Feb
20
Filed Under (travel) by bajubiru on 20-02-2008

Nah, sekarang udah agak mendingan. Udah nggak migren alias sakit kepala sebelah kiri. Udah nggak pegel lagi. Yang jelas, aku nggak mesti melewati perjalanan-yang-mengocok-perut-dan-kepala. Mabok. Meskipun nggak muntah. Over all: Keren bgt!

Pdg9_2
Pdg7
Cuma nggak nyangka aja masih ada tempat di belahan bumi Indonesia Raya tercinta ini yang ok punya. Bagus bukan? Yah, klo hasil jepretan sih standar lah. Namanya juga pake kamera pocket. Yang jelas tidak mengurangi rasa keindahan, bukan?

Mari belajar Georgrafi.  Provinsi terbesar ke-4 di Pulau Sumatera ini punya banyak pulau-pulau kecil di sekitar pantai Baratnya. Nggak cuma Mentawai yang terkenal salah satu tempat terbaik di dunia untuk surfing. Tapi masih ada puluhan pulau-pulau kecil lain yang masih perawan.

Pdg3
Misalnya, Pulau Cubadak ini. Asli. Keren bin top bin bgt. Pasirnya putih. Jarak tempuh sekitar 1/2-1 jam naik kapal dari Painan, Pesisir Selatan.

Adalagi Pulau Mara, tempat penangkaran Siamang.Pdg10_1
Nah, yang satu ini benar-benar terisolasi. Oiya, di Pulau Cubadak, aku melepas penyu ke laut. Lucu bgt penyunya. Kbrnya, di sana, penyu pada didagangin. Telurnya pada dijual. Huh. Payahhh…

Hari terakhir, kita ke jembatan akar. Namanya aja udah jembatan akar. Udah jelas dong jembatan yang terbuat dari akar pohon. Bagus bgt…
Pdg4_1

Feb
14
Filed Under (life!) by bajubiru on 14-02-2008

Duh. Tiba-tiba pagi ini, Sabtu (15/2) dengan amat sangat mendadak, otak ku mengajakku me-review kembali mata kuliah komunikasi massa yang ku pelajari beberapa tahun yang lalu. Tentu aja oleh “yang terhormat” Hendra Harahap.

The key words are: Economy-Politics Media. Dan aku mengalaminya sendiri saat ini! Apes… I don’t know, may be it would be the other best birthday present for me. Walopun ulang tahun ku masih sembilan hari lagi. Hiks… Menyedihkan… Poor me…

Nah, waktu itu di mata kuliah komunkasi massa, si bang Hendra mengatakan kalau media tidak terlepas dari yang namanya aspek ekonomi dan politik. Sofni, let me know if i were wrong, ok!

Tentu aja, si media teuteup butuh duit. Buat biayain overhead, bayar gaji wartawan, staf, pegawai, dan tentu aja buat datangin profit. Ya iyalah, siapa juga yang usaha tapi nggak butuh untung? Meskipun demikian, adalah haram bagi media untuk menjadi “pelacur”. Baik “melacurkan” diri terhadap si empunya uang, maupun kepada penguasa (baca:pemerintah).

Sebab, salah satu fungsi media adalah kontrol sosial. Jd, siapapun yang ada di belakang sebuah media massa, fungsi kontrol sosial harus tetap terjaga. Hitam tetaplah hitam. Putih tetaplah putih. Karena media adalah mata bagi para pembaca dan penontonnya. Telinga bagi pendengarnya.

Nah, edisi Februari kemarin, atas titah sang “dewa” (baca:pemilik modal), kita (baca:editorial) diminta, lebih tepatnya disuruh!, untuk menulis soal the best universities in Indonesia.

Pertanyaan pertama yang terlintas di benakku adalah: how come? We are a business magazine! Tp, whateverlah. Inilah nasib menjadi kuli. Yang jelas, aku udah bisa baca. Of course, the hidden agenda. I know, the owner of this magazine has a university. He must be want to promote his university. According to Pak Priyo Suprobo, ITS Rector, the guy whom i talked to a few months ago, and the guy who wrote an opinion about our magazine in KOMPAS today, January to February are the best time to make money.

Nggak heran klo majalah itu, the truth is our magazine, mempromosikan abis-abisan universitas-yang-tidak-boleh-disebutkan-namanya itu. And the most important thing is i am not the one who made the list.

Yes, i did the interviews. I interviewed Rector UI, ITS and UPH. I chose UI because according to many researches, UI is still the best in Indonesia right now. Why ITS? Because i want something different for this section. Why UPH? You don’t have to ask me about this thing. I just have to do this. It was an order!–> This is the part i called economy-politics media.

This is my life. I have to do something i don’t want to do. Poor me…
Pesanku cuma satu, jangan percaya sepenuhnya sama apa yang ditulis atau disajikan media. Believe in God!

Btw, tomorrow i will go to Padang, West Sumatera. Hopefully, it would be one of my best trip. See u till Wednesday…

Next: heading for Padang

Feb
14
Filed Under (published articles) by bajubiru on 14-02-2008

KOMPAS Jumat, 15 Februari 2008 | 03:13 WIB

Oleh: Priyo Suprobo

Hasil pemeringkatan perguruan tinggi negeri dan perguruan tinggi swasta yang dimuat majalah Globe Asia amat mengagetkan.

Pada
edisi Februari 2008, majalah ini menempatkan Universitas Pelita Harapan
(UPH)—yang sekelompok dengan majalah itu— sebagai ranking kedua di
bawah UI mengalahkan perguruan tinggi negeri (PTN) dan perguruan tinggi
swasta (PTS) terkemuka di Indonesia.

Contoh, total score UPH
(356) ”diposisikan” mengalahkan lima PTN besar seperti UGM (338), ITB
(296), IPB (283), Unair (279), dan ITS (258). Begitu pula terhadap PTS
terkemuka seperti Trisakti (263), Atma Jaya (243), Unpar (230), dan
Petra (151).

Sebagai seorang akreditor perguruan tinggi yang
mengakreditasi PTN-PTS, terasa ada keanehan dalam ”pemosisian” ranking
oleh Globe Asia.

Keanehan pertama, Globe Asia menggunakan aneka
kriteria yang meski ”mirip” lembaga pemeringkat internasional, tetapi
memberi ”bobot” berbeda. Contoh, bobot fasilitas kampus 16 persen,
tetapi bobot kualitas staf akademik (dosen) 9 persen. Lebih parah lagi,
kualitas riset dibobot 7 persen.

Keanehan kedua, subkriteria fasilitas kampus tidak memasukkan kapasitas bandwidth sebagaimana standar akreditasi.

Keanehan ketiga, sistem membandingkan yang tidak berbasis kaidah logis dasar apple to apple (kesederajatan).

Standar akreditasi

Menilik
standar akreditasi, ada akreditasi dalam negeri (Dikti), regional asia
(Asia University Network), maupun akreditasi pemeringkatan dunia (THES,
Jiao Tong, Webbo). Akreditasi dalam negeri, regional, dan dunia
menggunakan kriteria dan key performance indicator (KPI) yang ”logis
secara akademis”. Artinya, meski bervariasi, kriteria itu benar-benar
menunjukkan ”jaminan mutu” dari input, proses, sarana pendukung, hingga
outcome. Dari kriteria dan subkriteria itu, tidak ada yang hanya
menunjukkan keunggulan ”kemewahan lifestyle”. Demikian juga
membandingkan universitas dengan institut, yang nature kriterianya
pasti berbeda.

Maka, ranking yang dilakukan Globe Asia
dikhawatirkan menjadi ”penipuan” informasi yang bubble kepada publik.
Penipuan ini menjadi meluas saat dirilis begitu saja oleh sebuah koran
sore.

Mungkin fenomena ini adalah akibat komersialisasi
pendidikan di Indonesia. Pendidikan, khususnya pendidikan tinggi, telah
menjadi komoditas ”empuk” untuk menaikkan status sosial pemilik guna
meraup keuntungan besar. Di tangan para penyulap bisnis, pendidikan
dikelola dengan citra lifestyle, bukan dengan citra qualistyle (gaya
kualitas). Mereka menyusun ranking sesuai kekuatan yang dimiliki,
tetapi menyembunyikan kelemahan yang seharusnya menjadi kriteria
akreditasi. Akibatnya, segala cara akan dilakukan agar target meraih
mahasiswa selama periode marketing tiap awal tahun (Februari-Juli)
dicapai dengan memuaskan.

Mengganggu PTN-PTS

Bubble
informasi yang dilakukan Globe Asia untuk menaikkan citra UPH itu
secara langsung akan mengganggu citra beberapa PTN maupun PTS yang
dikelola dengan kaidah jaminan mutu yang baik. Sebagai gambaran, sistem
Webbo Rank (Juli 2007), yang merupakan sistem akreditasi dunia pada
penekanan kriteria kerapian manajemen data, menempatkan PTS terkenal di
kawasan timur, Universitas Petra, pada ranking ke-49 se-Asia Tenggara,
UGM dan ITB ranking ke-12 dan 13. Padahal, Webbo Rank adalah sistem
dunia yang dianggap ”paling sederhana”.

Karena itu, sebagai
regulator, pemerintah bersama masyarakat sudah saatnya secara aktif
mengawasi pola komersialisasi pendidikan yang dampaknya menggunakan
cara-cara tidak fair dalam merekrut mahasiswa.

Hasil kerja Badan
Akreditasi Nasional (BAN) yang membuat 15 standar penilaian, antara
lain tata kelola kepemimpinan, fasilitas lab, alumni, jumlah guru besar
(tidak perlu harus expert asing), rasio dosen-mahasiswa, prestasi
mahasiswa, hingga rasio antara jumlah peminat dengan yang diterima,
merupakan kriteria yang amat lengkap untuk menunjukkan daya saing suatu
perguruan tinggi.

Daya saing pendidikan tinggi sebagaimana
diamanatkan dalam konsep strategis Higher Education Long Term Strategy
(HELTS) Dikti harus dicapai dengan sistem penjaminan mutu yang benar
sehingga hasilnya bisa dilihat, salah satunya dengan kriteria
akreditasi yang logis secara akademis, bukan logis secara bisnis.

Priyo Suprobo Rektor ITS; Tim Akreditasi PT-Ditjen Dikti Depdiknas