Aku tak selalu mendapatkan apa yang aku sukai. Karenanya, aku selalu belajar untuk menyukai apa yang telah aku dapatkan…
Pengennya sih bersenang senang, malah bikin ati mengkel. Huh, dasar ga professional!
Begini ceritanya (duh kayak di pelem-pelem aja ya?) *_*
Selasa minggu lalu (10/4), datanglah sehelai surat undangan ke kantorku melalui fax. Isinya undangan liputan Borobudur International Golf and Country Club (BIGCC) di Magelang tanggal 13-14 April. Nah, di dalam suratnya tertera kalau mereka mengundang satu orang jurnalis saja dari kantorku dan pihak PT Jababeka-si empunya perhelatan dan pengelola lapangan golf itu-menanggung seluruh keperluan jurnalis yang diundangnya FULL BOARD.
Melihat kata-kata FULL BOARD itu, membuatku berpikir kalo aku nggak perlu minta apa-apa dari kantor. Yah, misalnya untuk transport dari rumah ke airport dan sebaliknya, airport tax, uang saku, makan, transport selama di Magelang dan Jogja, etc. Kalau orang yang berpikir waras, pasti akan menduga hal yang sama. Karena si humas, tepatnya si media relation dari Jababeka udah ngirim tiket PP ke kantorku dua hari sebelum keberangkatan.
Akhirnya, hari Jumat pun tiba. Pagi-pagi benar aku dah pergi dari rumah. Maklum, rumahku jauh dari airport, jadi jam 7 sudah harus berangkat mengingat pesawat Adam Air yang akan mengantarkan ku ke Jogja akan take off dari Soekarno-Hatta jam 10.00 Wib.
Frankly speaking, aku sempet ngerasa horor juga loh pas liat tiketnya Adam Air. Duh, track record-nya itu loh. udah gitu, ke Jogja pula. Bukannya, pesawat Garuda baru-baru ini hard landing di Adi Sutjipto? Duh, tambah horor deh rasanya. Sampai-sampai, beberapa hari sebelum keberangkatan aku berdoa siang-malam (beneran loh). Bukan hanya itu, aku sampai minta beberapa teman, khususnya para pendoa syafaat untuk berdoa secara khusus buatku. Kata Carol, aku nggak mungkin kecelakaan dan mati hanya karena perjalanan dengan pesawat, “Gak elit, li,” kata Carol. Dan aku pun meng-amin-i nya.
Akhirnya, setelah melalui perjalanan yang melelahkan, aku pun tiba di airport. Nyaris tertinggal pesawat. Maklum, jalanan Jakarta macet banget. Jam 09.45 Wib, aku baru boarding pass. And guess what? AKu dapat duduk di seat 2A. Unbelieveable! Telat kok dapat duduk depan? Aneh juga sih. Yang penting pesawatku belum take off. Tapi, kisah boarding pass ku juga mengesankan.
Berhubung 15 menit lagi pesawat yang akan kutumpangi take off, loket boarding pass ke Jogja pun sudah tak ada lagi. Akhirnya, aku mutusin untuk nanya ke petugas Adam air, “Mas, loket boarding pass ke Jogja sebelah mana ya?” tanyaku. Akhirnya, dengan sigap itu petugas langsung mengambil tiketku dan mengurus boarding pass ku. Saking, telatnya, dia bilang gini, “Airport tax Rp30.000. Mbak, langsung jalan aja deh, udah telat, ntar saya nyusul ngasi boarding pass sekalian kembaliannya.” Soalnya, aku ngasi duit Rp50.000. Tapi, mana aku percaya, tiket nggak di tangan, kembalian Rp20.000, masih sama si petugas. Dengan ragu-ragu, aku memutuskan untuk jalan aja. Padahal, aku sendiri nggak tau mau ke gate mana. (*sambil garuk-garuk kepala)
Eh, sebelum sampe ke ruang tunggu, si petugas Adam Air udah kelihatan berlari di belakangku. Duh, baik banget tuh orang. Dia datang membawa boarding pass ku dan kembalian Rp20.000 ku. Finally… Sampe di ruang tunggu, aku ngeliat, ruang tunggu udah penuh. Aku doang kayaknya penumpang yang terakhir boarding pass. Thanks God, pesawatnya belum take off.
Tepat jam 10.00, kita disuruh naik pesawat. Aku sempet ge-er juga pas udah duduk. Soalnya, bangku-bangku yang ada di belakangku udah penuh sesak dengan penumpang, sementara seat 1-3, including mine, masih pada kosong. Aneh juga… (*sambil berpikir ala YM).
Nggak lama, sekelompok bapak-bapak naik ke pesawat dan dengan didampingi seorang pilot. Ya iyalah, pilot yang bakal nerbangin pesawat yang ku tumpangi. Dugaan ku benar, mereka duduk di samping dan depan ku. Wajah-wajah mereka sih tampaknya familiar, tapi aku lupa, siapa ya?
Sa bodo teing! (*bener ga sih?) Tak lupa, sebelum berangkat, aku berdoa. Jangankan sebelum naik pesawat, tiga hari sebelumnya aku pun udah berdoa. Hihii. Kayak baru pertama kali naik pesawat aja. Katro! Ndeso! (*ala Tukul). Selesai berdoa, pesawat take off, aku mulai baca buku China Inc. yang belum selesai ku baca. Ini untuk mengusir rasa takut dan bosan. Di sebelahku nggak ada penumpang yang duduk, di sebelahnya lagi baru ada seorang bapak yang wajahnya familiar.
Penerbangannya emang cuma 50 menit. Nggak selama perjalanan Jakarta-Medan apalai Jakarta-Makassar yang dua jam perjalanan. Pas lagi asik-asik baca, si bapak yang duduk di sebelahnya sebelahku tampaknya tertarik dengan buku yang ku baca (*bukan tertarik denganku lohhh!!!)
“Baca buku itu karena ada tugas atau hobi?” tanya si bapak. “Cuma pengen tau aja, pak,” jawabku singkat. “Apa yang menarik,” tanyanya lagi. Wah, kayaknya ini bapak nyoba ngetes nih. Ku jawab aja, “Gini loh pak, pertumbuhan industri di Cina saat ini lebih pesat ketimbang pertumbuhan industri di Amerika.” Padahal ya, aku belum selesai membaca buku itu. Paling baru tiga bab yang selesai dibaca.
Eh, dia malah bilang. “Bener itu. Kita perlu pelajari, kenapa Cina bisa begitu, sementara Indonesia nggak,” komentar si bapak. Anyway, papa bilang, “Never talk to stranger,” akhirnya aku memutuskan untuk bertanya, “By the way, bapak siapa ya? Kok sepertinya familiar ya?”
Sambil mengulurkan tangan kanannya (*untuk berjabat tangan tentunya), dia nyebutin namanya Yasril Ananta, Komisi 1. Weleh, malunya aku, wartawan kok nggak kenal ya? Hihihii. Bodo amat. Wartawan juga manusia kok. Trus, kita tukeran no hp dan kartu nama dan obrolan berlangsung panjang. Lumayanlah, setidaknya kenalanku bertambah satu.
FYI, di hari yang sama, di Jogja digelar rapat konsultasi Partai Golkar. Jadi, sejumlah pengurus partai Golkar pada berdatangan ke Jogja termasuk itu bapak.
Ga kerasa, pesawat dah mau landing. Perasaanku deg-deg-an lagi. Teringat akan pesawat Garuda yang gagal mendarat sampe meledak itu. Salah satu faktor penyebabnya selain human error adalah landasan Adi Sutjipto yang pendek (cuma 2.200 meter, padahal idealnya bandara yang dilandasi pesawat boeing 737, panjang landasannya semestinya 2.600 meter) dan landasan yang bergelombang alias nggak rata. Wuihhh, jadi tambah seremmm.
Thanks God, pesawatku landing dengan selamat. Dan si media relation PT Jababeka menjemput kami. Kami, karena wartawan yang diundang ada sekitar sembilan orang. Trus, perjalanan darat dilanjutkan sekitar satu jam-an ke Magelang. Sekitar jam satu kita nyampe di Magelang. Terang aja laper. Udah jam 1 gitu lohhh. Eh, si Media Relation berjanji bakal ngajak kita makan di Club House lapangan golf yang bakal diresmiin keesokan harinya. Kenyataannya, sekitar setengah jam kemudian baru kita diajakin makan. Itu pun bukan di club house, tapi di warung makan depan club house. Penekanan pada kata WARUNG!!! Lebih mirip sama rumah makan padang gitu deh. (*kecewa).
Abis makan, kita muter-muter lapangan golf pake golf car. Not bad-lah. Tapi bosen juga, soalnya masih jam 2-an. Bingung mau ngabisin waktu ke mana. Anak-anak yg lain pada main golf, soalnya mereka emang bs main golf dan bawa stick golf sendiri dari Jakarta. Akhirnya, aku, Bintang (Media Indonesia), Hilal (Top Skor), dan Bung Nico (Kompas) memutuskan untuk jalan ke Borobudur. Berhubung kita tamu undangan dan kita nggak tau arah jalan ke Borobudur, wajar dong kita minta mobil buat nganterin kita ke Borobudur?
Guess what si media relation said? “Wah, ga ada mobil tuh,” ujarnya sambil ngeloyor pergi. Idih, keterlaluan tuh humas. Karena dia ngeloyor, kita juga ngeloyor pergi aja. Wong punya mulut ini, tinggal nanya aja sana-sini. Ya ga?
Dengan bermodalkan informasi dari orang hotel, kita pergi naik mikrolet ke arah Suko. Trus, naik bis yang mirip Metro Mini ke Borobudur. Ongkosnya Rp2.000+Rp4.000=Rp6.000/orang. Lumayan murah. Soalnya, kita sempet nyaris dibo’ongin sama supir angkot di sana. Ga sia-sia disekolahin. Hihihiii…
Nyampe sana, tentu saja, tidak lain dan tidak bukan, langsung saja foto-foto. Ini adalah sesi yang tak akan ku lewatkan, apalagi Bintang yang juga merangkap sebagai pengarah gaya kita di sana.

Jepret…jepret… Sesi pemotretan pun dimulai. Huahahahahaa. Mulai dari pintu masuk candi sampe puncak candi, muladi dari sudaut kanan sampe sudut kiri, pokoke nggak satu sudut pun terlewatkan untuk dipotret. Dasar narsis!
Jam di tangan sudah menunjukkan pukul 16.45 Wib, pengunjung Borobudur mulai diminta keluar meninggalkan kompleks candi karena, tepat jam 17.00 pintu kompleks Borobudur ditutup.
Wajar, aja ditutup jam segitu, soalnya lewat jam 17.00, angkot dari Borobudur pada abis, hilang lenyap di telan bumi. Dan sudah pasti serta tentu saja, kita nggak dapet angkot lagi buat balik ke Magelang. Kasiaaan deh kita…
Namanya, orang udah panik tuh ya, segala macam cara, daya dan upaya dilancarkan
supaya kita bisa balik ke Magelang. Jalanan udah mulai gelap, tak satu angkutan umum pun yang melintas. Akhirnya, kita mutusin buat nelpon di humas Jababeka. Guess what? Berkali-kali kali kita telpon itu humas, tak satu panggilan pun dijawabnya. Dasarrr. Heran juga sih, masak dia nggak ngerasa kalo empat dari sembilan wartawan yang diundangnya hilang. Idih, keterlaluan deh itu orang!
Nggak kehabisan akal, kita nyoba melambai-lambaikan tangan ke semua mobil yang melintas di depan kita. Kayak di pelem-pelem itu loh. Menunggu belas kasihan orang sampai ada yang mau berhenti dan memberikan kita tumpangan. Hasilnya? Tak satupun mau berhenti. Kita ada tampang rampok kali ya, sampai-sampai nggak ada yang mau berhenti.
Setelah hampir dua jam, akhirnya satu bis jurusan nggak jelas kita stop dan berhenti tepat di depan kita. Pokoknya yang ada di kepalaku waktu itu adalah mendapatkan angkutan sampai ke lokasi yang lebih banyak pilihan angkutan ke Magelang. Eh, ternyata kondekturnya baik banget. Kita dianterin sampe ke lokasi yang banyak angkot ke Kota Magelang. Cuma bayar Rp10.000 buat berempat. Bless you, pak…
Akhirnya, jam setengah sembilan kita nyampe di hotel. Dan coba tebak, ketika kita udah mau nyampe hotel, si humas nelpon Bung Nico dan bertanya, “Udah makan?” Idih, nyebelin nggak sih? jam setengah sembilan baru ngajak makan. Dia nggak nyadar apa kalo dari tadi sore kita butuh pertolongannya buat ngejemput kita di Borobudur. Huh!!! Menyebalkan!!!
Dan yang lebih menyebalkan lagi, tanpa rasa bersalah dia nyuruh kita makan di depan hotel aja. Ya ampyuuuunnn!!! Keterlaluan betul tu orang. Di depan hotel itu adanya WARTEG. Enak aja. Jauh-jauh ke Magelang malah disuruh makan di warteg. Tak kehabisan akal, kami balik ngerjain dia. Siapa yang mau makan di pinggir jalan? Kita pesen aja sampe puas makanan yang ada di hotel. Trus, seperti biasa, tagihan dimasukkan ke tagihan Jababeka. Rasain loe!!!
Besok paginya, jam enam kurang kita udah dijemput buat menghadiri peresmian lapangan golf. Jam 6 pagi. Can u imagine? It’s early in the morning. Ya, make sense sih. Soalnya, yang resmiin KASAD, Djoko Santoso. Dan abis itu dilanjutin dengan turnamen yang dihadiri sejumlah pejabat seperti Hendarman Supandji (Ketua Timtas TIpikor), Bibit Waluyo (Pangdam Jaya), ada juga Komaruddin Hidayat, trus sama pejabat-pejabat daerah di Jawa Tengah.
Karena mereka semua asik main golf, kita sebagai empat sekawan tak mau ketinggalan. Ya, tentu aja ikut main juga. Tapi di driving range. Minimal belajar nge-swing lah. Tapi, emang dasar katro dan ndeso, siku kanan ku cedera ringan. Hiks… abisnya si Bintang terlalu semangat nge-swing sampe stick golf nya mengenai siku kanan ku dan berdarah. Kasian deh. Tapi itu tak memadamkan semangat. Maju terus, pantang mundur. Merdeka!
Nah, karena udah siang, kita mau buru-buru balik ke hotel buat ngambil barang-barang karena kita harus segera balik ke Jogja. Takut ketinggalan pesawat. Soalnya, pesawat kita take off jam 17.25 Wib. Lagi-lagi si humas bikin emosi jiwa. Udah tau kita mesti segera balik, mobil nggak ada, inisiatif dong nyewa mobil. Masak, mesti diajarin dulu buat nyewa mobil. Ajaib banget itu humas.
Aku berpikir, penderitaan bakal berakhir. Karena kita sudah meninggalkan si humas yang menyebalkan itu dan akan segera balik ke Jakarta. Kenyataannya? Penderitaan belum berakhir. Coba tebak, apalagi ulah si humas Jababeka? Begitu kita nyampe di airport, supir mobil yang membawa kita dari Magelang menuju Jogja minta duit Rp250.000 untuk tiap mobil yang kita tumpangi. Kurang ajarrr bener itu humas. Dia yang nyewa mobil, kita yang diundang, eh malah kita disuruh bayar biaya sewa mobil. Idih, sebel banget ga sih? Tapi, lagi-lagi kita lebih cerdas dari dia. Mana kita mau bayar. Hehehee…
Btw, sepanjang perjalanan dari Magelang hingga Jogja, hujan tak henti-hentinya turun. Sempat deg-degan juga sih dengan cuaca buruk. Pastinya bakal mengganggu penerbangan. Apalagi, kabarnya banyak penerbangan dari dan menuju ke Jogja yang mengalami delay. Ada yang malah mendarat di Juanda, ada yang balik lagi ke Jakarta, padahal pesawatnya udah nyaris hampir jogja. Aku juga mikir, ga pa pa deh kalo pun ditunda sampe besok, dari pada terjadi hal-hal yang tak diinginkan.
Kenyataannya, si pihak Adam Air tetep nggak mau rugi. Meski pesawat baru akan take off jam 17.25 Wib, sejak jam 17.00 penumpang dah disuruh naik ke pesawat sambil berhujan-hujan ria. Soalnya, di Adi Sutjipto nggak ada garbarata. So, terpaksalah kita naik ke pesawat sambil pake payung. Pengalam pertama dalam hidupku: pake payung buat naik ke pesawat. Lucunya… Huahahaaaa
Anyway, take off mulus, penerbangan lancar meski agak terganggu sedikit akibat cuaca buruk. Begitu juga dengan landing. Kalo nggak lancar, nggak mungkin aku bisa nulis blog ini hari ini. Ya begitulah, the worst trip in my life.
See u on my next trip…
Edutainment Theme Park Pertama Diindonesia
Membangun ‘kota’ anak-anak dengan US$11 juta
Tak ada waktu untuk bersantai-santai lagi. Semua harus bekerja keras. Itulah yang terjadi di lingkungan kerja PT Aryan Indonesia, pemegang hak waralaba Kidzania di Indonesia dari negara asalnya, Meksiko
Apa boleh buat. Perusahaan itu telah memutuskan untuk merampungkan pembangunan sebuah ‘kota’ pada pertengahan tahun ini. Sebuah ‘kota’ khusus bagi anak-anak yang telah terbukti sangat ampuh untuk mengembangkan investasi bernilai jutaan dolar.
Kidzania, itulah ‘kota’ yang telah sukses menggaet nama besar berkelas global sebagai partner internasional yang sudah puluhan bahkan ratusan tahun malang melintang di seantero dunia.
Sebutlah nama Coca Cola, American Airlines, Uniliver, Nestle, AIG International, 3M, Fuji, General Motors, WalMart. Avis, Johnson & Johnson, HSBC dan McDonald’s.
Sejumlah perusahaan raksasa lainnya tengah bernegosiasi untuk ikut terjun langsung di Kidzania, yang tengah berkembang pesat di sejumlah kota besar.
Meski berbagai taman bermain kelas dunia telah berkembang, Kidzania telah menjadi daya pikat sendiri bagi anak-anak dan investor.
Dunia idaman
Bagi anak-anak Kidzania adalah sebuah dunia idaman yang tak dimiliki oleh taman bermain lain. Sedangkan bagi investor, Kidzania adalah sebuah peluang tanpa pesaing yang tengah berkembang pesat.
Kedua daya pikat tersebut bisa menjadi energi untuk mengembangkan sayap ke seantero dunia, termasuk Indonesia.
Semangat untuk menggapai dunia juga didorong oleh kenyataan bahwa jumlah pengunjung Kidzania meningkat dari tahun ke tahun.
Prestasi itu tentu sangat terkait dengan kesungguhan pengelola untuk memenuhi tuntutan kepuasan dan keamanan pengunjung.
Itulah faktor mengapa Kidzania berhasil memperoleh penghargaan prestisius sehingga keberadaannya sebagai taman rekreasi kelas dunia tak perlu diragukan.
Dengan demikian para orang tua tak perlu was-was bahwa anak-anak mereka memperoleh pelajaran sesat seperti aksi-aksi kekerasan sebagaimana kerap dipertontonkan berbagai media massa atau permainan komputer.
Kidzania pertama di dunia, yang dibuka pada September 1999 di Mexico City, telah memperoleh dua penghargaan kelas dunia.
Pertama adalah Best New The Park yang bisa disetarakan dengan Oscar untuk industri hiburan anak dari Themed Entertainment Association (TEA) pada 2001. Lalu Top Family Entertainment Center pada 2003 dari International Association of Amusement Parks and Attracations (IAAPA).
Kemudian, tak lama setelah dibuka, Kidzania kedua yang berlokasi di Monterrey, Meksiko, juga memperoleh Best New Theme Park pada 2006.
Sementara itu, kini ribuan anak di Jepang harus menunggu berbulan-bulan untuk mendapatkan giliran masuk ke Kidzania di Tokyo, yang dibuka Oktober tahun lalu.
Maklum, jumlah peminat di sana jauh lebih besar dibandingkan kapasitas yang tersedia meski Jepang adalah salah satu negara yang memiliki fasilitas hiburan anak paling lengkap di dunia.
Antrean panjang itu terjadi karena Kidzania dikenal luas sebagai pusat edutainment yang lebih maju dan bermanfaat untuk kepentingan anak-anak pada hari ini dan masa depan.
Anak-anak di Jakarta dan Dubai tentu harus lebih sabar karena Kidzania di Jakarta baru akan dibuka pada pertengahan tahun ini. Sedangkan di Dubai, Kidzania akan dibuka Oktober tahun ini.
Tapi yang pasti, para anak-anak dan juga orang tua mereka tak perlu khawatir soal fasilias dan kualitas karena pasti sama dengan yang sudah ada.
Di sana anak-anak itu bisa mewujudkan mimpi bila dewasa kelak, yang nyaris tak mungkin terwujud di dunia nyata pada saat ini. Maklum, di Kidzania, hanya anak-anak berumur 4-13 tahun yang diizinkan menjadi warga kota.
Di Kidzania, anak-anak tersebut bisa berperan sebagai tokoh sesuai dengan impian mereka. Bisa menjadi bankir, insinyur, pilot, fotografer, penata rambut, wartawan, presenter TV, penyiar radio, dokter, kasir, petugas pompa bensin atau lainnya.
Mereka juga memiliki ruang kerja yang memadai karena di Kidzania terdapat lebih dari 50 bangunan (paviliun) dengan fungsi berbeda-beda sesuai dengan tuntutan sebuah kota.
Ada bank, bandara, kantor penerbitan surat kabar, studio TV, foto studio, pabrik, proyek konstruksi. Setiap bangunan akan diberi nama diberi nama sama dengan permintaan sponsor.
"Itu berarti anak-anak mendapatkan brand awareness sejak kecil," kata Ika Suwandi, Marketing Director PT Aryan Indonesia. "Maka, kelak akan terwujud brand loyalty karena mereka berasosiasi pada produk atau jasa."
Tak cuma itu. Di Kidzania juga berlaku mata uang dan ATM khusus. Ini berarti mereka akan mengendalikan sepenuhnya roda ekonomi di seluruh wilayah ‘kota’ tanpa intervensi dari orang dewasa.
Dengan demikian, ketika kembali ke dunia nyata, mereka memiliki apresiasi lebih tinggi pada arti kehidupan, pekerjaan dan uang.
"Di Kidzania, anak-anak bisa bermain sambil belajar secara realitis," kata Andhie Saad, Chief Executive Officer PT Aryan Indonesia.
Kidzania Indonesia akan menempati areal 7.500 m2 di Pacific Place Shopping Mall, Sudirman Central Business Centre, Jakarta.
Pada tahun pertama, Kidzania Indonesia diperkirakan akan menampung sekitar 600.000 anak, lalu berkembang menjadi satu juta pada tahun-tahun berikutnya. Sedangkan kapasitas kota adalah 1.250 anak setiap lima jam.
Sejumlah perusahaan besar telah memutuskan untuk terjun langsung di ‘kota’ baru ini. Tercatat nama Sony, Holcim, BCA, Mayora, Wings, PLN, Unican, SECOM, dan Media Indonesia.
Investasi yang dibutuhkan untuk membangun ‘kota’ khusus bagi anak-anak itu mencapai US$11 juta.
"Sebagai target pemasaran, anak-anak memiliki tiga dimensi. Pertama mereka mempunyai daya beli, kedua dapat memengaruhi orang tua dalam berbelanja dan ketiga merupakan pangsa pasar masa depan," tutur Andhie.
Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira Dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. Tetapi Dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, Dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadaNya.