Aku tak selalu mendapatkan apa yang aku sukai. Karenanya, aku selalu belajar untuk menyukai apa yang telah aku dapatkan…
Tak seperti biasanya, HUT Jakarta tahun ini yang ke-479 terpaksa dihabiskannya di salah satu ruang sel tahanan Polda Metro Jaya. Padahal, bertahun-tahun, bahkan berpuluh-puluh tahun sebelumnya, setiap tahunnya, hari jadi kota Jakarta yang jatuh setiap tanggal 22 Juni itu selalu dirayakannya bersama-sama sang gubernur. Wajar saja, karena jabatan terakhirnya adalah sebagai Kepala Dinas Perhubungan Pemprov DKI Jakarta.
Pak Rustam, demikian dia akrab disapa, sudah seminggu ini terpaksa "menginap" di ruang tahanan Polda Metro Jaya. Nah lo? Kenapa? Tentu aja karena kasus dugaan korupsi Busway. Nilainya lumayan. Sekitar Rp14 miliar. Kasian deh dia.
Rustam Effendy Sidabutar yang dulu terkenal galak, sekarang sudah tidak lagi. Bahkan, kemarin, ketika aku menjenguknya di Rutan Polda Metro Jaya, perawakannya yang dulu gagah dengan seragam Dishub bak tentara itu, sekarang terlihat kurus. Perutnya tak lagi buncit. "Saya diet, Li. Saya udah diet sejak saya pensiun dulu," ujarnya kepadaku. Yah. Whateverlah!
Yang jelas, tiba-tiba aja aku kasian melihatnya. Padahal, kalau diingat-ingat dulu, ketika dia masih di masa-masa jayanya sebagai Kepala Dinas Perhubungan, betapa sebelnya aku melihatnya. Huh..
Tapi emang begitu sih. Pejabat kalo udah kena batunya, pasti berubah drastis. Lihat aja si Ahmad Djunaidi, sang mantan Dirut Jamsostek yang sekarang udah jadi tahanan Kejagung. Beda tipislah ama Rustam.
Balik lagi ke Rustam. Alasan kedatanganku membesuknya, tidak dalam kapasitas wartawan yang liputan. Melainkan sebagai seorang teman lama. Sebagai sesama orang Batak. Sebagai rekan makan teri Medan dan juga sebagai rekan makan babi panggang di Lapo (Ups, sori…). Apalagi, di Alkitab ada tertulis supaya kita mengunjungi orang-orang yang dipenjara. So, I did it.
Aku sama sekali nggak berniat untuk mewawancaranya, apalagi soal korupsinya. I came as a friend. That’s it! Bagiku, cukuplah KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) saja yang menyidiknya dan menginterogasinya. Cukuplah Tumpak Hatorangan Panggabean, si Wakil Ketua KPK, yang menjejalinya dengan berjuta pertanyaan.
Tapi, emang dasar ember. Rustam menceritakan semuanya. Mulai dari rencana ampe Bus TransJakarta itu dibeli. Dia ceritain semua pihak yang terlibat di dalamnya. Mulai dari pimpinan proyek, panitia lelang, pihak swasta yang menang, and so on and so on. Saking semangatnya, di menulisi catatanku dengan angka-angka, proses, hingga harga satuan busnya. "Saya heran, di mana letak mark up-nya?" ujarnya membela diri.
Aku. Aku hanya manggut-manggut sambil tersenyum. Di satu sisi, aku nggak percaya dia nggak mark up. And in the other hand, as a friend, apalagi sebagai sesama orang Batak, berat rasanya kalo nggak mempercayai ucapannya. Trus, dia cerita lagi, bagaimana dia ditahan KPK dan langsung "diangkut" ke ruang tahanan Polda Metro. Aduh!
"Penyidik nggak percaya dengan saya. Padahal, sebagai kepala dinas, tugas saya kan hanya tanda tangan sebagai tanda mengetahui dan menyetujui," jelasnya.
"Waktu saya diperiksa lagi di KPK, waktu saya disuruh duduk, penyidiknya bilang begini ke saya ‘Silakan duduk Pak Rustam yang galak’. Begitu mereka menyebut saya," tambahnya.
"Ternyata, ketika anak-anak buah saya diperiksa, mereka bilang saya galak. Makanya mereka bilang mereka melakukan semuanya atas perintah saya. Bahkan, wakil saya si Nurrachman itu, mengaku nggak tau apa-apa soal busway. Katanya dia nggak berani turut campur. Takut, karena saya galak, katanya," ujar Rustam bercerita.
Aku hanya bisa tersenyum mendengar ceritanya. Karena, dia emang galak, dulu. Ga tau kalo sekarang.
Trus, pas aku membesuknya, ada pengacara dari kantor pengacara Juniver Girsang datang. Dia minta supaya Rustam bersedia agar didampingi olehnya selama proses penyidikan hingga ke persidangan nantinya. "Saya pusing, Li. Entah udah berapa banyak pengacara yang datang ke saya. Mulai dari pengacara yang nggak terkenal, sampai yang paling terkenal. Semuanya menawarkan gratis," tuturnya.
He he he. Wajar aja banyak yang rebutan membela dia. Duitnya Rustam kan masih banyak. Trus, buat pengacara yang kurang terkenal, lumayan, mempopulerkan nama sekalian. Apalagi, pengacara kan Batak semua. Datang ke Rustam dengan pendekatan kultural-Batakisme. Gimana nggak pusing? Kasian deh bapak…
Yah, apa yang mesti ku buat lagi? Aku sudah menjadi pendengar yang baik buatnya. Satu lagi, aku pesan sama beliau agar tak putus-putusnya berharap sama Tuhan. "See u, Pak!"
Selanjutnya kami tidak mau, saudara-saudara, bahwa kamu tidak mengetahui tentang mereka yang meninggal, supaya kamu jangan berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan. Karena jikalau kita percaya bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit, maka kita percaya juga bahwa mereka telah meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan Allah bersama-sama dengan dia. (1 Tes 4:13-14)
Kabar duka itu aku terima kemarin, Senin (12/6) sore. Dari kak Dora. Isinya: Li, Esty dah nggak ada lagi. Tuhan dah panggil dia. Air mataku menetes. Tim tamborin kehilangan satu anggota. Kali ini untuk selamanya. Aku ga tau harus berbuat apa lagi. Karena aku tau, sekarang memang udah waktunya. Aku tau masa Esty untuk tinggal di dunia ini udah habis.
Pagi hari, di hari yang sama, di hari terakhir Esty, di saat teduhku, Tuhan sampaikan sesuatu kepadaku. Kalau aku nggak salah dari 1 Tesalonika 4:13-14. Ketika aku baca, aku tau waktunya sudah sangat dekat. Tapi aku masih ingin nawar sama Tuhan. Karena aku tau masih banyak yang sayang sama Esty. Buktinya, ketika dia di ICU, terlalu banyak orang yang menjenguknya. terlalu banyak orang yang mau berdoa untuknya. Terlalu banyak orang yang rela nggak tidur semalaman untuk menjagainya. Bahkan, di hari penguburannya, terlalu banyak orang yang datang ‘tuk ucapkan, "Selamat jalan Esty…"
Aku tau, Esty, aku, dan semua orang suatu saat nanti pasti akan meninggalkan dunia ini. Tapi semuanya hanya soal waktu. Tapi pertanyaannya kenapa harus sekarang? Why God? And why should Esty?
Aku protes. Kenapa Tuhan nggak ambil aja nyawa koruptor, perampok, penjahat, pembunuh di jalanan. Kenapa harus nyawa orang baik-baik? Bahkan terlalu baik menurutku. Why God? Why? Why now? Why? Why?
God! Esty bahkan belum sempat merayakan ulang tahunnya yang ke-21 pada 19 November mendatang. Esty nggak akan pernah ku lihat lagi menari. Esty bahkan belum sempat melihat hasil ujian semester IV-nya kemarin. Esty nggak akan pernah bisa jadi sarjana ekonomi seperti yang diidam-idamkannya. Esty bahkan belum sempat ku traktir makan! Oh God, I’ve promised to her!
And now I know. It’s all about time. Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.
See u Esty. See u in heaven…
With Love
-UuL-