May
31
Filed Under (Uncategorized) by bajubiru on 31-05-2007

Ada kejadian menyebalkan hari ini.

05.00-06.30 : Bangun pagi, saat teduh, mandi, sarapan, berangkat. Tujuan: Kedutaan Australia, Kuningan, Jakarta Selatan.

06.30-07.00 : Nunggin bis ke UKI-"idolaku" yang sampe setengah jam baru lewat. Heran. Pada penuh semua!

07.00-07.45 : Kelamaan nih dari Cibubur sampe UKI kok 45 menit. Abisnya, si sopir 56 cari gara-gara sih! Udah tau tol Jagorawi tiap hari juga macet (kecuali Lebaran). Eh, masih nyalip-nyalip lagi. Rasain lu, jadi ditilang sama pak polisi. Ya, akibatnya aku telat nyampenya.

07.45-08.40 : Dari UKI ke Kedutaan Australia nyaris 1 jam? Oh no! Abisnya, sopirnya lemot sih. Harusnya, si sopir mengarahkan bisnya masuk ke tol dalam kota pas di Cawang. Ya gitu deh, jadilah aku terjebak macet di sepanjang jalan MT Haryono sampe perempatan Kuningan. Belum lagi, kemacetan di Pancoran yang parahnya amit-amittt! Huh…

08.40-09.00 : Sampailah aku di kantor kedutaan yang nggak seberapa itu. Ya, seperti biasa, pengamanan yg super lengkap datang menghampiriku. Mulai cek KTP, screening telapak tangan, tas (isi tas ku), pakaian (krn pas aku di-screening bunyi terus). Ya iyalah, secara bajuku pake kancing besi semua. Rasain tuh security! Ga cukup itu aja, pintu yg dilewati juga banyaknya amit-amit. Males ngitungnya.

09.05-09.15 : Acara dimulai. Si bule memulai dgn kata-kata sambutan (yg ga penting itu loh).

09.15- … : Nah ini dia bagian yg menyebalkan. Huhhh. Si dosen jurnalistik dari Curtin University itu mulai ngasi materi dan membahasnya. Harusnya, dia dapat jatah ngomong ampe jam 11.00. Itu udah termasuk Q&A. Eh, waktu jam di tanganku masih menunjukkan pukul 10.30, mikrophone yg ada di tangannya ditarik dan kita semua diminta untuk meninggalkan gedung kedutaan. Alasannya: FBR demo di depan kedutaan.

Ya ampyuuuuun, FBR doang gitu loh. Cuma sodara-sodaranya si Ayah-Syakur-Betawi-Nggak Penting!!! Lagian, demo doang. Perasaan, kerjaannya FBR malak (minta duit-Red.) doang deh. Nggak pernah tuh ya FBR melakukan tindakan pemboman, terorisme dan sejenisnya. Emangnya Jemaah Islamiyah? Betapa bodohnya… Singkong diragiin: tape deh (gaya YM).

Terang aja, kita semua spontan loncat dari bangku masing-masing dan keluar gedung mengikuti arahan security guard-nya mereka. Tak lupa, hand out yang masih fresh from the oven itu pun dibagikan dengan cara cowboy pas kita sedang menuju pintu keluar. Huh, benar-benar berlebihan! Parno! PAdahal, cewe yang duduk di sebelahku lagi hamil. Kasian kan, hamil-hamil mesti lari-lari?

Oh iya, jujur aja, tuh FBR juga kurang kerjaan bgt deh. Mosok Sutiyoso yang "diamankan" pihak Australia terkait kasus di Timor Timur. Ini nih petikan beritanya yang kukutip dari KOMPAS Kamis (31/5):

Peristiwa Balibo terjadi pada 16 Oktober 1975, saat dua faksi bersenjata Timor Timur, yakni UDT dan Apodeti, melakukan serangan mortir besar-besaran untuk merebut kota Balibo dari Fretilin. Setelah serangan itu lima wartawan Australia ditemukan tewas di Balibo.

Sutiyoso mengakui, pada 1975 dia bersama timnya melakukan operasi intelijen di Timor Timur. Namun Sutiyoso yang saat itu berpangkat kapten dan menjabat sebagai wakil kepala tim tidak pernah masuk ke Balibo.

Nah, nggak ada hubungannya kan? Peristiwa hendak ditangkapnya Sutiyoso di Sidney itu kaitannya nggak ada sama sekali dengan jabatan gubernurnya sekarang. Itu dulu, ketika dia masih menjadi tentara. Trus, kalau disebut karena ikatan primordialisme, Sutiyoso itu bukan orang Betawi, tapi orang Semarang. Herannn. Apa coba analoginya? Cape deh…

Aku jadi sempat menyesal. Soalnya, gara-gara takut bangun kesiangan, semalam, aku ga jadi ke rumah bapak gembalaku, Pak Yan. Padahal, kata anak-anak, acara makan-makannya uwenakkk tenan! "Mak nyosss," katanya Bondan Winarno. Ya iyalah, secara gitu loh, ulang tahun pernikahan sang gembala. Hehehee

By the way, anyway, busway, nggak ada yang kebetulan deh. Setidaknya, aku melihat betapa parnonya orang Australia sama orang Indonesia. Kasian deh mereka…

Sekali lagi, thanks for the invitation to your embassy ya Mr.Ambassador! Jbu

May
28
Filed Under (Uncategorized) by bajubiru on 28-05-2007

Dasar orang Indonesia, biar ketiban sial, teuteup aja dibilang untung. Yah, salah satunya aku. Hihii…

Begini loh ceritanya (duh, mulai deh kayak di pelem2). Tadi siang, pas aku mau ke Plaza Semanggi. Ups, ntar dulu, pasti ada yang aneh deh. Mosok siang2 ke Plaza Semanggi dan bukannya kerja? FYI, kantorku itu tepat berada di belakang Plaza Semanggi, jadi jangan heran kalo orang kantor sini adalah pengunjung setia Plaza Semanggi (meski numpang liwat doang).

Nah, pas mau ke ATM… Duh, ketauan deh baru abis gajian, incerannya ATM. But, anyway, fokusnya bukan pada ATM atopun gajian, ok! Pas di cafe walk, aku ketemu sama Uci. FYI, Uci adalah salah seorang temanku waktu aku ikut tes The Scholar Indonesia. Itu loh, acara yang di Metro TV itu.

Aku baru tau ternyata, semua anak2 yg lolos masuk 10 besar dapat beasiswa penuh, alias full board scholarship. Wah, ternyata dugaanku selama ini salah. Kirain yg dibiayain cuma ranking 1,2, dan 3 dan itupun tidak penuh. Ternyata, para sponsor seperti Metro TV, Djarum, Trimegah Securitas, dll itu membiayai tiap anak yang lolos masuk 10 besar. Seandainya… Hikssss

Wah, sempet ngiri juga sih pas Uci cerita td. Hiks… FYI, aku nggak berhasil masuk 10 besar. Aku nyangkut pas di 20 besar. Jd, nggak heran kalo pas acara itu ditayangkan, mukaku nggak nampang di tipi, paling numpang liwat doang. Kaciyaaannn deh…

Balik lagi ke Uci. Doi cerita jg soal aktivitas mereka di sana, ribet juga sih. Soalnya, sebagai orang yang dibiayain, they have to do something for the company. (There’s nothing free in this world except salvation. Amen!) Ya, misalnya aja si Uci, dia lagi nyiapin bahan buat corporate strategic image buat PT Djarum. Wadohhh!!! Berat buanget itu mah… Ya, gitu deh, ga ada yang gratis kecuali yang satu itu. Hihii.

Tapi ada kalimat Uci yang bikin aku berteriak kegirangan: Kita cuma dibayarin SPP doang. Huaaaaaaa… Itu sih berat. Kirain, full board. Ya, maksudku, buku, uang saku, semuanya ditanggung. Coba bayangin, kalo aja aku dapat tuh beasiswa S-2 di MM UI, trus aku berhenti kerja, duh apa kata dunia? Astaga naga dot com (gaya Ria). Sukurlah aku nggak lolos 10 besar waktu itu. Thanks God!

Dunia persilatan bisa kacau balau beliau. Apalagi, kelasnya reguler alias siang hari. So, nggak bisa kerja. Mesti berhenti dari segala aktivitas termasuk pekerjaan tetap. Wadohhh… Cape’ deh (gaya YM). Duit dari mana buat beli buku, buat ongkos? Belum lagi buat yang lain2nya. Again, thanks God! You’ve made everything right on Your time…

May
24
Filed Under (Uncategorized) by bajubiru on 24-05-2007

Kata Tuhan, "Berkat Tuhanlah yang menjadikan kamu kaya, susah payah tidak menambahinya." Amin. Tapi di ayat yang lainnya juga disebutin, "Iman tanpa perbuatan adalah sia-sia." So, aku tiba pada kesimpulan bahwa untuk menjadi orang yang diberkati, alias kaya mesti, kudu dan harus berbuat sesuatu. Karena, di Kitab Amsal (kalo nggak salah ya, tolong dikoreksi), disebutkan kalo orang malas nggak boleh makan dan mesti belajar kerja keras dari semut. Huahahahaaa..

Nah, ada empat cara untuk menjadi kaya, meskipun aku emang belum sekaya Sukanto Tanoto yang menurut majalah FORBES Asia adalah orang terkaya di Indonesia di tahun 2006 dengan jumlah kekayaan $2,8 billion, atau sekaya bosku: James Riyadi, Putera Sampoerna, Yusuf Kalla, Eka Tjipta atau yang lainnya.

Pertama, lahirlah di keluarga kaya. Bukan sekadar kaya, tapi tycoon!Ya, misalnya terlahir jadi Anindya Bakrie, si penerus tahta Grup Bakrie. Atau lahirlah sebagai John Riady. Duh, lagi-lagi aku menyebutkan nama bosku ini. Hmm, tapi keluarganya emang kaya sih. Makanya mereka duduk di peringkat 11 terkaya di Indonesia menurut Majalah Forbes Asia. Tapi, karena urusan kelahiran bukan otoritas kita, jadi serahkanlah itu pada Tuhan. Kalau Anda tidak terlahir di keluarga Bakrie, Riady, ato Kalla, berarti Anda tidak bisa kaya dengan cara pertama. Anda, kurang beruntung. Cobalah cara ke-2.

Kedua, bekerjalah pada orang kaya dan jadilah orang kepercayaannya. Sukur-sukur, sebagian dari harta kekayaannya dipercayakan kepada Anda. Misalnya, Hary Tanoesoedibjo. Biar tau aja ya, Hary Tanoe itu dulu cuma seorang manager investasi. Tapi, karena Tuhan punya rencana lain atasnya, akhirnya sekarang dia jadi bos Grup MNC. Itu loh yg punya RCTI, TPI, Global TV, Adam Air (50% sahamnya), Mobile 8, dan masih banyak yg lainnya yg tak bisa disebutkan di sini. Nah, dari sekarang, cobalah bekerja lebih keras dan giat, siapa tau Anda akan bernasib seperti Om Hary Tanoe.

Ketiga, mulailah membuka usaha sendiri. Camkan ini baik-baik: Anda tidak akan pernah kaya, kalau Anda masih jadi kacungnya orang lain, alias bekerja pada orang lain. Coba gali kembali jiwa kewirausahaan Anda. Mulailah dari hal-hal kecil yang Anda sukai. Misalnya, kalau Anda gemar berkebun, cobalah melakukan breeding, bangun nursery, siapa tau Anda bisa sukses seperti Pak Greg (Gregori Granadi Hambali-Bapak Aglaonema Indonesia) yg menjual satu pot tanaman Aglaonema jenis Harlequin seharga Rp660 juta. Dahsyat, man!

Keempat, nikahilah pria atau wanita dari keluarga kaya. Misalnya, ya bosku itu tadi: John Riady. Kabarnya dia lagi nggak punya pacar tuh, abis putus dari Agnes Monica. Huehehee, infotainment banget ga sih?Mudah-mudahan Anda beruntung. Masalahnya, para anak-anak dan cucu-cucu tycoon ini umumnya menikah dengan anak-anak dan cucu-cucu tycoon juga. Kesian deh. Buktinya, putri sulung James Riady menikah dengan cucu keluarga Djojonegoro (itu loh, pemilik Grup Orang Tua-produsen wafer Tango, Extra Joss, dll, dan pemilik batre ABC). Dan satu lagi, ini hasil riset terbaruku. Ternyata, generasi ketiga dari Grup Wings (keluarga Katuari-orang terkaya no. 7 versi majalah Forbes dengan jumlah kekayaan $1 billion) menikah dengan generasi ketiga dari Grup Djarum. Jadi, buat Anda yang tidak berasal dari keluarga para taipan ini, silakan harap-harap cemas saja. Kesian deh. Hihihiii..

So, who wants to be a millionaire? Ntar kalo udah kaya, kasi tau aku ya, sapa tau bisa ku wawancara. Huhuhuuu. Gud luck ya…