Aku tak selalu mendapatkan apa yang aku sukai. Karenanya, aku selalu belajar untuk menyukai apa yang telah aku dapatkan…
Apakah kau punya terminologi yang tepat untuk insomnia?
Atau, apakah kau tau, tergolong jenis penyakit apakah: tidak bisa tidur itu?
Kalau kau tau, baiklah, tak usah beritahu aku.
Bagaimana dengan penyakit susah tidur di ruangan baru, yang belum penah kau kunjungi sebelumnya?
Apakah kau tau jenis penyakit apa itu?
Aku pun tak tau.
Tapi yang jelas penyakit ini selalu menghampiriku tiap kali aku dengan terpaksa harus menginap di tempat lain yang bukan kamarku, apalagi rumahku (rumah orang tuaku lebih tepatnya).
Minggu lalu, karena alasan pekerjaan, aku harus menginap di Fullerton Hotel, Singapore.
Aku tak peduli walau kata orang, hotel tempat ku menginap selama empat hari itu adalah salah satu hotel termahal di sana.
Aku juga tak peduli walau rate per malamnya jika dirupiahkan setara dengan Rp5 juta.
Aku lebih tak peduli dengan desain interior dan arstiektur kolonialnya.
Karena dia tak mampu membuatku tidur bermalam-malam.
Kampungan! Memang, itulah aku.
Yang bisa membuatku tertidur hanya kamar bercat kuning pucat itu.
Yang bisa membuatku tertidur hanya kamar berukuran 3 x 3 meter itu.
Yang bisa membuatku tertidur hanya kasur berwarna pink itu.
Yang bisa membuatku tertidur lelap hanya kamarku.
Ya, hanya kamarku…
Maryamah Karpov. Aku sendiri nggak tau siapa dia. Yang pasti Andrea Hirata pernah menyebut nama “Maryamah” di novel keduanya: Sang Pemimpi. Maryamah itu tetangganya di Belitong. Aku mesti menunggu sampai si Ikal itu meluncurkan novel ke-4-nya yang diberi judul nama bercita rasa Rusia itu. But that’s not the point.
The point is: Aku mendapatkan pencerahan!
Selama hampir seminggu kemarin aku menghabiskan waktuku untuk membaca novel-novel dan buku-buku yang belum sempat ku baca. Diantaranya: Tetralogi Laskar Pelangi. (Meskipun belum pas disebut tetra, karena baru 3 novel yg beredar di pasaran).
Aku tercerahkan! Sampai-sampai aku menganggap, sangat bodoh bila sudah membaca novelnya atau menonton filmnya tapi tidak merasakan apapun. Aku tidak memaksa untuk tiba pada efek behavioral (baca: perubahan prilaku). Cukuplah pada efek afektif ataupun kognitif. Sepeti Kili, temanku yang tak henti-hentinya meneteskan air mata ketika nonton film Laksar Pelangi kemarin. Huhuhuhuuu…
Membaca novelnya (Aku sarankan, bacalah novelnya. Kalau tak ingin menonton filnmnya, tak masalah. Paling hanya menurunkan target penerimaan Mira Lesmana dan Riri Riza, sang produser. Itu pun aku jamin takkan memberikan pengaruh yang signifikan) membuatku seperti memasuki sebuah mesin waktu yang membawaku kembali ke masa-masa SMA ku.
Tidak bermaksud untuk mencoba menyama-nyamakan jalan cerita, tapi sepertinya setelah membacanya, aku dipaksa untuk ber-rendezvous ria.
Kalau Andrea Hirata punya guru kesayangan dan kebanggaan bernama Ibu Muslimah. Si Ikal itu juga punya Pak Balia, guru sastra di SMA Bukan Main yang menantangnya (dan Arai) untuk menjejakkan kaki di altar suci Universitas Sorbonne di Paris, Prancis.
Aku punya (salah satu) guru yang tak ku sukai. Sangking tak sukanya, aku lupa namanya. Entahlah. Mungkin sangking bencinya otak ku pun enggan menyimpan namanya ke dalam memoriku.
Yang pasti, si ibu guru bahasa inggrisku itu amat sangat menyebalkan. Dia selalu menyuruhku membaca artikel-artikel yang ada di buku pelajaran di depan kelas. Teman-temanku selalu menduga kalau dia amat sangat menyayangi ku.
Kau tau kan? Kalau seorang guru menyukai salah satu muridnya, sudah pasti murid itulah yang namanya selalu tersimpan di memori otaknya. Dan jangan heran ketika otaknya memerintahkan untuk menyebut satu nama muridnya, maka, nama dia yang disukai itu namanya pasti diperintahkan untuk keluar dari mulutnya.
Itulah aku. Teman-temanku mengira, aku pasti diberi nilai terbaik untuk pelajaran bahasa inggris di sekolah. Mereka salah! Aku jarang dapat nilai bagus. Bahkan nggak jarang aku dapat nilai 5. (Waktu itu) Aku nggak ngerti kenapa. Padahal, kemampuan bahasa inggrisku nggak jelek-jelek amat. Aku masih bisa dapat nilai bagus dari sub-pelajaran bahasa inggris lain seperti: grammar, reading comprehension, composition, dan listening. Tapi entah kenapa untuk general english, aku nggak pernah dapat nilai yang manusiawi. Huh!
Satu kali, dia menyuruhku (lagi-lagi) membaca artikel yang ada di buku. Aku berdiri di samping mejaku dan membaca artikel itu dengan suara toa-ku. Dia bilang, dia senang menyuruhku membaca, karena suaraku jelas, lugas dan tegas. Tapi aku nggak tau persis apa pronounciation-ku bagus kala itu. Entahlah. Yang pasti dia menyukaiku dalam hal ini.
“Uli”, katanya melanjutkan, “Satu saat nanti kau akan menjadi reporter yang melaporkan langsung dari London.” Kau tau? Kalimatnya itu tersimpan di kepalaku, di memori otakku yang terdepan. Kau bisa bayangkan bukan. Namanya saja aku tak ingat, tapi kalimat-kalimatnya masih ku ingat.
Ku ingat, bukan karena aku menanggapnya sebagai nubuatan, apalagi doa. Tapi penghinaan! FYI, dulu aku hanya berprinsip, segala yang keluar daripadanya, termasuk nilai general english ku tentunya, adalah penghinaan! Karena, waktu itu, aku bermimpi untuk menjadi insinyur. Kayak si Doel Anak Sekolahan. Bukan menjadi reporter yang melaporkan langsung dari London!
Aku bermimpi untuk kuliah di Fakultas Teknik jurusan Kimia/TGP di Universitas Indonesia. Apa daya? Tangan tak sampai. Aku dipaksa oleh keadaan (baca: panitia UMPTN tahun 1999) untuk harus menerima tempatku di jurusan Ilmu Komunikasi FISIP USU. Tempat yang amat sangat terpaksa ku ambil karena alasan: taat pada orang tua.
Tapi aku tak menyesalinya sekarang. Nubuatan si-guru-bahasa-inggris-yang-aku-lupa-namanya terjadi! Aku menjadi seorang reporter. Hanya saja tidak melaporkan langsung dari London. Tapi aku melaporkan dari Jerman dan Austria. Tempat yang ku datangi empat bulan yang lalu untuk tulisanku.
Selesai membaca buku Andrea Hirata itu, aku langsung menghampiri papa yang siang itu sedang sibuk dengan tanaman-tanamannya. Aku duduk di teras kamarku dan papa sedang asik memindahkan kembang-kembangnya ke dalam pot-pot baru yang sudah diisi dengan media tanah.
Aku bilang, “Pa, dulu ada guru bahasa inggrisku yang pernah menubuatkan ku kalau suatu saat nanti aku akan menjadi reporter.” Ini rahasia, ah berlebihan, sebenarnya bukan rahasia. Ini hanya cerita masa lalu yang tak pernah ku ceritakan kepada papa atu siapapun. Karena menurutku kurang penting.
Papa menjawab singkat, “Temui dia, bilang kalau kau sekarang sudah jadi reporter.” Ah, papa. Orang yang mampu dan selalu membuatku terdiam dan mengerti.
Baiklah, nanti kalau aku pulang ke Medan, aku akan temui dia. Dia: Guru-bahasa-inggris-yang-aku-lupa namanya.