Aku tak selalu mendapatkan apa yang aku sukai. Karenanya, aku selalu belajar untuk menyukai apa yang telah aku dapatkan…
Malu-maluin! Bener-bener malu-maluin! Nggak ada hujan, nggak ada badai, tiba-tiba banjir. Bener-bener kampungan! Apalagi pas aku dengar ada tiga orang bule yang berdiri di sebelahku di depan terminal 1A ngedumel sambil bilang, “What kind of country this is!”
Bayangin aja, Senin (26/11) kemarin itu, jalan tol akses menuju dan dari Airport Soekarno Hatta terputus sejak siang. Gara-gara air laut pasang. FYI, itu tol bersebelahan dengan rawa-rawa yang tak begitu jauh jaraknya dari laut. Nah, masalahnya bukan cuma itu. Banyak airport yang lokasinya nggak jauh dari laut, tapi khusus Soekarno-Hatta emang bener-bener norak! Mosok tanggul bisa jebol? Walah, udah jelas nih biaya pembangunan tanggulnya pasti dikorupsi. (Curiga mode on)
Eh, balik lagi ke bule-bule itu. Aku nggak tau persis itu bule dari mana, yang jelas aku malu berdiri di dekatnya sebagai bagian dari warga negara Indonesia Raya tercinta. Itu bule-bule ternyata pengen naik taksi. Namanya juga tol-nya banjir ya jelas aja, sekalipun ada taksi di airport, nggak bakalan ada yg mau keluar dari airport sebelum air surut. Mau turun mesin apa?
Soalnya, di kilometer 27 tol Cengkareng, air udah setinggi setengah meter. Ratusan mobil terjebak, terutama mobil jenis sedan dan sodara-sodaranya. Yang jelas, air laut rame-rame masuk ke knalpot dan mogoklah. Akibatnya, kemacetan terjadi sampe di depan Citraland. Nggak tau deh berapa kilometer panjangnya, nggak bawa meteran sih.
Eniwei, aku sendiri menjadi korbannya. Senin (26/11) itu aku baru balik dari Surabaya. Begitu landing jam 18.15 Wib, aku langsung ke halte Damri airport. Sebenarnya sih laper, cuma rasa lelah dan ngantuk udah mendominasi. Jadi pikirku, “Makan di rumah aja ah.” Ternyata sodara-sodara, makan di rumah tinggal kenangan hari itu.
Karena penasaran, aku nanya aja sama security di airport. Berdasarkan hasil wawancara singkat… Wawancara dari Hongkong! Ternyata, menurut si bapak satpam, akses tol dari dan ke bandara terendam banjir sejak jam satu siang. Emang hujan? Ternyata enggak. Air laut pasang. Wah, ini pasti akibat global warming deh. Masa sih? Soalnya, pas paginya aku berangkat ke Surabaya, lalu lintas normal aja. Jakarta cerah, panas malah. Sepanas Surabaya hari itu.
Nah, akibat si air laut pasang dan tanggul hasil korupsi itu, ribuan orang di Soekarno-Hatta terlantar karena nggak ada angkutan yang bisa membawa penumpang keluar dari airport. Damri? Udah pada kejebak di tol semua kayaknya. Hasilnya? Aku baru nyampe rumah jam 23.30 Wib. Cape deh…
Mulai dari laper, kenyang, laper lagi, kenyang lagi, laper lagi. Mulai dari ngantuk, capek, sampe gempor, semuanya jadi satu. Mulai dari duduk manis di depan terminal 1A sampe selonjoran di jalanan, bahkan ada yang tiduran di emperan. Kalo nggak percaya liat aja foto headline KOMPAS hari Selasa (27/11) kemarin. Thanks God, bukan aku yang kena foto. Bisa jatuh harga di pasaran. Emang daging has dalam gitu?
Nah, setelah berdoa dalam hati selama berjam-jam, akhirnya, entah dari mana, yang jelas bukan bis setan ato hantu, lewat di depanku. Kenapa bis? Karena cuma bis yang bisa menerabas banjir setengah meter itu. Kalo dideskripsikan lebih mirip orang kelaparan trus dapat sembako dibagi gratis, kurang lebih kayak gitu deh kita rebutan bis. Bodo amat bisnya mau ke arah mana, yang penting keluar dari airport! Ternyata bis itu membawaku ke arah stasiun Gambir. Gak papalah, yang penting keluar dari airport.
Nah, di koran hari ini disebutin kalo kejadian ini bakal berlangsung sampe Desember. Ya ampyuuunnn… Plis deh. Ntar Minggu (2/12) aku mesti jalan lagi, mosok aku mesti nginep di airport dari satu hari sebelumnya? Oh no!
Soalnya, pas kejadian Senin (26/11) itu, beberapa penerbangan dari Jakarta mengalami penundaan gara-gara om-om pilot pada kejebak banjir semua. Lucu juga. Bukan itu aja, puluhan bis yang mengangkut jemaah haji malam itu juga terjebak. Gagal berangkat naik haji deh kayaknya. Belum lagi penumpang lainnya yang menumpang Damri ato kendaraan pribadi. Duh, cape deh mikirinnya.
Sekali lagi, “Itulah Indonesia…”
Setelah sukses memproduseri sejumlah film-film bermutu di tanah air seperti Arisan!, Berbagi Suami, Ca Bau Kan, menjelang akhir tahun 2007 ini, Nia Dinata kembali menelurkan satu film terbaiknya bertajuk Quickie Express.
Nia Dinata selaku produser, menggandeng sutradara berbakat Dimas Djayadiningrat sebagai sutradara, dan penulis skenario ternama Joko Anwar. Quickie Express, film produksi ketujuh dari Kalyana Shira Films, kali ini mengambil genre komedi dewasa diantara ramainya film horror yang menghantui dunia perfilman Indonesia.
Pengambilan gambar dimulai pada tanggal 19 Mei 2007 sampai dengan Juni 2007 dengan lokasi di Jakarta dan Puncak.Film ini bercerita tentang Jojo (Tora Sudiro), seorang pemuda urban Jakarta , sadar bahwa dirinya bodoh dan tak berarti. Walaupun berkali-kali dipecat dari pekerjannya, Jojo tidak pernah lelah berusaha, sampai akhirnya ia terpuruk menjadi pegawai di tukang tambal ban.
Disinilah Jojo bertemu dengan seorang lelaki tua kaya raya yang menawarkannya pekerjaan di perusahaan “layanan escort/gigolo” miliknya. Untuk menghindari serangan protes dari kelompok religius Jakarta, lelaki ini menjalankan bisnisnya dengan kedok pizza delivery service bernama Quickie Express.
Jojo bergabung bersama 2 orang teman, Piktor (Lukman Sardi) dan Marley (Aming) yang juga “anak baru” di Quickie Express. Petualangan mereka dalam pekerjaan yang unik ini memberikan gambaran jujur atas kehidupan urban Jakarta yang selama ini banyak ditutup-tutupi.
“Tema besarnya adalah bagaimana seseorang itu udah sangat kepepet dalam hidupnya, nggak dapat-dapat kerjaan, nggak pernah dapat yang ideal, tapi begitu dapat, dia berakhir menjadi seorang gigolo. Film ini bercerita tentang bagaimana susah senangnya seseorang menjadi gigolo,” kata Dimas Djayadiningrat, sang sutradara.
Dengan tampang dan keunikan mereka, tak lama kemudian mereka langsung menduduki posisi tinggi di perusahaan “escort” ini. Hidup mereka jauh lebih baik dan ternyata mereka menikmati pekerjaan mudah dan berkelas ini yang juga menghasilkan cukup banyak uang. Namun, kebahagiaan mereka justru terusik saat Jojo bertemu dengan seorang gadis mahasiswi kedokteran dan jatuh cinta padanya, dan menemukan hubungan antara sang gadis dengan salah satu tante pelanggan dan mafia Jan Pieter Gunarto.
“Ide awalnya dari gue, tapi gue emang nggak bisa deh kalo nulis scenario, jadi gue serahin ke Joko Anwar yang emang ahlinya untuk nulis scenario,” kata Dimas Djay. Dimas menambahkan, film yang berkisah tentang tiga orang gigolo ini sengaja dibuatnya untuk menjadi semacam tribute buat grup lawak kenamaan Warkop. “Gue emang ngefans berat sama Warkop,” tambahnya.
Sementara itu, bagi sang penulis scenario, Joko Anwar, saat menulis scenario Quickie Express adalah saat yang paling menegangkan baginya. “Gue harus ngontrol sendiri karena keliarannya ketika menulis ini bisa jadi kebablasan dan malah nantinya nggak bisa difilmkan,” jelas Joko.
Mengenai film yang dirpoduserinya ini, Nia punya komentar sendiri, “Gigolo adalah profesi underground dan non-formal. Itu di luar normal dan jadi menarik untuk film karena underground activity-nya itulah yang jarang bisa dilihat orang lain.”
Film ini selain dibintangi oleh Tora Sudiro, Lukman Sardi dan Aming juga memperkenalkan aktris pendatang baru Sandra Dewi. Juga melibatkan aktor dan aktris kawakan lainnya seperti Rudy Wowor, Tio Pakusadewo, Ira Maya Sopha, Ria Irawan, Tino Saroenggalo; serta pemeran pembantu lainnya seperti Melissa Karim, Ruben Elishama dan Imelda Taurine yang juga melengkapi kehebohan cerita yang ditawarkan di Quickie Express.
Quickie Express adalah sebuah film dark comedy yang penuh sindiran, bagaikan menggigit sepotong pizza yang terlihat lezat, tetapi ternyata alot bagaikan ban karet.
Pengumuman!
Terhitung sejak Minggu (11/11), aku udah nggak alergi seafood lagi. Wah, senangnya. Setelah bertahun-tahun menghindari makan kepiting, udang, dan semua sodara-sodaranya (kecuali ikan), akhirnya hari Minggu kemarin aku berhasil mengalahkannya. Hihihi, senangnya…
Ceritanya, Sabtu (10/11) lalu kan aku ke Balikpapan. Nah, begitu nyampe, aku nanya nih sama pak supir yang bawa kita (Baca: rombongan wartawan) apa makanan khas dari Balikpapan. Eh, si pak supir bilang gini, “Makanan laut, mbak. Kayak kepiting, udang, cumi, ikan.”
Busettt!!! Itu mah musuh bebuyutan. Kalo nggak salah, terakhir aku memakannya 2,5 tahun yang lalu. Itu juga yang olahan. Maksudnya, dalam bentuk bubur kepiting. Hasilnya? Besok paginya wajahku bengkak-bengkak kegatelan. Hai kamu yang mengajakku makan bubur kepiting, tanggung jawab! Hihihi.
Nah, keesokan harinya, kita diajak makan siang, tepatnya last lunch in Balikpapan. Diajak ke mana? Ya, tepat sekali. Kita diajak makan ke restoran yang bernama: Kepiting Saos “KENARI”. Tempatnya sih asik. Nggak ajuh dari Airport Sepinggan. Paling cuma 5-10 menit dari airport. Dan tentu aja nggak pake macet, karena Balikpapan bukan Jakarta yang najis, amit-amit macetnya (curhat mode on).
Terang aja aku mulai stress. Buset, kalo yang disedian seafood semua, kayaknya aku mesti nunggu jatah makan di pesawat deh.
I : Buka pintu restoran, masuk, dan duduk.
II: Buka buku menu penuh dengan rasa deg-degan
III: Thanks God! Ada menu ayam goreng. Satu-satunya menu yang “halal” buatku. Mengingat, dalam list menu hidupku, kepiting, udang, cumi, dan sodara-sodaranya adalah makanan “haram” dan dilarang oleh antibodi tubuhku. Hiksss…
IV: Order ayam goreng tepung
V:Pesanan datang. Duh, sayang nggak ada potonya, jadi aku deskripsiin aja ya. Jadi, di meja panjang itu ada 13 orang wartawan dan 3 orang pihak Bakrie (Baca: yang traktir kita makan tentunya). Kita duduk berhadap-hadapan. Dan di meja, mulai berdatangan kepiting rebus, kepiting goreng kering, kepiting saos tiram, cumi goreng, udang goreng eh tumis deh. Kepiting=7 piring besar (lebih mirip tampah ato nampan menurutku). Cumi=3 ato 4 piring. Udang=4 piring. Sawi ditumis dan kangkung ditumis ada beberapa piringlah (nggak ngitung). Sisanya? Satu piring ayam goreng tepungku! Kaum minoritas. Can you imagine? Sitting surrounding by something that you cannot eat? Nangis bombay.
VI : Aku berdoa dan mulai memakan ayam goreng tepung yang tak seberapa itu. Tetap aja, makanan mereka jauh lebih enak dari apa yang ada di hadapanku saat itu. Jijay!
VII: Mulai tergoda. Apalagi mereka pada bilang gini, “Li, lu mesti mulai belajar ngelawan. Makan dikit aja dulu. Gitu cara ngatasin alergi.” Aku jawab, “Lu sih enak ngomong. Ntar kalo gatel-gatel, nggak tahan kalo nggak digaruk. Duh, bisa rusak nih kulit. Hiks…”
VIII: Godaan semakin besar.
IX: Nggak kuat iman.
X : Akhirnya si kepiting saos tiram ku embat sodara-sodara! Sa bodo teinglah kalo alergi. Paling tinggal makan incidal. Ntar di airport nyari incidal aja.
XI : Dan semua teman-temanku itu tertawa: Ha ha ha ha. Sambil ngomong, “Gak kuat iman nih ye…”
Wah mereka belum tau aja. Sebelum makan itu kepiting aku doa peperangan dalam hati. Sambil berkata, “Tuhan, bilur-bilur Mu menyembuhkan aku.” Trus sambil bernyanyi-nyanyi dalam hati, itu loh lagunya Pak Niko yang baru yang judulnya “Hadirat Mu membawa kesembuhan”.
Abis makan, mereka pada heran, “Kok belum gatel-gatel, Li?” Huh pertanyaannya itu loh. Seolah-olah mendoakan ku supaya alergi dan menggaruk-garuk bak monyet di Ragunan. “Gak bakal!” teriakku.
Padahal dalam hati, aku mulai goyah iman. Duh, biasanya sih beberapa jam setelah makan nih. Nah, perkiraan ku (pake dikira-kira pula!) mungkin nyampe Jakarta baru gatel-gatel. Duh, kacau nih. Soalnya, aku kan belum kebaktian hari itu. Rencananya, begitu nyampe Jakarta, aku langsung ke Gereja.
Begitu nyampe Jakarta, tepatnya terbangun setelah tidur kebo dua jam di pesawat, aku langsung memeriksa wajahku, tangan dan kakiku. Apakah udah mulai bentol-bentol? Ternyata tidak sodara-sodara. Haleluya!
Malem, abis kebaktian, aku sebenarnya masih was-was. Soalnya, ini kali pertama setelah 2,5 tahun yang lalu bo’ makan kepiting. Ternyata nggak ada. “Ah, mungkin besok pagi,” pikirku dalam hati. Forgive me Lord. I was doubting You…
Besok paginya? Thanks God! Gak ada sama sekali!
Nah, buat fren-fren yang mau nraktir aku makan kepiting, udang, cumi dan sodara-sodaranya, aku mau bilang, “Yuuuukkkk!”
Jangan dikira, dari 13 orang rombongan wartawan yang berangkat ke Balikpapan Sabtu (10/11) kemarin, ada yang tau apa ibukota Kalimantan Timur. Hal ini diperoleh dari hasil percakapan jam 22.10 WITA. Nggak jelas, apa karena udah ngantuk, makanya tingkat kecerdasan kita mulai menurun. Ngaruh nggak sih?
“Balikpapan dong, Dit,” kataku kepada Dita (MetroTV) yang masih penasaran dengan ibukota Kalimantan Timur.
“Trus, Samarinda ibukotanya provinsi apa dong?” tanya Dita lagi.
“Kalimantan Selatan,” jawabku santai. “Nah, kalau Banjarmasin, ibukotanya provinsi apa?”
Waduh, kali ini aku mulai jiper. Mengingat si Ian Kasela (KAlimantan SELAtan), itu loh, vokalisnya grup band Radja kan berasal dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Nah lo!
Dengan santai, ku jawab aja,”Kalimantan Tengah.”
“Trus, kalau Palangkaraya ibukotanya provinsi apa?” tanya Dita lagi.
Duh, ini anak, ngetes kemampuan Geografi ku atau apaan sih! Sebenernya sih, jujur aja, aku juga mulai binun juga nih. Hahahaaa… Soalnya, udah abis stok provinsi Kalimantan yang ada di kepalaku. Tinggal, Pontianak, si ibukota Kalimantan Barat. Nggak lucu kan, kalau jawabannya Sarawak. Ngarang!
Trus, pertanyaan dialihkan ke mbak Jumi (KONTAN). Mengingat si embak ini udah tiga kali ke Balikpapan, sapa tau dia lebih cerdas dari kita. Hihii.
“Apa dong mbak?” tanyaku penasaran.
“Kayaknya Balikpapan deh,” jawabnya ragu-ragu.
Wadoh, nah lo! Ternyata intensitas kunjungan ke satu tempat tidak mempengaruhi tingkat kecerdasan dan pengetahuan juga nih.
Selanjutnya ke Eko (TEMPO).
“Apaan, Ko?” tanya Dita.
“Ntar gua tanya temen gua dulu ya,” kata Eko menyelamatkan diri.
Ternyata si Eko juga udah binun dari tadi. Huahahaa…
Kebetulan di acara itu, ada temennya Eko, anak TEMPO biro Balikpapan yang hadir. Nah, kebetulan juga, dia ini (aku nggak sempet nanya namanya siapa) adalah asli dari Kalimantan Timur. Jadi, nggak mungkin dong dia salah.
Setelah, berdiskusi singkat dengan temennya, Eko pun menggelar konferensi pers. “Jadi, teman-teman , ibukota Kalimantan Timur itu adalah Samarinda, bukan Balikpapan. Cuma, memang Balikpapan lebih berkembang daripada Samarinda,” Eko menjelaskan.
Secara serentak, semua menjawab, “O…o…o.”
Nah, udah jelas kan semuanya? Tapi menurutku, ok juga sih pembagiannya. Samarinda sebagai pusat pemerintahan dan Balikpapan sebagai pusat bisnis. Makanya, kantor Gubernur Kal-Tim, DPRD Kal-Tim, Polda Kal-Tim, semuanya ada di Samarinda. Tetapi, usaha-usaha swasta, semuanya ada di Balikpapan. Kayaknya Jakarta perlu meniru yang satu ini. Supaya, Jakarta nggak macet lagi. Gimana Bang Foke?
Balik lagi ke Samarinda, ternyata (kabarnya) airport di sana juga tak sebesar Sepinggan, Balikpapan. Sehingga, pesawat komersil sejenis Boeing 737 nggak bisa mendarat di sana, mau nggak mau mesti ke Sepinggan dan melanjutkan dengan pesawat kecil. Atau, bisa juga perjalanan darat yang bisa ditempuh sekitar 2,5 jam. Sayangnya, aku belum bisa ke sana, lain kali aja deh. Mengingat, perjalanan cuma satu hari.
Biar begitu, ada pengalaman menarik lagi nih pas di sana. Coba tebak? Aku berduet dengan Helena Indonesian Idol!!! Hihihiii… Senengnya.
Mau tau ceritanya? Begini ceritanya…
Alkisah… alah.
Jadi, si kelompok usaha Bakrie kan mau public preview bisnis propertinya di Balikpapan. Nah, malam Minggu itu, mereka bikin acara dinner gitu deh di pool side Novotel. Trus, karena kita juga termasuk tamu undangan (walaupun belum mampu beli satu unit pun propertinya), makanya kita ikutan duduk di meja bunder di antara para tetamu.
Ya, biasalah kalau di acara-acara begituan, mereka biasanya suka ngundang artis gitu deh. Dan malam itu, tibalah gilirannya Helena nyanyi. Dia nyanyiin lagunya Joy Tobing yang judulnya “Karena Cinta”. Sebagai penonton setia Indonesian Idol 1-4, tentu aja aku hafal liriknya. FYI, aku nonton langsung di Balai Sarbini loh mulai dari tahap awal, sampe grand final Joy Tobing jadi pemenang Indonesian Idol 1. Hehehee…
Mungkin, si Helena ngeliat kali ya aku ikut bernyanyi-nyanyi kecil, meningat saya adalah singer wanna be. Hihihii. Tiba-tiba, dari belakang, dia menarik tangan kananku dan mengajak ku menari ke panggung. Walah, baru beberapa jam di Balikpapan dah jadi artis, bo’! Huahahahaaa.
Awalnya sih malu juga, soalnya yang hadir itu buanyak, mulai dari walikota, kapolda, sampe direksinya Bakrieland Development. Buset dah. Untungnya, rasa malu ku nggak dibawa semua ke Balikpapan, sebagian masih ditinggal di Jakarta. So, hajar bae lah jreng!
“Dan bila aku berdiri, tegar, sampai hari ini, bukan karna kuat dan hebatku. Semua karena cinta, semua karena cinta. Tak mampu diriku, dapat berdiri tegak. Trima kasih cinta”
Dan semua yang hadir pun bertepuk tangan. Tentu aja, karena Helena, bukan yang duet sama doi. Narsis! Yah, lumayanlah. Udah bisa nyanyi bareng, ditepokin, dapat sun pipi kiri dan kanan, plus pin. Jangan lupa juga, difoto sama wartawan-wartawan ibukota (ya iyalah, temen eike semua!).