Aku tak selalu mendapatkan apa yang aku sukai. Karenanya, aku selalu belajar untuk menyukai apa yang telah aku dapatkan…
"Bengak". Udah lama nggak denger kata-kata itu. Berapa tahun yang lalu ya nyebutin kata itu? Yang jelas, mungkin sektiar 3 tahunan yg lalu, sebelum aku pindah ke sini.
"Bengak". Bukan sodaranya penyakit gangguan pernafasan itu loh. Jauh bgt. Tp klo bengek mengakibatkan bengak? Bisa jadi juga sih. Hmmm…
"Bengak". Kata papa, bukan bahasa Batak sih sebenarnya. Tapi bahasa prokem orang Medan.
"Bengak" means goblok, bego, dodol, dobol. Pokoke, tanpa harus tes IQ, dijamin IQ-nya pasti seputaran jongkok atawa tiarap. Duh, kasian bgt ya…
"Bengak". kata-kata yang sering diucapkan si gendut Desly, kalo ada orang yg mendadak dodol. Huh, gendut…gendut…
Bukannya berusaha untuk menulis resensi film. Buat apa? Dibayar juga enggak. Cuma berusaha untuk mencurahkan isi hati dan pengalamanku setelah nonton premiere film Nagabonar Jadi 2 semalem. Dan tentu saja:GRATIS!
Si Nagabonar (Deddy Mizwar) dan anaknya si Bonaga (Tora Sudiro) berulang-ulang kali menyebut "bengak" kepada setiap orang yang IQ -nya nggak sejajar dengan IQ-nya mereka. Hihihiii. Lucu juga. Serasa pulang ke Medan setelah menontonnya.
Filmnya, lucu, sedih, dan lumayan baguslah. Bayangin, masak Nagabonar yang punya kebon kelapa sawit luas di Deli Serdang, Sumatera Utara, anaknya pengusaha sukses lulusan dari Inggris, tapi anehnya muter-muter Jakarta pake bajaj. Sementara anaknya kemana-mana naik BMW. Orang yang aneh. Mosok dia nggak tremor ya? Film yang aneh. (*sambil geleng2 kepala)
Trus, Nagabonar muter-muter Jakarta, bukannya ke Ancol atawa ke mal, tapi ke Tugu Proklamasi sambil menghormat dan ke Patung Sudirman sambil manjat dan teriak-teriak, "Turunkan tanganmu, jendral!" 50+50=cape deh… Sampe nungging-nungging juga, tuh patung Sudirman ga bakalan berhenti menghormat, kecuali bagian tangannya dipatahin.
Trus, ngomongnya agak kurang Medan. Aku menyebut kurang Medan, karena tampaknya tokoh Nagabonar bukan orang Batak, tapi orang Sumatera Utara. He could be Melayu-nese. Tapi, sebagai orang yang 22 tahun tinggal di Medan, setahu aku, rata-rata, panggilan anak ke ibunya bukan "Mak", tapi "Mamak"! Sementara, si Bonaga berkali-kali menyebut ibunya, Kirana, yang sudah meninggal itu dengan sebutan "Mak". Om Deddy Mizwar, tolong itu dipertimbangkan dan dipikirkan sebagai masukan ya…
Trus, si Nagabonar dan Bonaga juga menyebut si Bujang (itu loh, sodara angkatnya Nagabonar yang diratapi dengan kalimat, "Sudah ku bilang jangan bertempur, bertempur juga kau. Matilah kau dimakan cacing, Bujang!") dengan sebutan "Paman" angkat. Mana ada kata-kata paman di Medan? Adanya juga "Tulang", "Uda" ato yang sejenisnya deh. Aneh…
Trus, logatnya Nagabonar dan Bonaga terlalu Batak. Padahal, Nagabonar bukan orang Batak. Regarding the way Bonaga call his grandma: "Nenek", not "Opung". As well as he called his mom: "Mak". Untuk diketahui, orang Medan tidak berbicara dengan logat Batak, kecuali dia lahir dan besar di Tapanuli dan dia berasal dari suku Batak. Orang Medan, punya logatnya sendiri yang merupakan kombinasi antara bahasa Melayu, Jawa dan Batak.
Anyway, secara keseluruhan film ini BaGuS!!! Nonton deh. Ga rugi!