wah, bisa bener2 mabok, deh.
Daripada "mabok" dan geregetan liat tingkahnya wapres RI, mending liat Ucup Kelik. Setuju? Liat aja tuh persiapan Jusuf Kalla (JK) untuk pemilu 2009 mendatang. Dia beserta partai Golkarnya sedang kerja keras ngumpulin "amunisi". Salah satunya lewat proyek triliunan pembangkit listrik 10.000 megawatt-nya itu.
Judulnya sih untuk menurunkan biaya produksi listrik nasional. Tapi, coba deh liat target selesainya: 2009. Maksudnya apaan tuh? Trus, liat lagi pengusaha2 yang terkait di dalamnya" Bukaka (perusahaan nyaris matinya JK), Bakrie (perusahaannya om Ical-Aburizal Bakrie), Arifin Panigoro, Imam Taufik, Bob Hasan. Semuanya orang Golkar! Wuih…
Heran. Proses tendernya gimana tuh? Jangan2 ga pake tender, tapi pake penunjukan langsung. Soalnya, kabarnya bakal dibuat Badan Kelistrikan Negara yang berada langsung di bawah Presiden atau Wapres. Kita liat aja ntar, jatuh ke tangan siapa proyek ini. Just wait and see.
Ini masih satu, belum lagi proyek2 yang lainnya. Contohnya, proyek pembangunan Meulaboh yang sebelumnya sempat akan ditangani Tomy Winata lewat PT Artha Graha-nya, eh malah "dilengserkan" karena harus mengalah dengan om Ical.
Nah, coba lagi flash back ke acara Indonesia Infrastructure Summit tahun lalu. Perusahaan mana yang dapat proyek-proyek raksasa dan mendominasi hampir semua proyek pemerintah. Ya, benar dan tidak salah lagi: Bukaka dan Bakrie.
Wah, kalau begini ga lama lagi, ga tau deh apa jadinya Indonesia nanti. Tinggal nunggu waktu aja. Klo ntar JK dan om Ical gagal jadi RI 1 dan 2 pada pemilu 2009 mendatang, kita tinggal tunggu hasil audit BPK terhadap sejumlah bank-bank pemerintah, khususnya BNI dan Mandiri. Kita tinggal lihat siapa raksasa penyebab kredit macet di bank-bank itu.
Gampang deh cari taunya. Soalnya, belajar dari pengalaman lagi nih. Ketika Abdul Latief tidak lagi menjadi Menteri Tenaga Kerja, langsung kebongkar deh kasus kredit macetnya. Langsung ketahuan utang-utangnya. Langsung dijual deh itu Pasaraya Manggarai. Langsung dijual deh itu saham Lativi. Nah lo…
Makanya, buat om-om penguasa yang suka menyalahgunakan kekuasaan dan punya banyak kekayaan, tunggu aja deh tanggal mainnya. See u…
Beberapa hari yang lalu, aku dapat e-mail dari Lenny. (Hi Len, how r u? Duh, ternyata udah lama ga ketemu sama ibu muda yang satu ini). Isinya, hasil forward-an Tickle. Sejenis tes kepribadian dan karaker gitu deh. Tapi yang dijadiin parameter: warna.
Dari hasil tes yang sampe 15 layar itu, ternyata karakterku disamain dengan warna hijau. Trus, berhubung Denny nanyaian, "Ul, warna ijo artinya apa?" Jadi, Den, aku tampilin aja ya hasil Tickle tes dari beberapa temen.
Red-Clara and Rully
Your color is red, the color of racy sportscars, blushing cheeks, and luscious roses. Red symbolizes passion, romance, and love. So, since you’re ruled by red, you probably trust your feelings more than your brain and tend to act spontaneously. If you see something you want, you go for it without thinking twice — impulsive is your middle name. You don’t wait around for people to make decisions, either; you dive right in. Quite the romantic, you pay close attention to your emotions. In fact, if your heart isn’t in what you’re doing, you won’t be satisfied. Of course, even when you do pour all your energy into the projects you tackle, your impetuous nature means your passions can shift as frequently as the wind. That’s why some reds have trouble with commitment. Our advice? Next time you’re feeling fickle, think before you act, if possible. You might be surprised at the results. Overall, though, it’s great to be red. No one lives life more completely than you do.
Black-Lenny and Franz
Your color is black. The color of night. Serene and mysterious, black conjures up images of elegant evening gowns, dashing tuxedos, and gleaming limousines. Traditionally a symbol of success, black also represents power and an uncompromising demand for perfection. Not surprisingly, you tend to set challenging goals for yourself and do whatever it takes to achieve them — your strength of character is second to none. This unfaltering determination, along with your natural elegance, impresses people. But keep in mind that your personality might be intimidating to some. Try to temper your demanding side with a little softness — trust us, it won’t kill you. Overall, though, black is the color of professionalism and achievement, which means it’s clearly the color for you.
Ulisari, your true color is Green!
You’re green, the color of growth and vigor. Good-hearted and giving, you have a knack for finding and bringing out the best in people. Green is the most down-to-earth color in the spectrum — reliable and trustworthy. People know they can count on you to be around in times of need, since your concern for people is genuine and sincere. You take pride in being a good friend. For you, success is measured in terms of personal achievement and growth, not by status or position. Rare as emeralds, greens are wonderful, natural people. It truly is your color!
You’re brown, a credible, stable color that’s reminiscent of fine wood, rich leather, and wistful melancholy. Most likely, you’re a logical, practical person ruled more by your head than your heart. With your inquisitive mind and insatiable curiosity, you’re probably a great problem solver. And you always gather all of the facts before coming to a timely, informed decision. Easily intrigued, you’re constantly finding new ways to challenge your mind, whether it’s by reading the newspaper, playing a trivia game, or composing a piece of music. Brown is an impartial, neutral color, which means you tend to see the difference between fact and opinion easily and are open to many points of view. Trustworthy and steady, you really are a brown at heart.
Cocok ato nggak, ya namanya juga iseng2.
Kisah ini berawal ketika siang itu aku mendengar Kak Vivi
(32), sebut saja namanya demikian, menangis sesengukan di ruang kerjanya.
“Suami gue nabok gue semalam di hadapan mertua gue,” ujarnya lirih. Ampun!
Heran, hari gini masih ada aja laki-laki yang berani mukul istrinya.
Emang dia ga tau apa, kalo udah ada Undang-undang KDRT
(Kekerasan Dalam Rumah Tangga)? Emang dia ga tau apa kalo perbuatannya itu bisa
diaduin ke polisi bisa dijerat dengan pasal berlapis atas tindak penganiayaan
dan perbuatan tidak menyenangkan? Aku yakin, suaminya pasti tau persis soal konsekuensi ini karena suaminya seorang pengacara.
“Trus loe diem aja, kak?” tanyaku. Kak Vivi hanya
menganggukkan kepala. “Loe mestinya lapor ke polisi kak,” saranku. Apalagi,
belakangan Kak Vivi cerita kalo malam itu, suaminya bukan hanya menamparnya,
tapi juga sampai jedugin kepalanya ke tembok. Huh…
Sebagai seorang perempuan, aku bener-bener ga bisa terima.
Menurutku, kalo emang seorang pria dah ga suka dan ga cinta lagi dengan
istrinya, tinggalkan saja, ceraikan kalo perlu. Jangan pake acara mukul
begitu.
Belum habis tangis Kak Vi, tiba-tiba, Mba Ita (29), bukan
nama sebenarnya, datang menghampiri kami dari ruangan depan. Tanpa ba-bi-bu,
dia langsung bercerita, “Suami gue udah seminggu ga pulang ke rumah.” Nah lo…
Sepertinya aku udah bisa buka Perserikatan Istri-istri Korban Kekejaman Suami
(PIK2S), deh.
Balik lagi ke Mba Ita. Menurut ibu dua anak ini,
meninggalkan rumah selama berminggu-minggu sudah menjadi kebiasaan suaminya
sejak mereka menikah lima tahun yang lalu. “Emang suami loe ke mana Mba?” tanyaku lagi. “Di rumah
ibunya,” jawabnya singkat.
Gile bener. Ini sih namanya Ikatan Suami Anak Mami (ISAM).
Anehnya, menurut Mba Ita, perlakuan ini terjadi setelah mereka menikah. "Dulu, waktu kami masih pacaran, dia (suaminya-Red.) sampe rela ngebo’ongin ibunya hanya karena harus ngejemput gue pulang kerja," Mba Ita berkisah.
Setiap kali suaminya tugas ke luar kota, lanjut Ita, oleh-oleh yang dibawanya harus
diberikan kepada ibunya lebih dahulu, sisanya baru diberikan kepada istri dan
kedua anaknya. Malah yang lebih parah, kata Mba Ita, suaminya pernah dua
minggu nggak pulang ke rumah tanpa kabar berita. “Trus, gue telpon ke rumah
ibunya. Adiknya bilang kalo Mas Eko (suami Mba Ika-Red.) lagi di Palembang bersama ibunya sejak seminggu yang lalu,” ujarnya. Wah, ini sih namanya
keterlaluan. Klo aku yang jadi Mba Ika, mungkin aku akan bilang, “Kawinin aja
tuh ibu loe dan ceraikan gue!”
Belum lagi obrolan kami selesai, tiba-tiba Mba Tika (34)
datang menghampiri dengan wajah sumringah sambil nyanyi lagu TTM-nya Ratu.
“Wah, napa loe Mba? Lagi jatuh cinta ya? Siapa lagi korban loe kali ini?”
tanyaku berseloroh kepada Mba Tika. “Manager di Pertamina,” jawabnya singkat
sambil melanjutkan lagu TTM-nya.
Aku cerita sedikit nih soal Mba Tika. Dia ini seorang ibu
dengan dua anak. Yang sulung, cowok, usia 6 tahun. Yang bungsu, cewek, masih 10
bulan. Dan keduanya berasal dari ayah yang berbeda. Ya, begitulah. Suami
pertama Mba Tika kedapatan selingkuh dengan seorang pegawai di sebuah klub
malam di Jakarta.
“Siapa yang tahan? Gue tinggalin aja dia,” ujar Mba Tika kala itu mengenai
suami pertamanya.
Nah, beberapa tahun kemudian, Mba Tika berkenalan dengan
seorang pria. Sebut saja namanya Anton (59). Juga seorang duda dan beranak dua.
Anton bercerai dengan istrinya setelah istrinya ketahuan punya affair dengan
laki-laki lain. Akhirnya, dua tahun yang lalu, mereka menikah secara siri.
Kenapa? Karena Mba Tika yang seroang muslim nggak mau ngikutin kepercayaan
suaminya yang seorang Katolik. Demikian juga sebaliknya.
Bahagiakah mereka? Tentu nggak. Mba Tika mengaku nggak tahan
dengan sikap suaminya yang cemburu buta. Wajar sih, menurutku. Asal tau aja,
Mba Tika itu cantik, memikat, dan memiliki sex appeal yang luar biasa. Kata cowok-cowok, sih. Jadi,
jangan heran kalau banyak laki-laki yang bertekuk lutut di hadapannya.
Satu lagi. Sebut saja namanya Widya (28). Widya adalah
seorang ibu dengan tiga anak dan merupakan sahabat dari Vivi dan Tika. Anak
pertamanya, cowok, berusia 5 tahun. Anak keduanya, cewek, berusia 2 tahun. Dan
anak bungsunya baru saja lahir awal Januari lalu.
Hampir mirip dengan kedua temannya itu, Widya juga ditinggal
suaminya. Hanya saja alasannya berbeda. Pekerjaan. Sang suami harus pindah
kerja ke sebuah kota di Jawa Tengah. Dan sekarang, Widya sedang menjalin hubungan asmara dengan seorang pria yang tentu saja
sudah memiliki istri dan anak. Alasannya? Tuntutan ekonomi.
Memang, sejak setahun terakhir, kondisi ekonomi rumah tangga
Widya sedang berada di ujung tanduk. Usaha keluarga suaminya bangkrut. Bahkan,
ketika Widya akan melahirkan anak ke-3nya baru-baru ini, dia terpaksa ngutang
sana-sini.
Nah, kalau tadi, aku bercerita tentang kisah empat orang
perempuan yang bernasib sama. Kali ini, aku akan bercerita tentang seorang
laki-laki. Agak mirip sedikit. Sebut saja namanya George (52). Bung George baru
ku kenal setengah tahun terakhir. Karena kami terlibat dalam sebuah proyek yang
sama baru-baru ini.
Minggu lalu, entah kenapa, aku tiba-tiba ingin nelpon dia.
“Hai bung. Apa kabar? Lagi di mana?” tanyaku. Di ujung telpon, dengan suara
yang agak lesu, Bung George menjawab, “Baik, De. Aku lagi di Bandung, ngurusin anakku.” Oh ya, perlu aku
beritahu, Bung George adalah seorang ayah dari dua anak. Anak pertamanya,
cowok, berusia 22 tahun, sedang kuliah di Bandung.
Dan anak bungsunya, cewek, berusia 9 tahun.
Pembiacaraan pun berlanjut. “Bung kenapa? Kok lesu?”
tanyaku. “Kak Dian (istrinya-Red.) sudah tidak di Jakarta lagi. Dia sudah balik ke Manado (Sulawesi Utara-Red.),” jelasnya denga nada lirih. Aku tidak terlalu terkejut. Memang,
belakangan ini Bung George mesti pikul salib yang luar biasa berat. Kondisi
keluarganya bagai sedang berada di ujung tanduk.
Masalah itu berawal ketika Bung George berhenti bekerja dan
memilih untuk mengurus anak bungsunya sendiri. Untuk menghidupi keluarganya,
Bung George mengerjakan beberapa proyek yang didapatnya dari beberapa kenalan.
Mulai dari bikin iklan, sinetron (main sinetron maksudku), main teater, sampai
terjun ke dunia politik. Sayangnya, beberapa waktu terakhir, proyek yang datang
menghampirinya mulai sepi. Sampai-sampai, baru-baru ini, ketika anaknya harus
membayar uang kuliah untuk semester baru, Bung George ga bisa memenuhinya.
“Saya nggak punya duit sebanyak itu,” ujarnya waktu itu.
Aku? Hanya bisa mendoakanya dan memberikan dukungan moril
buatnya. Bahkan, ketika dia berulang tahun pada akhir Maret lalu, aku
memberinya beberapa ayat dari Alkitab melalui SMS. Responnya? He cried and said
thanks to me. Ternyata, orang berwajah Rambo seperti dia, berhati Rinto (Rinto
Harahap-Red.).
Lantas, aku tiba pada satu pertanyaan, “Kalau (menikah) menyakitkan,
kenapa harus (menikah)?"
Ntar tanggal 1 Mei, para buruh demo lagi. Ga tau deh kayak apa lagi jadinya Jakarta ntar. Soalnya, demo buruh dua hari yang lalu aja, dah bikin kepalaku mumet. Bayangin, biasanya jarak dari kost-an ku ke Balai Kota cuma 45 menit, akibat demo, jadi 2,5 jam. Dan gara-gara demo itu juga, aku ga ke kantor. Abis, para pendemo itu pada ngeblokir jalan. Males deh jadinya. Phew…
Sebenernya, jujur aja aku setuju banget dengan demo kemarin. Tapi, mesti tanpa kekerasan. Masak, busway aja sampe dihancurin. Mereka nggak mikir apa ya? Bukannya mau ngebelain Sutiyoso, tapi mestinya mereka sadar kalo bus TransJakarta itu dibeli pake duit APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) yang duitnya dipungut dari duit pajak yang kita bayarin, termasuk dari PPh (Pajak Penghasilan) yang dipotong dari gaji secara otomatis setiap bulan. Nah lo…
Bukan cuma busway, banyak fasilitas umum lainnya yang dihancurin. Mulai dari halte, pagar gedung dari instansi-instansi pemerintah, lampu-lampu jalan, lampu lalu lintas, pot-pot bunga yang ada di jalan-jalan protokol. Itu semua kan belinya pake duit negara. Gimana sih? Kan kita juga yang jadi rugi sendiri.
Belum lagi, pas demo itu terjadi aksi lempar-lemparan. Mulai dari botol air mineral ampe batu dilemparin. Mending yang kena lempar para polisi yang berjaga-jaga di depan istana Wapres ato sekalian aja Jusuf Kalla yang dilempar. Eh, kita-kita juga terkena lemparan batu, termasuk aku! Huh… Gimana sih, padahal kan kita sama-sama kaum pekerja yang sama-sama dirugikan dengan direvisinya UU 13/2003 tentang Ketenagakerjaan itu.
Gimana ga rugi. Masak, bagi pekerja yang gajinya di atas Rp1 juta per bulan, kalo di-PHK, nggak bakalan dapat pesangon. Dah gitu, perusahaan tidak berkewajiban memberikan kesejahteraan bagi para pegawainya. Jadi, kalo biasanya kita dapat tunjangan kesehatan, nah setelah UU ini jadi direvisi, silakan ucapkan selamat tinggal pada tunjangan kesehatan, tunjangan melahirkan, tunjangan istri dan anak, dan tunjangan-tunjangan lainnya.
Nih, ada lagi yang paling bikin kesel. Kalo para pekerja demo, maka pekerja berkewajiban mengganti seluruh kerugian yang dialami perusahaan akibat aktivitas produksi perusahaan yang terhenti. Nah lo… Enak bener. Ini kan namanya hanya mengakomodir kepentingan pengusaha. Sementara kepentingan pekerja dikebiri habis! Ini namanya pemerkosaan hak-hak pekerja.
Makanya, buat yang sampe detik ini masih jadi pekerja, ayo berjuang supaya revisi ini dibatalkan!
Nyampe di Bali nyaris jam 00.00 Wita. Trus, ngantri taksi ke arah Kuta. Soalnya, hotel yang udah dibooking adanya di sekitar pantai Kuta. Buset, bayar ongkosnya mahal banget, Rp50.000. Padahal, Ngurah Rai-Kuta kan nggak begitu jauh. Tapi capek juga kalo mesti jalan kaki sambil bawa koper. Hehehe… It’s ok lah, mungkin karena udah malam, tengah malam maksudnya.
Seperti dugaanku. Biar udah nyaris jam 00.00 Wita, Kuta masih rame. Hiruk pikuk di sana sini. Bule-bule itu kayaknya bikin pesta dugem di pinggir pantai. Wuih… Tapi sepertinya mereka lagi puas-puasin dugem tuh. Soalnya, besoknya udah nyepi. Seorang pun tidak boleh keluar meninggalkan kediamannya. Tidak boleh nyalain listrik, mengeluarkan bunyi-bunyian. Pokoknya Nyepi abisss deh!
Akibatnya, pas Nyepi, aku dan Ririn cuma bisa ngendon di kamar hotel sambil berenang. Itu juga ga bisa dilakukan seharian. Soalnya, sejak Rabu (29/3), Bali diguyur hujan badai dan air laut pasang. Implikasinya, tidak ada bule-bule yang berjemur di Kuta ataupun di Sanur
Sejak pagi, pihak hotel udah ngeluarin edaran yang isinya kira-kira begini: "Kalo loe coba-coba keluar dari hotel, siap-siap deh tanggung akibatnya." Bukan itu aja, bahkan pedagang yang ketahuan buka toko pas Nyepi dan H+1, bakal didenda sama pemerintah setempat.Serem amat ya. Tapi, itulah. Kita tetep harus menghargai perbedaan. Karena perbedaan itu indah, bukan?
Akhirnya, tepat H+1, pagi-pagi bener, setelah hujan mulai reda, aku dan Ririn memutuskan untuk muter-muter di Kuta. Tentu saja dengan kaki. Nggak ada angkot bo’! Pake mobil travel mahal.
Semuanya ada hikmahnya. Buktinya, kita sampe hafal setiap pengkolan, gang, belokan yang ada di Kuta. Dan akhirnya kita ketemu dengan yang namanya Ground Zero. Tugu peringatan Bom Bali 1 di Jl.Legian. Jaraknya cuma sepelemparan batu dari Paddy’s Club. Sudah bisa ditebak, kita foto-foto dong di sana. Narsis abisss.
Oh ya, nyaris lupa. Sebelumnya, kita juga belanja-belanja di pasar kaget pantai Kuta. Soalnya, toko-toko masih pada belum buka. Di sana buanyak banget yang didagangin. Mulai dari baju, celana, tas, gelang, kalung, makanan, tatoo, ampe daging babi yang pake babi display juga ada. Sori, Rin. Soalnya, Ririn teriak-teriak pas liat babi display itu. Hehehe..
Di Kuta? Udah jelas foto-foto lagi dong. Tapi, kali ini di Kuta ga ada bule-bule yang berjemur. Yang ada cuma sampah berserakan di mana-mana, air laut yang pasang, ombak yang mirip cicit Tsunami. Pokoke serem.
Ternyata, di Kompas hari ini, Minggu (2/4), katanya Kuta lagi kena Siklon Tropis Glenda. Akibatnya, timbul angin kencang dan gelombang laut yang tinggi yang mengakibatkan abrasi bibir pantai dan menumbangkan belasan pohon kelapa, di sepanjang tiga kilometer Pantai Kuta. Karena itu juga, karena dianggap berbahaya, Pantai Kuta, Sabtu (1/4) tertutup untuk wisatawan dan pedagang.
Kita nggak menyerah. Sabtu (1/4) pagi, tentunya ketika hujan mulai agak reda. Kita mutusin buat muter-muter Bali. Yang lebih gila lagi, pake motor. Padahal, aku kan nggak punya SIM dan aku udah lama nggak naik motor. Mungkin sekitar 2 tahun yang lalu.
Tapi, dengan diiringi doa dan keinginan yang luhur (cuihhh!), plus sedikit modal nekat, kita meluncur ke Pasar Sukowati, Gianyar, Pantai Sanur, dan muter-muter di Denpasar. Untuk diketahui, Pasar Sukowati itu kalo ditempuh pake motor, jaraknya kira-kira 1 jam-an. Mirip kayak Jakarta-Bogor lah. Dan perlu diketahui, kita berdua, tentu aja aku yang nyetir motornya, naik motor sambil hujan-hujanan ke Gianyar. Akibatnya, semalam, aku meriang. Hiks…
But it’s ok. Yang penting puas. Liburan ke Bali sukses. Beli salak bali dan daster di pasar Sukowati, makan siang dan beli tas di Sanur, muter-muter di Denpasar, dan muter-muter lagi di Kuta. Coba tebak kita menemukan apa di Kuta kemarin? Salah satu asetnya Tomy Winata (TW)! Again? Plis deh!
Ternyata Mal Discovery Bali itu punya TW. Buktinya, tepat di sebelahnya ada Musro (music room), sama seperti yang ada di Hotel Borobudur. Trus di antara Musro dan mal, ada Kantor Bank Artha Graha segede-gede Gaban. Kurang apa lagi? Sudahlah. Yang lalu biarlah berlalu. Yang jelas TW punya utang denganku. Nilainya? Silakan itung sendiri Pak Tomy.
Emang sih, aku dan Ririn sempet kesal begitu tau kalau mal itu dia yang punya. Abis bagus banget! Pintu belakangnya langsung Pantai Kuta. Desain interion dan eksteriornya bagus banget. Kayak di luar negeri gitu. Huh…
As usual, kita nggak mau ketinggalan mengabadikan moment-moment berharga ini. Jepret… jepret… jepret. Narsis!
Jam udah hampir nunjukin pukul 16.00 Wita. Kita harus cepet-cepet balikin motor sewaan. Soalnya, dah janji sama yang punya motor, kalo kita mau kembaliin sekitar jam 16.00 wita. Lagian, pesawat kita udah nunggu. Ciee…
Ok deh. I’ll be back Bali. Wait for me. But never on Nyepi.