May
23
Filed Under (Uncategorized) by bajubiru on 23-05-2006

Tadi siang ketemu Desy di Arion. Long time no see. Artinya, dah lama ga ketemu. He he. Hampir setahun yang lalu. Kebetulan Desy lagi liburan ke sini. Dan ga lupa, dia ngembaliin skripsiku yang udah hampir setahun juga dipinjamnya. Mudah-mudahan bermanfaat ya, Des.

Trus, abis dari Arion, aku langsung meluncur ke Plaza Semanggi. Males balik ke kantor, soalnya ntar malam ada Prophetic Trainning di Gereja. Jadi, aku ke warnet aja.

Di dalam bis, iseng, aku buka-buka kembali skripsi yang aku tulis lebih dari tiga tahun yang lalu itu. Nggak kerasa, dah lama juga aku lulus. Thanks God. Tapi, ada satu hal yang mengingatkanku kembali akan masa-masa itu. Masa-masa dimana kekuatiran datang, keraguan dan kecemasan melanda. Wah, puitis buanget gitu loh.

Wajar dong kalo nyusun skripsi bikin berjuta rasanya. Emang jatuh cinta doang yang berjuta rasanya? Bahkan aku inget waktu itu, aku sampai-sampai kehilangan rasa keceriaan yang harusnya aku rasakan setiap Natal dan Tahun Baru. Yang ada cuma air mata. Soalnya, hasil perhitungan penelitianku GATOT=Gagal Total.

Aku tertipu! Padahal, nggak serumit itu. Nggak sesulit itu. Nggak njelimet seperti yang aku pikirkan dan bayangkan di kepalaku. Hanya saja, aku mulai mengandalkan kekuatanku sendiri. Aku turun tangan. Akhirnya Tuhan angkat tangan. Kasian deh…

Sampai-sampai papa ngambil seluruh berkas skripsiku, hasil-hasil perhitungan SPSS-ku. Trus papa nyimpan semuanya itu di lemari yang terkunci. Aku nggak bisa mengambilnya. Aku ingat, waktu itu tanggal 31 Desmber 2002. Baru pada tanggal 3 Januari, papa mengeluarkan semua berkas dan bahan-bahan skripsiku.

Aku sempet kesal dengan papa. Kayak nggak negerti aja orang lagi stress. Huh. Tapi belakangan aku baru nyadar kalo aku yang keterlaluan. Bayangkan, malam Tahun baru 2003, aku habiskan dengan menangis sejadi-jadinya di tempat tidur dengan berlingangan air mata. Meratapi hasil perhitungan SPSS-ku yang sama sekali tidak signifikan!

Tidak ada kebakitan di Gereja. Tidak ada bunyi terompet apalagi lilin yang menyala. Yang ada cuma air mata. Akhirnya, aku tersadar. Keakuanku terlalu dominan dalam diriku. Aku tidak menyilakan Tuhan untuk ambil alih seluruh masalahku.

Padahal, aku tau. Aku tinggal bilang, "Bapa, aku angkat tangan. Silakan Bapa turun tangan." Tapi memang tidak ada yang terlambat. Dengan cepat, meski sudah tahun baru waktu itu, aku langsung mendeklarasikan, "Tuhan, aku nyerah! Aku sudah lakukan bagianku, sekarang saatnya Engkau lakukan bagianMu."

Hasilnya? Aku dapat A untuk skripsiku! Haleluya! Ga cukup itu aja, aku dan Sofni jadi pemecah telur kelulusan di Komunikasi ‘99. Ada lagi, hari kelulusanku itu, tanggal 17 Februari 2003, jadi hari yang bersejarah karena tepat satu minggu kemudian, aku merayakan hari ulang tahunku yang ke-21. Thanks God… It was the greatest birthday present i’ve ever got in my life.

Dan perlu temen-temen ketahui semua, tulisan di bawah ini sungguh memotivasi ku dan akhirnya aku selipkan menjadi lembar persembahan. Selamat membaca. Semoga jadi berkat buat kamu-kamu semua. God Bless U… 

Suatu saat aku sedang menikmati senja dalam perahu keselamatanku yang sedang berlabuh.

Kulihat Yesus di ruang kemudi, Ia menatapku dan berkata, "Lepaskanlah tambatan perahumu dan biarkan Aku membawamu ke seberang. Sebab bukan rencana Ku engkau tertambat di sini."

Dengan takut, gelisah, dan kuatir aku menjawab Nya, "Tuhan, bukankah lebih baik aku tetap di sini? Aku tidak akan melihat topan dan badai, dan dapat kembali ke darat kapan pun aku mau?

Dengan lembut Ia memegang tanganku, menatap mataku dan berkata, "Memang di sini engkau tidak akan mengalami topan dan badai, tetapi engkau juga tidak akan melihat Aku mengatasi semua ini. Engkau juga tidak akan pernah melihat Aku berkuasa atas semuanya itu."

Dalam pergumulan berat aku memandangi tali yang mengikat erat. Di tali itu kulihat ada rasa kuatir akan masa depan, keuangan, kehidupan dan pekerjaan. Dalam hatiku aku bertanya, "Tahukah Ia apa yang aku inginkan? Mengertikah Ia apa yang aku rindukan?"

Yesus memelukku dan berkata dengan lembut, "Memang semuanya tidak akan sesuai dengan apa yang engkau inginkan dan impikan. Bahkan mungkin kebalikannya yang akan engkau dapatkan. Tetapi, maukah engkau percaya bahwa rancanganKu adalah damai sejahtera dan masa depanku adalah masa depan yang penuh harapan?"

Ia memelukku dan menangis bersamaku. Lalu dengan berat aku melepas tali perahuku. Ku lepas semua rasa kuatir itu dari hatiku. Ku taruh hak atas masa depanku di tanganNya. Aku tidak tahu bagaimana masa depanku.

Sambil menangis, aku menatapNya dan berkata, "Jadilah NAHKODA dalam hidupku dan marilah kita berlayar bersama."

May
04
Filed Under (Uncategorized) by bajubiru on 04-05-2006

Di saat demo buruh kemarin, di saat para polisi lagi berjuang menahan dorongan, himpitan dan terjangan kaum buruh di depan Gedung DPR RI Senayan, di saat buruh lagi memperjuangkan hak-haknya agar tidak dikebiri, di saat itu pula kita ber-Rendezvouz (baca:rande vu) ria. Hue he he…

Imag0340 Nggak kerasa, ternyata udah hampir setahun HJ "wafat". Hiks… Dan kami pun memperingatinya. Ga pake nasi tumpeng, apalagi upacara bendera. Cuma pake makan-makan sambil ketawa-ketiwi di Plaza Senayan. Biaa yang ngumpul cuma lima orang, tapi rasanya kayak udah sekantor ramenya dan serunya. Bener ga Yuk, Ria, Ririn, Lisa?

Nah, biar udah nyaris setahun berpisah, cie…, tapi cuma Ririn yang memutuskan untuk tidak lagi jadi wartawan. Sementara Ria, masih aja sibuk berkutat dengan gosip-gosip artis dan selebritisnya. Lisa, masih sibuk dengan kata-kata "Sedang meluncur ke TKP (Tempat Kejadian Perkara)". Yuk, masih berkutat dengan dunia tulis-menulis itu. Dan demikian juga dengan aku. Masih, tetep, still, jadi kuli… tinta.

Jadi, daripada kita ngomongin kerjaan masing-masing yang ga jauh-jauh dari We_are_friends1 dunia tulis-menulis, kita mutusin untuk menjadikan Ririn sebagai subjek pembicaraan yang paling seru. Bukan begitu?

Ririn, lagi nyari calon suami yang bersedia mengikutinya ke manapun dia ditugaskan. Ya, maklumlah. Ibu yang satu ini sekarang udah jadi diplomat. Jadi, dia harus mencari suami yang harus dan bersedia mengikuti dia senantiasa ke manapun dia pergi. Ayo, cowok-cowok, ada yang bersedia?

Nah, pada kesempatan yang sama, aku, Ria dan Lisa, juga mengajukan permohonan yang sama kepada Ririn. "Rin, cariin kita suami diplomat dong," kata ku. He he… Ga salah dong. Kan asik, jalan-jalan terus. Pindah-pindah dari satu negara ke negara lainnya. Ga usah jadi wartawan lagi juga ga apa-apa. Ga capek, ga mesti berpanas-panas, ga mesti nungguin orang penting yang sok penting, ga harus pulang malam ato pulang pagi lagi.

Menurut Ria, yang paling asik kalau jadi istri diplomat adalah kita jadi lebih terawat karena lingkungan dan kelas sosialnya bakal jauh berbeda. Kerjaan kita ntar selain mendampingi suami dalam acara-acara kenegaraan adalah: BELANJA. "Uh, I’m lovin’ it!" Trus, ke salon buat perawatan diri. Aduh, enak bener ya?

Suami ga perlu pusing. Karena, menurut Ririn, istri dapat tunjangan 15 persen dari pendapatan suami. Trus, kalo belanja-belanja, produk yang kita beli bakal dibebasin dari pajak sepenuhnya. Jadi kan murah buanget gitu loh. He he. Kesannya matre banget ya? Sori…

Makanya, kita berpesan ama Ririn, agar tidak melupakan kita temen-temenya yang JoJoBa=Jomblo-Jomblo Bahagia ini. Terutama Lisa. Rin, cariin buat Lisa dulu. Usianya udah memasuki masa deadline. Dan juga, jam biologisnya udah berdetak cepat tuh. Ya ga, Lis?

Nah, buat anak-anak eks HJ, (terutama Nina! Kenapa ga ikutan semalam?) ayo dong kita ngumpul-ngumpul yang lengkap. Kalo katanya Yuk, kita semua mesti ketemuan lagi di tanggal 3 Mei 2008 di tempat yang sama: Food Court Plaza Senayan. Ok! See u all ya…