Dec
17
Filed Under (life!) by bajubiru on 17-12-2008

Perempuan muda itu marah. Wajahnya memerah. Tatapan matanya nanar. Dia tidak terima. Dia lelah. Dia bosan. Bosan dengan keadaan di sekelilingnya. Bosan dengan kenyataan yang terjadi yang kerap kali tidak sesuai dengan harapannya.

Perempuan muda itu hanya bisa menumpahkannya lewat berbaris-baris kata. Dia tak mampu berteriak walau dia marah. Dia tak mampu menangis, seakan air matanya habis dikuras kenyataan yang seringkali tak sesuai dengan asanya.

Perempuan muda itu termenung. Tangannya seakan tak mampu menopang ribuan kata-kata yang hendak keluar dari mulut harimaunya. Hatinya panas di tengah hujan deras. Dia seakan butuh sebongkah es untuk menyejukkan kembali hatinya yang sedang galau.

Perempuan muda itu kemudian bercerita. Namun bukan kepadamu. Dia bercerita kepadaku. Dia bercerita kepada hati kecilnya. Lalu, dia bertanya, “Kenapa?”

Perempuan muda itu terus saja bertanya. Dia bertanya tanpa pernah memberikan kesempatan kepada hati kecilnya untuk menjawab. Aneh. Perempuan muda itu memang aneh. Jadi kau tak perlu heran.

Perempuan muda itu hanya perlu tempat untuk mencurahkan kata-kata yang keluar dari hati dan pikirannya. Perempuan muda itu tak perlu jawaban dari hati kecilnya apalagi darimu.

Perempuan muda itu egois. Dia perlu belajar banyak tentang hidup. Dia harus mengerti bahwa tidak semua hal terjadi sesuai dengan keinginan hatinya yang congkak.

Perempuan muda itu (mungkin) perlu belajar darimu. Perempuan muda itu (harus) belajar bersama hati kecilnya. Belajar tentang hidup. Belajar tentang kenyataan.

Perempuan muda itu (mungkin) aku.

*The Lord is my rock and my fortress and my deliverer. In my distress I called upon the Lord, and cried out to my God. He heard my voice from His temple, and my cry entered His ears*

Dec
12
Filed Under (published articles) by bajubiru on 12-12-2008

Gelar sebagai orang terkaya Indonesia kini tidak lagi disandang oleh Aburizal Bakrie. Forbes mencatat kekayaan Menko Kesra yang memiliki kerajaan bisnis Grup Bakrie ini, berkurang banyak dibanding tahun 2007. Peringkat Aburizal Bakrie merosot dari nomor satu menjadi sembilan.

Majalah Fobes Asia seperti dilansir Jumat (12/12/2008) mencatat kekayaan Bakrie saat ini hanya sebesar US$ 850 juta yang menurun drastis hingga 84% dari tahun 2007 sebesar US$ 5,4 miliar. Kekayaannya ini juga jauh merosot dibanding tahun 2006 yang sebesar US$ 1,2 miliar.

Forbes Asia mencatat terjadi penurunan jumlah aset dari 40 orang terkaya di Indonesia dari semula US$ 40 miliar menjadi US$ 21 miliar. Penurunan ini seiring dengan anjloknya pasar global, turunnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 54% dibanding tahun lalu, dan melemahnya rupiah.

14 konglomerat tercatat mengalami penurunan aset hingga lebih dari separuhnya seperti Aburizal Bakrie dan Eka Tjipta Widjaja dan hanya dua yang mengalami pertambahan aset. Pendatang baru di daftar kali ini adalah Low Tuck Kwong yang sukses melakulan go public atas perusahaannya PT Bayan Resources Tbk.

Sementara posisi nomor satu kembali dipegang oleh Sukanto Tanoto dengan kekayaan US$ 2,7 miliar. Sementara raja rokok Rahman Halim yang meninggal pada Juli lalu, kini diwakili oleh lima saudara lainnya dibawah bendera Wonowidjojo.

Berikut daftar 40 orang terkaya Indonesia:

1. Sukanto Tanoto US$ 2 miliar
2. R. Budi Hartono US$ 1,720 miliar
3. Michael Hartono US$ 1,680 miliar
4. Putera Sampoerna US$ 1,500 miliar
5. Martua Sitorus US$ 1,300 miliar
6. Peter Sondakh US$ 1,050 miliar
7. Eddy William Katuari US$ 1,040 miliar
8. Eka Tjipta Widjaja US$ 950 juta
9. Aburizal Bakrie US$ 850 juta
10. Murdaya Poo US$ 825 juta
11. Anthoni Salim US$ 690 juta
12. Wonowidjojo family US$ 640 juta
13. Chairul Tanjung US$ 625 juta
14. Trihatma Haliman US$ 470 Juta
15. Arifin Panigoro US$ 430 juta
16. Sjamsul Nursalim US$ 425 juta
17. Mochtar Riady US$ 420 juta
18. Harjo Sutanto US$ 340 juta
19. Husein Djojonegoro US$ 300 juta
20. Soegiharto Sosrodjojo US$ 275 juta
21. Aksa Mahmud US$ 260 juta
22. Hary Tanoesoedibjo US$ 240 juta
23. Garibaldi Thohir US$ 216 juta
24. Theodore Rachmat US$ 215 juta
25. Low Tuck Kwong US$ 214 juta
26. Edwin Soeryadjaya US$ 210 juta
27. Prajogo Pangestu US$ 200 juta
28. Paulus Tumewu US$ 190 juta
29. Jusuf Kalla US$ 185 juta
30. Tan Kian US$ 175 juta
31. Sutanto Djuhar US$ 165 juta
32. Kartini Muljadi US$ 130 juta
33. Soegiarto Adikoesoemo US$ 120 juta
34. Alim Markus US$ 115 juta
35. George & Sjakon Tahija US$ 110 juta
36. Kris Wiluan US$ 105 juta
37. Jakob Oetama US$ 80 juta
38. Hadi Surya US$ 70 juta
39. Eka Tjandranegara US$ 60 juta
40. Ciputra US$ 55 juta

Dec
03
Filed Under (life!) by bajubiru on 03-12-2008

“Keledai saja tidak mau jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya.”

(Nangis dulu) And then, jump into conclusion: Am I that stupid? Of course not! I am just careless. Just like my mom always said to me.

Akhir november lalu, aku baru saja memasukkan scholarship application-ku. Harapannya sih, mudah-mudahan ga ada masalah. 

Beberapa hari kemudian, out of nowhere, kepengen aja nelpon Ririn. Secara, kita sama2 melamar di lembaga beasiswa yang sama.

Uul: “Lu ambil apa Rin?”

Ririn: “Hubungan diplomatik”

         ”Lo ambil apa Ul?”

Uul: (dengan pede-nya menjawab)

      ”MBA Media”

Ririn: “Uul, mereka ga mau biayain program MBA!”

(Backsound: Petir menyambar-nyambar dengan dahsyatnya. Uul pun meratapi ke-keledai-annya)

Since I am a journalist (*halah*), I have to curious. Akhirnya, sodara-sodara, aku buka2 lagi seluruh terms and condition-nya. Hasilnya? Eng ing eng… Jreng jreng jreng: Bener bo’! Mereka ga mau support kalo program MBA. Huhuhuuuu…

Nah, untung aja, waktu aku submit application-nya mereka reply satu email yang isinya semacam password buat jaga2. Sapa tau, ada enquiries yang perlu direvisi. Ternyata, bermanfaat juga akhirnya buatku.

Akhirnya, aku harus nyari2 sekolah lagi yang programnya cocok denganku. Dan dapet! Uul gitu loh. (*sombong mode on*) Trus, aku telpon mereka, dan mereka bersedia as long as the revision nggak banyak. Ya enggak banyak juga. Cuma revisi program dan universitas aja kok. Email pun terkirim.

Mission accomplished (kayaknya sih gitu).

Dua hari kemudian, out of nowhere, aku tiba2 tersadar. Ternyata sodara2, program di personal statement ku belum diubah! Hua…huhuhuu… (*cengeng mode on*).

Dengan penuh keberanian (sebenernya ga berani2 amat sih, buktinya aku cuma berani kirim email ke mereka, ga berani nelpon), aku kirim email kembali. Isinya penuh dengan rasa penyesalan dan permohonan2 agar enquiries-nya boleh direvisi (lagi). Dan tentu aja dengan personal statement yang baru. Jadi, aku minta supaya mereka bersedia me-replace aja.

Email terkirim…

Beberapa jam kemudian, mereka ngebales: “Another revision?” Aku yakin, waktu mereka reply emailku, pasti disertai dengan sumpah serapah: “Duh, ini anak nambah2in kerjaan gw aja. Dia kira kerjaan gw cuma revisi application-nya dia!”

Kalaupun demikian: AKU TERIMA!!!

Then, I reply again and said: It would be my last revision. There will be no more. I promise you. (Mirip lirik lagu apa gitu ya?)

Untungnya, mereka baik sekali dan mereka bilang permohonan revisiku udah dikirim ke Inggris dan mudah2an mereka bersedia. Huhuhuuu… Oh my God. How stupid I am! Ga kebayang, kalo aku gagal sebelum perang dimulai!

“Keledai saja tidak mau jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya.”

Ini bukan kali pertama aku melakukan kecerobohan dalam hidup. Beberapa tahun yang lalu, dua tahun yang lalu kayaknya. Aku pernah melamar beasiswa S2 lewat program The Scholar Indonesia yg ditayangin di Metro TV.

Seribu pelamar, diseleksi jadi 100, kemudian, 40, kemudian 20, dan terakhir 10 (penerima beasiswa MM UI). Aku cuma sampai tahap 20 besar. Itu sebabnya kau tak kan melihatku di acara itu. Hihihiii…

Mau tau ketololan apa yg ku lakukan?

Begini ceritanya: Di tahap 20 besar, aku diinterview sm wakil ketua program MM UI. Kalo ga salah namanya pak Irawan siapaaaa gitu deh.

Irawan: “Uli, kalau kamu lulus masuk 20 besar, kamu mau ambil program apa?”

Uli: (Entah karena tolol apa lugu, aku menjawab dengan penuh keyakinan)

     ”Komunikasi Massa, Pak”

Irawan: (Pengen tertawa terbahak-bahak, sambil guling2, cuma ga tega, kemudian menjawab)

          “Uli, program yang ditawarkan itu Magister Management. Jadi, adanya Management SDM, Keuanga, dll. Tidak ada Komunikasi”

Uli: (Seanadinya bumi terbelah saat itu, aku pasti akan mencemplungkan diri untuk masuk ke dalamnya)

Hasilnya? Kau tak perlu tanya. *Tidak lulus!*

“Keledai saja tidak mau jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya.”

Dec
02
Filed Under (life!) by bajubiru on 02-12-2008

First,
I just realized that i don’t have any out-standing non-academic achievement. Actually, both academic and non-academic achievements. Hiks…

Second,
I was realized that i still careless like a few years ago. Hiks…

Third,
I cannot understand why so many people keep questioning why should I trying that hard to get a scholarship? (Actually, I wasn’t trying that hard guys. Hihiii…)

Fourth,
I still can’t understand, what’s wrong with my job? What’s wrong with the occupation I choose? Did I ever ask for your money?

Fifth,
I can’t understand why most of my relatives keep asking me, when will I get married? Who is my boy friend? I can’t understand why do those kind of questions keep come up each time I come to a family gathering (Baca: kumpul2 keluarga). Hey man, I’m still 26! What’s wrong with that?

Sixth,
I don’t know why it’s so hard to get those two books.

Seventh,
I do understand that God had made everything beautiful in his time.
Thanks God.

*tulisan ini dibuat ketika hati sedang galau*