Aku tak selalu mendapatkan apa yang aku sukai. Karenanya, aku selalu belajar untuk menyukai apa yang telah aku dapatkan…
Setelah sekian lama nggak plesiran, akhirnya aku plesiran kemarin. Sangat menyenangkan! Apalagi plesiran dengan biaya kantor. Sebab, menurut salah satu dasar filosofiku, "Segala sesuatu yang gratis itu biasanya selalu menyenangkan." Hahahahaha. Gratis gitu loh…
Meski cuma plesiran di seputaran Jakarta, tapi rasanya gimana gitu. Serasa back to the 19th century gitu deh. Soalnya, trip kali ini diberi tajuk "Plesiran Tempo Doeloe: Batavia in 19th Century". And the story began at Sunda Kelapa Port. Bisa dibilang, pelabuhan ini adalah pelabuhan tertua di Jakarta
.
Konon, sebelum pelabuhan Tj. Priok ada, para pedagang-pedagang dari Arab, Cina, termasuk para kumpeni-kumpeni Belanda itu juga kabarnya masuk dari sono. Hmm, keren juga ternyata.
Menurut Pak Scott Merrillees yang ngatang buku Batavia in 19th Century Photographs, nggak jauh dari pelabuhan ini, ada light house alias mercusuar yg udah tuaaa (huruf "a"-nya ampe tiga) banget dan konon kabarnya masih ada. Sayangnya, kita nggak ke sana sih, soalnya, kata Pak Scott, buat sampe ke light house, kita mesti naik perahu kecil selama beberapa menit.
Nah, dari sana kita ke daerah Pekodjan yang konon kabarnya merupakan kampung Arab. I mean, pemukiman orang-orang Arab yang masuk ke Batavia tempo doeloe. Oh ya, tak ingin kehilangan kesempatan, aku memanfaatkan A’a Kresna si tukang poto keliling untuk memotretku. Hehehehe. Thanks A’a…
Trus, kita jalan lagi ke Gereja Sion, yang di halamannya ada kuburan seorang gubernur jendral Belanda. Nisannya keren abis. Terbuat dari tembaga dan di atasnya terukir macem-macem. Mulai dari pedang patah yang menurut Pak Lilik Sudarminto, Guru Besar Fakultas ilmu Budaya (FIB) Universitas Indonesia, berarti terbebasnya jiwa sang gubernur.
Next destination: Museum Fatahillah. Klo di museum ini nih, banyak
banget nyang bisa diliat. Mulai dari patung Hermes, sodara tirinya Hercules (Soalnya, papa mereka:Zeus, tapi mamanya beda. Maklum, Zeus ternyata berpoligami).
Setelah capek muter-muter dan poto-poto di Fatahillah, kemudian rombongan sahabat museum berjalan kaki ke Museum Bank Mandiri (MBM). Lumayan juga, capeknya. But it’s ok lah, mengingat program penurunan berat badan, cara ini ternyata memberikan perubahan yang sigifikan.
Sampe di MBM, so pasi udah laper duonggg. Jam di tangan ku dah nunjukin jam 12 lewat. Sebelum having lunch, kita sempet muter2 sebentar di sana sambil ngeliat aset-aset bank tempo doeloe. Mulai dari mesin ketik, mesin hitung, sampe buku besar yang ada di pelajaran Akuntansi. Ternyata, sesuai namanya, bukunya benar2 besssarrr. Beratnya aja sampe 20 kg dan semua aktivitas pembukuan dicatat secara manual di atas kertas dengan menggunakan pulpen. Hiii, ribet amat ya?
Meski agak melelahkan, tapi seru abis kok. I enjoyed the whole trip. Dan yang lebih penting, aku dapat sedikit bahan buat tulisanku yang berikutnya. Coz, untuk itulah kantor membayarku. Huahahaha
To dream the impossible dream,
To fight the unbeatable foe,
To bear the unbearable sorrow,
To run where the brave dare not go.
To right the unrightable wrong,
To love, pure and chaste from afar,
To try when your arms are too weary,
To reach the unreachable star.
This is my quest, to follow that star,
No matter how hopeless, no matter how far,
To fight for the right without question or pause,
To be willing to march into hell for a heavenly cause.
And I know if I’ll only be true to this glorious quest,
That my heart will lie peaceful and calm, when I’m laid to my rest,
And the world will be better for this,
That one man, scorned and covered in scars,
Still strove, with his last ounce of courage,
To reach the unreachable star.
Always and always…
Kemarin, aku melakukan kegilaan lagi. Huh.. Aku sendiri sampe sekarang masih keheranan, kenapa aku tanda tangan tuh surat kontrak kerja dengan KONTAN. Padahal, rencana kedatanganku ke KONTAN, cuma iseng doang, pengen liat kayak apa sih. Penasaran gitu deh. Sama sekali belum ada rencana untuk bergabung ke sana, soalnya gajinya belum cocok. Hehehe..
Emang sih, aku disuruh datang tanggal 2 Januari kemarin buat trainning. Aku pikir, ga masalah kali ya, soalnya belum ada tangan kontrak kerja. Jadi nggak terlalu masalah kalo aku berubah pikiran. Eh ternyata, sesampai aku di sana (telat, seperti biasanya), kelas langsung dimulai dan aku langsung disuruh tanda tangan surat kontrak kerja. Walah! Terang aja aku bingung. Trus, aku nanya ke HRD-nya, "Gimana kalo saya nggak tanda tangan sekarang?" Dengan enteng, si HRD bilang begini, "Ya pulang aja." Weleh..weleh..
Dia nggak tau apa ya, kalo untuk nyampe ke sana aku mesti berangkat jam 06.00 pagi dari rumah dan sampe di perempatan Slipi bawah, aku mesti naik ojek dan bayar Rp8.000 (karena aku udah telat hampir setengah jam). Trus, malah disuruh pulang kalo nggak tanda tangan. Huh..
Tanpa pikir panjang, aku tanda tangan aja tuh surat kontrak kerja. Soalnya, di dalam surat tersebut tidak ada klausul yang bakal merugikanku. According to me, loh. Emang sih, untuk cabut dari sana harus ada pemberitahuan satu bulan sebelumnya. Tapi di bawah pasal itu ada lagi pasal yang menyebutkan, kalau pihak kedua (reporter), tidak masuk dalam jangka waktu lima hari berturut-turut tanpa pemberitahuan, kontrak kerja otomatis putus/batal. "Ya, aku pilih yang itu aja deh," pikirku.
Trus, aku ikutin tuh kelas ampa jam 17.30. Jujur aja, bosen banget. Aku udah pernah denger semuanya! Mending, mereka nyuruh aku kemana gitu, nyari berita, daripada cuma duduk diam seharian di sana.
And now, i’m in my office. Aku bolos dari kelas trainning. Sebenarnya sih nggak bolos. Berdasarkan obrolan dengan mama dan papa tadi malam, sebenarnya aku dah punya keputusan: I’ll leave that KONTAN! Tadi pagi juga niatku udah bulat, nggak kepengen ke KONTAN pagi ini. Tapi, melihat situasi dan kondisi kantorku yang sangat kondusif untuk MeloDi=Meloloskan Diri, aku jadi ingin berubah pikiran lagi. Pengen iseng ke sana lagi. Pengen ikut kelasnya dan tentu aja dengan ojek biar cepet nyampe ke sana. Hmm, let me think first…
So far, aku emang lagi nggak ada kerjaan di kantor, terjemahan tulisanku telah diselesaikan oleh jeung Kili. Ya, daripada tambah bego, mending ikut "kursus" jurnalistik gratis di KONTAN. Hehehe. Ya, mungkin ntar siang aku ke sana. Soalnya, kelas kedua baru dimulai jam 13.00.
Ok deh, nantikan aja cerita selanjutnya ya… Buat temen2 yang kenal sama bos ku di kantor, please don’t tell them about this ya. Please… Ntar aku traktir makan deh. (Nyogok). Hehehe
Btw, aku udah punya panggilan baru buat my officemate yang psycho, yang aku ceritain di blogs ku yang sebelumnya. I’ll call her:Cruella De Ville. Itu loh, tokoh "nenek sihir" yang ada di film 101 Dalmatians, yang memburu si anjing2 Dalmatians yg lutchu itu hanya untuk sebuah jubah. Mirip sih, menurutku. How about you guys??? Hihihi See u all. Bye..