Jun
27
Filed Under (Uncategorized) by bajubiru on 27-06-2007

God didn’t save us for a life
without pain, He saved us from a life without meaning! And God said no.

I asked God to take away my
pride. And God said, “No.” He said it was not for Him to take away, but for me
to give up.

I asked God to make my
handicapped child whole. And God said, “No.” He said her spirit was whole, her body was only temporary.

I asked God to grant me
patience. And God said, “No.” He said patience is a by-product of tribulations.
It isn’t granted, it is earned.

I asked God to give me happiness.
And God said, “No.” He said He gives me blessings, happiness is up to me.

I asked God to spare me pain.
And God said, “No.” He said suffering draws me apart from worldly cares and
brings me closer to Him.

I asked God to make my spirit
grow. And God said, “No.” He said I must grow on my own. But He will prune me
to make me fruitful.

I asked for all things that
might enjoy life. And God said, “No.” He said He will give me life that I may
enjoy all things.

            

I asked God to help me love
others, as much as he loves me.                         And God said, “Ah, finally you have the idea!”

Jun
17
Filed Under (Uncategorized) by bajubiru on 17-06-2007

Ngatuk bgt, bersin-bersin, badan pegel. Phew… Duh, menyedihkan. Padahal, hari Senin itu harusnya dimulai dengan semangat baru. Soalnya, body, mind, and soul baru di-re-charge. Hm…

Ya, kayaknya sih gara-gara weekend kemarin aku bener2 abis-abisan. Ga pake istirahat. Ya, begini deh jadinya.

Jumat, abis dari kantor, langsung ke gereja. Mo latihan buat ibadah raya Minggu. As usual, hari Jumat sore-malam adalah hari termacet di seluruh Jakarta. Akbatnya, aku baru nyampe sekitar jam 19.30. Telat. Padahal harusnya nyampe jam 18.30. Puji Tuhan, yang lain pada nggak ngomel-ngomel.

Selama latihan, asli deh, aku udah kayak orang bego aja. Mosok, lusa mau pelayanan, sampe Jumat malam, belum nemu juga gerakannya. Abisnya, kita betiga yang mesti nari ntar Minggu dapat ilmu nari dari gereja yang berbeda-beda. Ya jadi deh… jadi berantakan maksudnya. Ga ada gerakan yang ketemu.

Walopun belum nemu gerakan, aku mesti sesegera mungkin merapat ke rumah Ratih. Biasa, hari Jumat malam, ada FA/Cool. Apalagi, Ratih ultah (Happy b’day ya), so, wajib, kudu dan harus datang meski telat. Udah jam 21.00 bo’. Eniwei, aku datang tepat pada waktunya. Maksudnya, tepat pada bagian makan-makan. Hehehee. Semuanya indah pada waktunya. Ya, waktu makan. Hihii.

Setelah makan, pengen pulang. Tp ga enak. Malu dong, udah datengnya pas bagian makan-makan, trus mo pulang gitu? Wah, memalukan. So, i decided to stay until 11.00 pm. Then, i went home.

Guess what? Tiba-tiba pas di tengah perjalanan, ada sekelompok polisi cekak menggelar razia. Buseeettt! Berhubung, i don’t have a licence to ride a motorbike, so i turn back to Ratih’s house. Huh, dasar tuh polisi. Kurang kerjaan bgt ga sih, jam 11 malam gelar razia. Sebel!!! Ya, mau nggak mau aku mesti nginep di kost-an Ratih dan pulang besok paginya.

Yang namanya jg numpang semalam di rumah org, gratis pula, jd jangan berharap bakal tidur dgn tenang. Soalnya, temen-temennya dia pada datang ke kamarnya. Biasalah, girls talk. Curhat. Sharing dan sejenisnya. Thanks God! Aku beruntung dilahirkan dgn kebiasaan tidur ala kebo ^_^ Meski org2 di sekelilingku pada ngobrol semalam suntuk, tapi karena mata sudah amat sangat mengantuk, akhirnya aku terlelap juga tanpa merasa bersalah (numpang gratis semalam gitu loh). Jangankan org2 pada ngobrol, bom high explosive jika diledakkan di samping telingaku jg ga bakalan kedengeran kalo aku lg tidur. Hehehee

Sabtu siang, aku mesti pergi lagi ke Gereja, melanjutkan latihan nariku yang nggak kelar-kelar. Tapi sebelumnya, aku harus pergi ke suatu tempat yang aku males menyebutkannya di sini. The most important thing is I got my money back! Finally (Ketahuan deh).

Malemnya, aku pelayanan di ibadah dewasa muda. Dan baru pulang jam 9 malem. I got to hurry. Because i have to get up earlier the next morning. Soalnya, aku mesti, kudu, dan wajib hadir satu jam sebelum ibadah buat doa. Jadilah, aku pergi dari rumah jam 6 pagi. Phew…

Seneng bgt sih rasanya, udah lama nggak nari tamborin lagi. Soalnya, selama ini, after i left Medan, aku cuma nari kalau ada special occasion-nya youth aja. Misalnya, pas ada KKR, perayaan Natal, Paskah, ato acara di rayon. That’s it.

Rasa senengnya nggak bisa digambarkan deh pokoknya. Sampai pada suatu saat, i met my boss at the church! Can u imagine? Bukan kenapa-kenapa sih. Masalahnya, di kantor, kita sering saling mencela satu sama lain. Duh, bisa  gawat jadinya! Mana si bos duduk di barisan bangku paling depan sama istrinya lagi. Huh… Makan cabe di pondok cabe, cabeee deee…

Tapi untungnya, selama nari, aku sama sekali nggak memperhatikan dia sedang duduk di depanku. Aku baru nyadar setelah selesai nari. Thanks God. Kalau sempat aku menyadari hal itu sejak awal, mungkin aku bisa jatuh pingsan dan dia mati ketawa terbahak-bahak.

Kenyataannya? Si bos sama istrinya pas abis kebaktian langsung nyalam aku sambil senyum-senyum dan bilang, "Good!" Duh… jangan kira masalah bakal selesai. Sekarang nih ya, aku masih deg-deg-an kalau-kalau dia bakal menceritakan kejadian kemarin di kantor. Tapi, sampai blogs ini ditulis, dia blm mencemarkan nama baikku. Hehehee… Makanya, sekarang aku sedang berusaha tidak mencelanya. Daripada… Tapi, dari sejak tadi pagi, dia cuma senyum-senyum doang dan memandangku dengan aneh. Duh…

Sa bodo teing lah…
Life must go on. Hehee

Nah, abis pelayanan di dua  kali kebaktian itu, aku mesti meluncur lagi ke Mekar Sari, ngejemput anak JC buat latihan nari. Soalnya, next month, JC mau KKR se-Rayon 1G. Dan baru selesai jam 3 sore. Bener-bener deh. Haleluya!

Jun
15
Filed Under (Uncategorized) by bajubiru on 15-06-2007

By: Ulisari Eslita

Awalnya hanya sebuah tawaran. Tawaran itu datang dari salah seorang dosen di Fakultas Teknik jurusan Arsitektur di UGM yang baru saja selesai mendisain salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Jogja. “Kami ditawari untuk mengisi salah satu space di Mal Malioboro, Jogjakarta,” ujar A. Noor Arif, satu dari 25 mahasiswa yang menerima tawaran tersebut saat itu.

Meski masih berstatus mahasiswa, tampaknya mereka sudah memiliki nose of busniness yang sangat baik. Tawaran pun tak dilewatkan. Hanya saja, pertanyaan berikitnya, “Mau dagang apa di sana?” Meski sempat pusing tujuh keliling, tetapi, “Eureka!” “Karena kami anak arsitektur yang bisa mendisain, akhirnya kami memutuskan untuk membuat desain di atas kaos,” jelas Arif.

Soal modal, mereka benar-benar bermodal kenekatan saat itu. Maklum, mereka masih berstatus mahasiswa. Tapi, tetap saja hal itu tak menciutkan nyali mereka untuk memulai bisnis. Akhirnya, ke 25 mahasiswa itu merogoh dompet mereka dalam-dalam. Dan hari itu, terkumpullah dana sekitar Rp4 juta. “Ya, saya sampai mengorbankan uang kuliah saya,” kata Arif mengenang.

Berbagai jenis desain kaos dipersiapkan. Dan tentu saja, desain yang dihasilkan bergaya khas ala anak muda dan penuh dengan celetukan serta celotehan khas Jogja khususnya. Seperti tanda larangan parkir berupa huruf P dicoret, diubah menjadi Dilarang Pipis, atau kaos bertuliskan United Colours of Keraton dan Everyday is Sunday in Djokdja.

Satu masalah selesai. Timbul pula masalah lainnya. Brand! Arif mengaku, pada saat itu, dirinya dan rekan-rekan praktis telah menyelesaikan semua desain, hanya saja hingga H-1 gerai dibuka, mereka masih dipusingkan dengan urusan merek.

Lagi-lagi, Eureka! Ya, Dagadu. Mereka memilih nama Dagadu yang berarti matamu. Dagadu merupakan kata-kata yang sering digunakan sebagai simbol keakraban bagi anak-anak muda di Jogja. “Sebenarnya, beberapa teman sempat mencela, kenapa kita memakai nama Dagadu? Tapi, karena semuanya sudah terlanjur masuk ke produksi, apa boleh buat?” kata Arif.

Arif dan kawan-kawan boleh saja berkata telanjur. Tapi ketidaksengajaan itu saat ini telah berbuah miliaran rupiah kini. Bayangkan saja, setiap bulan mereka mampu menjual sektiar 20.000 helai kaos yang dijual pada kisaran harga Rp50.000 per helainya.

Jika memasuki musim liburan, seperti pada pertengahan tahun dan hari raya, mereka bisa meraih hingga empat kali lipat penjualan bulanan. Belum lagi hasil penjualan dari produk tambahan seperti topi, dompet, tas, gelas, pulpen, dan sebagainya. Praktis, dalam setahun mereka berhasil memperoleh sekitar Rp25-30 miliar. “Ini hasil kerja tim,” kata Arif.

Meski tergolong usaha kecil menengah, setidaknya Dagadu mampu menghidupi 52 orang pegawainya. Belum lagi 40-an orang mahasiswa yang setiap delapan bulan sekali magang di perusahaan yang telah berdiri sejak tahun 1994 itu.

Soal pemalsuan produk Dagadu yang sangat banyak di pasaran utamanya di Jogja, Arif dan kawan-kawan kini menganggap itu hanya bagian dari upaya membagi rejeki kepada para pembajak. Padahal, upaya memerangi pembajakan produk Dagadu bukannya tidak pernah dilakukan. Salah satunya adalah mendaftarkan hak paten terhadap logo (gambar mata) serta merek dagang "Dagadu Djokdja". Toh, pembajakan tetap tidak berhenti.

Namun, bagi Anda yang tetap ingin mendapatkan produk Dagadu yang asli, tidak perlu khawatir. Dagadu yang asli bisa dijumpai di lantai dasar Mal Malioboro yang diberi nama Posyandu (Pos Pelayanan Dagadu) dan di Jalan Pakuningratan yang mereka sebut sebagai UGD alias Unit Gawat Dagadu. Yang terakhir ini dimaksudkan agar wisatawan yang segan berbelanja ke Malioboro - lantaran macet - punya alternatif lain.

Namun, ketika ditanya soal benchmark produk Dagadu, Arif punya jawaban sendiri, “Saingan kami ya gudeg dan bakpia. Kalau Joger, itu kan di Bali bukan di Jogja.” Paling tidak, lanjut Arif, Dagadu dijadikan salah satu cenderamata asal Jogja selain bakpia dan gudeg.

Go Asia

Hasil kerja tim membawa PT Aseli Dagadu Djogdja itu sekarang mulai merambah pasar ke luar negeri. Arif menuturkan, paling lambat akhir tahun 2007 ini, Dagadu akan meluncurkan produk terbarunya di Malaka, Malaysia.

Kenapa Malaka? “Karena kita pikir, Jogja dan Malaka tidak jauh berbeda,” ujarnya singkat. Khusus untuk Malaka, lanjut Arif, pihaknya akan menggunakan bahas-bahasa prokem khas Malaka. Karenanya, untuk mendapatkan cita rasa dan kekhasan tersebut, Arif mengaku dirinya harus bermukim sementara di Malaka. Hasilnya? “Nantikan saja!” kata Arif.

Note: Never miss even a chance! Good luck… ^_^