Nov
21
Filed Under (Uncategorized) by bajubiru on 21-11-2006

Suatu hari, seorang anak lelaki miskin yang hidup dari menjual asongan dari pintu ke pintu, menemukan bahwa dikantongnya hanya tersisa beberapa sen uangnya, dan dia sangat lapar. Anak lelaki tersebut memutuskan untuk meminta makanan dari rumah berikutnya. Akan tetapi anak itu kehilangan keberanian saat seorang wanita muda membuka pintu rumah. Anak itu tidak jadi meminta makanan, ia hanya berani meminta segelas air.

Wanita muda tersebut melihat, dan berpikir bahwa anak lelaki tersebut pastilah lapar, oleh karena itu ia membawakan segelas besar susu. Anak lelaki itu meminumnya dengan lambat, dan kemudian bertanya, “berapa saya harus membayar untuk segelas besar susu ini ?” Wanita itu menjawab:”Kamu tidak perlu membayar apapun”. “Ibu kami mengajarkan untuk tidak menerima bayaran untuk kebaikan” kata wanita itu menambahkan. Anak lelaki itu kemudian menghabiskan susunya dan berkata :” Dari dalam hatiku aku berterima kasih pada anda.”

Bertahun-tahun kemudian, wanita muda tersebut mengalami sakit yang sangat kritis. Para dokter dikota itu sudah tidak sanggup menganganinya. Mereka akhirnya mengirimnya ke kota besar, dimana terdapat dokter spesialis yang mampu menangani penyakit langka tersebut. Dr. Howard dipanggil untuk melakukan pemeriksaan. Pada saat ia mendengar nama kota asal si wanita tersebut, terbersit seberkas pancaran aneh pada mata Dr. Howard. Segera ia bangkit dan bergegas turun melalui hall rumahsakit, menuju kamar si wanita tersebut. Dengan berpakaian jubah kedokteran ia menemui si wanita itu. Ia langsung mengenali wanita itu pada sekali pandang. Ia kemudian kembali ke ruang konsultasi dan memutuskan untuk melakukan upaya terbaik untuk menyelamatkan nyawa wanita itu. Mulai hari itu, Ia selalu memberikan perhatian khusus pada kasus wanita itu.

Setelah melalui perjuangan yang panjang, akhirnya diperoleh kemenangan.. . Wanita itu sembuh !!. Dr. Howard meminta bagian keuangan rumah sakit untuk mengirimkan seluruh tagihan biaya pengobatan kepadanya untuk persetujuan. Dr. Howard melihatnya, dan menuliskan sesuatu pada pojok atas lembar tagihan, dan kemudian mengirimkannya ke kamar pasien. Wanita itu takut untuk membuka tagihan tersebut, ia sangat yakin bahwa ia tak akan mampu membayar tagihan tersebut walaupun harus diangsur seumur hidupnya. Akhirnya Ia memberanikan diri untuk membaca tagihan tersebut, dan ada sesuatu yang menarik perhatiannya pada pojok atas lembar tagihan tersebut. Ia membaca tulisan yang berbunyi..”Telah dibayar lunas dengan segelas besar susu !!” tertanda, Dr. Howard Kelly. Air mata kebahagiaan membanjiri matanya. Ia berdoa:
“Tuhan, Terima kasih, bahwa cintamu telah memenuhi
seluruh bumi melalui hati dan tangan manusia.”

Tears of Joy flooded her eyes as her happy heart
prayed : “Thank you Lord, that your love has
spread through human hearts and hands”
~Margi Harrell~

Nov
14
Filed Under (Uncategorized) by bajubiru on 14-11-2006

Kami remaja suka mengandaikan “bonyok” (bokap nyokap) alias ayah-ibu sebagai bos nomor satu dan bos nomor dua. Ayah bos nomor satu yang mengurusi masalah-masalah eksternal, ibu bos nomor dua yang menjadi nyonya besar yang berkuasa penuh di setiap rumah tangga.

Bos nomor satu bergaul dengan ketua RT, hansip, tetangga, rekan sekantor, klien, atau teman-teman pribadi. Biasanya ia orang yang toleran, namun agak “lugu” (kami menyebutnya “lucu dan gubluk”) karena sering diutangi saudara-saudaranya.

Lain dengan bos nomor dua yang pencilatan, galak, doyan arisan, dan sangat kreatif dalam menangani berbagai macam krisis rumah tangga. Kalau soal ibu masing-masing kami suka bergurau, “Jangankan kita, mereka sendiri jangan-jangan enggak ngerti maunya apa.”

Bos nomor satu keren dan berwibawa kalau mengenakan setelan jas dan dasi, sambil duduk di jok belakang mobil yang disopiri. Namun, dia belum tentu berani menghadapi bos nomor dua yang baru bangun tidur dan mengenakan daster serta belum mandi.

Kami anak-anak ibarat rakyat yang patuh yang kadang kala bingung karena diperintah oleh kedua bos yang suka bersimpang jalan, mengeluarkan komando yang bertolak belakang, atau mau menang sendiri. Maklum, pada zaman kami belum ada delivery unit atau unit kerja reformasi.

Istilah bos lahir dari sebuah kata dalam bahasa Belanda, “baas”. Ia kata yang universal pemakaiannya dan artinya “tuan besar” dalam bahasa Indonesia.

Bos juga bisa berarti tauké , presiden, atau ketua umum partai. Dunia mafia menyebut bos tertinggi mereka dengan capo di tutti capi.

Di Indonesia istilah bos sangat populer karena berkembangnya kultur bisnis “Ali-Baba” dalam konteks politik, ekonomi, dan sosial Orde Baru yang bergantung pada utang luar negeri. Siapa sih yang tak ingin kebagian kue pembangunan yang sebenarnya merupakan hasil korupsi dari program-program Repelita?

Bos-bos besar di tiap departemen dikitari bos-bos berukuran sedang yang menjadi pimpinan proyek. Mereka dibantu bos-bos kecil yang entah mengapa sering kali diberi nama Ali.

Si Ali inilah yang mondar-mandir memuluskan urusan administrasi proyek, mulai dari perizinan, membagi-bagikan pungli, sampai mengatur persentase komisi. Si Baba tentu tinggal duduk tenang-tenang menyiapkan dana kredit macet yang dia pinjam dari bank-bank pemerintah.

Bos di bank-bank juga ada yang besar, sedang, sampai kecil. Bos besar cukup memejamkan mata untuk mendapat rumah baru, bos yang sedang mungkin kecipratan suap untuk mencari istri baru, dan bos terkecil paling tidak bisa memborong belanjaan bersama keluarganya di Pasar Baru.

Di kantor saya dan Anda pasti ada bos besar, bos sedang, sampai bos kecil. Kasihan karyawan yang posisinya berada di bagian terbawah struktur organisasi karena tenaganya cepat habis hanya untuk berteriak mengucapkan keras-keras kalimat “selamat pagi bos!” atau “permisi bos!” hampir setiap jam.

Anda mungkin bentrok melawan bos yang bossy. “Jika saya ambil inisiatif, bos menegur, ’kok kamu lancang?’ Kalau diam, saya juga dimarahi, ’kok kurang inisiatif?’” kata seorang kawan tentang bosnya.

Pasal 4 Ayat 2 UUD ’45 menyatakan, Dalam melakukan kewajibannya, presiden dibantu oleh wakil presiden. Tak ada penjelasan terperinci mengenai tugas-tugas yang menjadi bagian dari bos nomor dua alias wapres.

Wapres Mohammad Hatta memilih mengundurkan diri dari jabatan wakil presiden (1950-1956) daripada bertengkar melulu dengan Presiden Soekarno. Wapres Sultan Hamengku Buwono IX (1973-1978) juga mengundurkan diri hanya beberapa hari sebelum Sidang Umum MPR 1978 juga karena tak cocok lagi dengan Pak Harto.

Bos nomor dua berikutnya di republik ini, Wapres Adam Malik (1978-1983), dikenal dengan julukan “Si Kancil”. Tentu saja ia bukan anak nakal yang suka mencuri mentimun meskipun merasa semua soal “bisa diatur” di negeri ini.

Joke terkenal bercerita tentang banyaknya tokoh yang bertanya kepada Pak Harto siapa yang akan dipilih menjadi wapres periode 1983-1988. Pak Harto selalu menjawab, “U maar.”

Itu adalah bahasa Belanda, yang kalau diterjemahkan ke dalam bahasa kita artinya kurang lebih “Anda saja”. Setiap tokoh menjadi ge-er mengira akan ditunjuk Pak Harto, padahal yang dimaksud adalah Umar Wirahadikusumah.

Bung Karno dan Pak Harto menjadi contoh bos nomor satu yang berani mengambil keputusan. Republik ini harus terus berjalan siang-malam walaupun mobil Indonesia tak dilengkapi lagi dengan ban serepnya.

Saya ingat Don Vito Corleone (Marlon Brando) di film The Godfather yang mengucapkan kalimat “I make an offer he don’t refuse” kepada seorang anak buahnya. Artinya, ia memaksa para pembantunya mengikuti perintah dia—kalau mereka tak mau dilenyapkan dari muka Bumi ini.

Saya terkenang adegan Al Capone (Robert de Niro) sedang memimpin sidang kabinet gangster yang dia pimpin dalam film The Untouchable. Ia berjalan perlahan memutari para pembantunya yang duduk di sebuah meja bundar yang besar, sambil menenteng sebuah tongkat pemukul bisbol.

Setelah berkuliah sekitar lima menit tentang pentingnya mengorbankan kepentingan pribadi demi kebersamaan, Al Capone tiba-tiba mengayunkan tongkat bisbol sekencang-kencangnya memukul dari belakang kepala salah seorang pembantu dia yang egois. “Teamwork!” teriak Al Capone.

Begitu dong bos!
Sumber:KOMPAS/Selasa, 14 November 2006